Vila Botani Dan Curug Putri Pelangi, Indah!

Liburan kali ini asyik banget deh rasanya. Pertama kalinya jalan jauh ke luar kota bawa motor. Pokoknya setelah ada Diana, saya menolak diajak jalan agak jauhan dikit kalau naiknya motor. Sampai-sampai pulang ke rumah (simbahnya Diana) aja males banget. Padahal dulu kerja kuat lho pulang pergi Cikarang – Jakarta, 2 hingga 3 jam sekali jalan. Ada Diana jadi alasan supaya simbahnya aja yang maen ke rumah saya kalau kangen.

Persiapan liburan ini juga nggak ada. Sehari sebelum berangkat juga masih galau antara mau ke Situ Gunung, Cirebon, atau jadi ke Bogor. Dua yang disebut pertama saya agak males, soalnya udah pernah. Tapi ke Bogor juga awang-awangen, karena suami pengennya bawa motor. Saya pengennya naik kereta. Yowes, akhirnya disepakati ke Vila Botani di lereng Gunung Salak, naik kereta. Senanglah hati. Mari liburan.

Pas mau parkir motor di Stasiun Pasar Minggu, lho ke mana parkirannya, kok ditutup? Kayak segelan gitu. Saya tanya petugas, mereka bilang parkiran sekarang nggak bisa 24 jam, kalau mau ke Tanjung Barat. Ya sudah saya mengarah ke sana. Rupanya macet total, ada acara ulang tahun Moncong Putih. Ya sudah, bablas saja ke Stasiun Lenteng Agung. Sama saja, sami mawon. Kayaknya emang semua parkiran motor di Jakarta nggak bisa dititipi motor nginep. Ya sudah, manut suami kalau gitu, bawa motor sampai lokasi.

Martabak Kiki Bogor

Ada Diana, ya nggak bisa gas pol. Lagian Kota Depok dan Kota Bogor beberapa titik juga macet. Berhenti buat makan dulu di Martabak Kiki. Lumayan istirahatnya, satu setengah jaman. Lanjut lagi, dan sampailah di Vila Botani bawa motor dari Jakarta. Kalau dihitung totalnya mungkin ada 60an kilometer kali ya. Tapi karena padet dan macet di beberapa titik, ya kesannya jauh. Juga waktu naik sampai kaki gunungnya dengan motor matic, plus jalanan yang (masih) rusak, ya jadinya lumayan lama.

Kami nginep di rumah Kenari, Vila Botani. Kayaknya malam ini cuma ada saya, suami dan Diana di sini. Kalau malam tahun baru kemarin ramai banget, kata Pak Jai, penjaga vila. Dan sore itu kami langsung mengeluarkan 3 kasur ke teras belakang buat lihat pemandangan kota di kejauhan. Batang-batang pohon tinggi sedikit jadi penghalang buat pemandangan kota, tapi jadi pemandangan tersendiri yang indah. Bersyukur banget hujan baru turun setelah kami sampai di vila, bukan tadi saat kami menanjak naik.

Vila Botani, Gunung Salak

Brrrrr. Udara dingin pegunungan memaksa saya menggunakan kembali jaket setelah berganti baju. Saya memilih merebus air untuk membuat kopi. Pas untuk teman makan martabak yang tadi saya bungkus dari Martabak Kiki. Untuk makan malam dan sarapan, kami memilih untuk memesan via Pak Jai. Pas, rintik hujan berhenti saat kopi di gelas dan potongan terakhir martabak masuk ke dalam perut. Mari menjelajah…

Berkeliling Vila Botani

Kami jalan menuju hutan pinus. Jalanan becek membuat kami beberapa kali terpeleset jatuh. Pepohonan di Vila Botani ini semua dikasih label nama. Bahkan untuk pohon yang baru setinggi kurang dari 1 meterpun sudah ada label namanya. Beberapa petani terlihat mencari kayu bakar. Ada juga yang berjalan pulang dari mencari rumput untuk makanan ternak.

Saya tak berani berjalan terlalu jauh. Hanya sampai ujung kebun sayur mayur organik. Kata petani yang lewat sih, jalanan itu akan berujung di desa. Arah mereka pulang ke rumah. Tapi saya memilih berbalik arah. Semakin ke sana semakin becek dan nggak ada ojeg soalnya. :mrgreen:

Pemandangan dari kaki Gunung Salak

Lebih baik maen perosotan dan ayunan saja sama Diana di depan resepsionis Vila Botani. Diana belom berani main perosotan setinggi itu. Pengennya sih nyebur kolamnya, tapi lagi kotor saat itu. Nggak bisa dipakai. Balik aja akhirnya ke rumah Kenari. Masak air buat mandi. Nggak kuat, bo, mandi dengan dinginnya air alami kaki Gunung Salak ini.

Sehabis Maghrib, seorang anak perempuan mengantarkan nasi. Rasanya? Jauh melebihi ekspektasi saya. Saya pesan 2 porsi saja, dimasakin, lho sama Ibu Nur (kalau saya nggak salah denger nama yang disebut Pak Jai). Sayur gulai buncis dan tempe. Plus dua potong rendang. Juga peyek udang dan sambel. Nyam! Diana doyan banget makan sama rendang dan sayur buncisnya. Ini buncis organik kayaknya. Buncisnya beneran enak dan manis. Habis tak bersisa sedikitpun! Diana juga makannya habis banyak banget. Kayaknya laper banget dia, sarapan tadi cuma masuk 3 suap dan makan siang masuk mie ayam sedikit.

Pemandangan dari balkon Vila Botani

Sehabis makan, bunyi jangkrik sudah terdengar bersahut-sahutan. Saatnya merapatkan jaket, nih. Dinginnya ampun! Kami masih di luar sampai jam 9.30an. Habis itu udah nggak kuat. Masuk kamar! Diana lumayan harus adaptasi tidur di gunung. Selama ini kan tidurnya nggak pernah mau diselimutin. Meskipun kamar di rumah pakai AC, suhunya kan bisa disesuaiin. Lha ini saya pakai jaket aja masih kedinginan e.

Saya sengaja bawa baju lengan panjangnya Diana yang paling anget. Tapi kesabaran saya diuji saat Diana berulah, numpahin teh manis sampai bajunya basah kuyup. Satu, nggak mungkin kan ya, mandiin lagi malam-malam dengan air sedingin es di kamar mandi. Dua, saya musti ngepel lantai, kalau nggak mau kamar dikerubutin semut-semut ganas segede semut rang-rang yang emang ada di mana-mana di tanah Vila Botani ini. Ketiga, ini yang paling penting: itu tadi baju yang paling anget buat tidur tanpa selimut. Gggrrrrr!

Pemandangan dari balik jendela kamar

Ya sudah, pakai baju panjang biasa saja. Dan setelah sejam berjuang menidurkan, pules juga Diana tidurnya. Tinggal saya nih yang berjuang tidur, dingin bener, Bro! Jadilah ngetik tulisan ini di hp, daripada bengong. Bisa sih online. Sinyal Telkomsel, Indosat dan Bolt bagus-bagus aja, kok. Malah saya sempet ngetwit ngebuzz, ternyata jadwal saya ada hari Sabtu, 10 Januari kemarin. Diana juga sebelum tidur anteng sendiri buka-buka Youtube nonton Adit, Sopo dan Jarwo. Hehehe..

Saya set alarm jam 5 pagi buat lihat sunrise, lha dalah jam 3 pagi kok suara anjing melolong sahut-sahutan, saya kebangun lagi. Sampai pagi! Kopi lagi lah, kalau begini. Untung stoknya bawa banyak, hahahaha.

Sunrise Gunung Salak

Cari foto deh banyak-banyak, ya walopun nggak bagitu bagus juga, wong males gerak ke mana-mana, jadi ya dari satu spot doang di balkon belakang vila. Habis itu baru mandi dan sarapan.

Trekking mencari curug

Langsung ganti dengan setelan trekking, siap nyari air terjun yang katanya deket dari Vila Botani. Udah nyobain beberapa jalan, tetep nggak ketemu, ya udah deh balik lagi ke penginapan. Siap-siap buat pulang.

Pemandangan menuju curug putri pelangi

Nggak langsung pulang sih. Mampir dulu ke Curug Putri Pelangi. Jaraknya cuma 3 kilometer dari Vila Botani. Tapi jalanannya aduhai. Banyak tanjakan terjal, dengan kemiringan tinggi. Kalau mobil dibawa ke sini, usahakan yang dobel gardan. Ya mudah-mudahan ntar jalanan dialusin ya biar sedan juga bisa sampai. Ukuran jalan menurut saya sih, kalau sampai bilang sedan nggak bisa lewat kayak gini nih (sama parahnya kayak ke Gunung Padang dulu). Kalau cuma lubang kecil-kecil trus bagian bawah nggesrek nyangkut tanah atau batu dikit sih, saya nggak akan kasih warning. Untungnya pas saya lewat nggak hujan. Kebayang itu jalanan kalo hujan, licinnya kayak apa.

Air terjun Curug Putri Pelangi

Sampai air terjunnya, ya nggak spektakuler sampai segimananya gitu. Pengalaman di jalannya yang berharga buat saya. Sekitar air terjunnya juga udah ‘dimodifikasi‘ semua sama pengelolanya. Ya jadi indah sih, kalau yang dicari lokasi yang cantik buat foto-foto narsis.

Menuju Air Terjun Putri Pelangi Gunung Salak

Ngobrol sama mamang penjaga parkirnya, Curug Putri Pelangi ini baru dibuka dari tahun 2011. Lokasinya dibeli sama ‘bos dari Jakarta’ tahun 2010 , setelah pengelola lahan sebelumnya (dia sebut nama) bangkrut. Prediksi saya beberapa waktu yang akan datang sih bakalan ngeheitz ini obyek wisata.

Tangga Air Terjun Putri Pelangi

Buat sampai di air terjunnya, siapin napas yang cukup ya. Meski udah dibangunin tangga dari batu yang rapih dan artistik, tetep aja masih curam abis. Dan panjang! Ada lebih dari 100 meter jarak yang harus dilalui sampai ke air terjun Curug Putri Pelangi (dengan total 400 lebih anak tangga jika dihitung!). Lihat gambar di atas, tangga kayak gitu ada sekitar 10 kali lipat. Itupun belum yang paling curam, karena nggak mungkin foto-foto sama bayi pas posisi nanjak abes. Bayangin aja, kami harus bawa deuter 40L dan gendong bayi gendut sekira 20an kilogram. :mrgreen:

Berenang di Curug Putri Pelangi

Berenang di air terjunnya nggak bisa terlalu lama, airnya duingin banget. Baru sekitar 15 menit aja, bibir Diana langsung biru sebiru-birunya. Dikasih makan cuma mau dikit doang. Ya udah, kita sudahi aja berenangnya. Jadi palingan ya dua jam doang kami di air terjunnya.

Nanjak Curug Putri Pelangi

Puas banget jalan-jalan kali ini. Sampai rumah udah jam 17.00 aja, dengan pinggang yang rasanya mau patah. Tapi anehnya, lagi-lagi malam harinya saya dan suami tetep aja susah tidur dan tetep mantengin laptop ngetik kerjaan, hahaha. Tulisan ini makanya bisa cepet selesai kan?

Pengen jalan-jalan ke kaki Gunung Salak juga? Boleh kalau ada yang mau ditanya-tanyain ke saya.

Seperti biasa, mending jalannya bareng-bareng, biaya nginepnya bisa dibagi rame-rame. Atau, buat keluarga besar juga cocok. Kalau berdua kayak kami, ya jatohnya lumayan juga. Kecuali emang udah niat kayak kami. 😉

Tulisan ini sudah 12,890 kali dibaca

29 thoughts on “Vila Botani Dan Curug Putri Pelangi, Indah!

  1. Wah mbak seru banget kayanya liburannya di sana yah boleh juga nih dijadiin tujuan ‘kabur’ dari Jakarta 😀 Makasih udah share ya!

  2. Pokoknya selalu kagum selain liat tulisan kecenya itu lo, foto2 cuantiknya..bismillah siapa tau kpn dpat kamera bagus n bisa jepret2 cakep momet travelling 🙂

    1. Oiya, semua foto di atas pakai kamera HP yaaa, bukan SLR. Kami nggak bawa SLR waktu jalan-jalan ini.

  3. iih lucu banget penginapannya, mbak! unik banget. pengen nginep di sana ah suatu hari nanti. viewnya bagus pula. aduh! kalau kata orang sunda mah, pikabitaeun!

  4. Waaa tempatnya hommy bgt!
    Wah tempatnya gak jauh ya ternyata. Aku br tau ada tempat wisata sekece ini. Dijadwalin long weekend berikutnya aku mau mampir ahh..
    Tfs mak 🙂

    1. Untuk vila yang saya tempatin, Rp. 600.000,- per malam, Mak. Bisa diisi sampai dengan 20 orang.

      Kalau cuma berdua kayak kami, ya jatohnya lumayan, sih. 😉

    1. Kembali kasih, Mbak. Iya, lagi diajarin ngerasain tempat yang dingin. Seringnya ke tempat wisata yang panas, soalnya. 😉

  5. uwaaaaa asik banget vilanya,kebayang tidur siang di luar hahaha.hebat banget mak nggendong diana naik turun tangga,tapi terobati ya kl dha nyampe air terjunnya ^^

  6. Huwaaaaa.. menyenangkan sekali yaaaa.. itu ide kasur ditaruh di luar itu brillian hahaha.. liburan yg butuh fisik ekstra memang sellau asyik untuk diceritakan.

    Tunggu postingan punyaku yaaaa.. Hampir selesai nih..

    1. Wah, komennya nyangkut, jadi baru kebaca.

      Nggak tahu juga Kak, apa bisa sepanjang waktu.. Saya kontak ke penjaga villa buat pesen waktu itu, dan ke Curug Putri Pelangi juga langsung go-show, nggak direncanain dulu. 🙂

  7. Hello Mbak terima kasih untuk sharing pengalaman yang menarik. Boleh saya minta kontak penjaga villa? Kira kira apakah boleh saya bawa Satu guguk kecil kesayangan ke sana? Terima kasih

    1. Mbak, bisa hubungi Pak Jai, manajer 0888-1016075, 0812-88374348 atau 0857-36057043(WA).

      Soal guguk juga bisa langsung tanya Pak Jai yaaa… Makasih sudah mampir ke blog saya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *