Umur Hampir 9 Bulan, Ngoceh Makin Bawel

Diana Main Sama Bapak

Diana sudah mulai makin sering berkicau alias ngoceh. Berbeda dengan bayi lainnya yang selama ini saya dengar cerita dari ibu-ibu kalau kebanyakan di pagi hari (menjelang atau sehabis Subuh), Diana di malam hari sebelum tidur.

Ya panteslah, soalnya Diana ini ngikutin emak bapaknya yang tipe begadang malam, dan susah bangun pagi. Jadinya ya dia banyak waktu luang becandaan sama orangtuanya di malam hari.

Jam 21.00 sampai 23.00 ngoceh terus nggak ada berhentinya. Wawawa, tatata, apapapa, ezzezzzez, jejeje dan masih banyak lagi suara-suara yang nggak jelas dia nyebutin apa.

Oiya, dia baru berhenti (sebentar) dari ngocehnya kalau nemu sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam mulut untuk kemudian digigit-gigit.

Bicara soal menggigit, anak tetangga yang berumur hampir 1,5 tahun belum tumbuh giginya. Tentu saja muncul kekhawatiran dari neneknya, meski saya tak begitu tahu sikap orang tuanya. Bayi yang sama juga belum bisa berbicara, cenderung diam saja tidak pernah bersuara. Saya pikir ada yang salah dalam pola pengasuhannya.

Bayi berbicara juga perlu dilatih kan ya.. Itulah gunanya kita perlu ‘berkomunikasi’ dengannya sejak di dalam rahim sekalipun. Dengan mengelus-elus perut dan mengajaknya bercakap-cakap sejak ibu sedang hamil, berarti pondasi komunikasi sudah dimulai.

Meski bayi di masa awal hidupnya belum bisa merespon dengan kata-kata, bayi juga harus terus-menerus dilatih untuk (nantinya) berbicara dengan lancar. Terlambat berbicara pada bayi mungkin juga disebabkan si ibu jarang mengajaknya berkomunikasi. Komunikasi dengan bayi bisa melalui bermain sambil berbicara (sampai kadang kita capek ngomong sendiri), bernyanyi dan membacakan cerita.

Yang selalu saya lakukan adalah mengajaknya berbicara setiap waktu, sepanjang ada kesempatan, bahkan terkadang di saat bayi sedang tidur. Ke warung membeli sesuatu, saya gendong si bayi, sambil sepanjang jalan bercerita. Di rumah, sambil nungguin cucian selesai (di mesin cuci), saya ajak bayi bermain sambil bercerita. Menidurkan bayi sambil menggendong dan bernyanyi-pun dulu (saat masih kecil banget!) saya lakukan juga. Nggak heran kalau sekarang Diana ngocehnya juga dari waktu ke waktu nggak pernah berhenti.

Kalau kata-kata yang saya sebutkan dan (saya pikir) Diana tahu artinya contohnya ‘pegang’ dan ‘mboten’. Pegang sering saya ucapkan ketika Diana mandi, tangannya saya minta memegang pinggiran bak mandi supaya bisa duduk tegak dan air di bak tidak dipukul-pukul sampai muncrat semua. Kalau mboten, ya pastilah semua orang tua sering mengucapkan (tidak atau jangan dalam Bahasa Indonesia). Larangan orang tua kepada anak itu kan ada banyak sekali, saking mereka protektif dan nggak mau anaknya kenapa-napa, padahal di saat yang sama ketika kata tidak atau jangan diucapkan, kita sudah membatasi anak untuk belajar.

Yang baru saja saya pelajari adalah soal merespon ocehan bayi, seolah-olah kita mengerti dengan apa yang mereka ucapkan. Kalau saya paling-paling bilang ‘iya’ atau ‘enggih’ untuk merespon ocehan Diana.

Tulisan ini sudah 3,309 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *