Tentang Belajar Membaca

Diana sekarang umurnya 5 tahun dan sudah sekolah TK. TKnya Diana ini ngajarin muridnya membaca sejak TK A. Diana sih langsung saya masukin ke TK B, karena nanti pengennya dia sudah masuk SD di usia 6 tahun.

Meskipun SD negeri mensyaratkan usia minimal 7 tahun, nggak masalah lah sekolah di SD swasta kalau saya. Tapi Diananya malah maunya sekolah di SD negeri saja yang deket rumah. Ya nanti didiskusikan lagi. Karena SD negeri harus 7 tahun, apakah Diana sekolah TK jadi dua tahun, apakah nunggu sambil les ketrampilan lainnya seperti berenang dan nari/bela diri. (Anaknya mau silat, btw.)

Selain membaca, di sekolah juga diajarin menulis. Kalau berhitung belum sih, tapi justru Diana sudah belajar berhitung di rumah malah sudah bisa kurang-kurangan segala. Tambah-tambahan sederhana dua digit juga sudah mulai bisa sih, tapi belum intens belajarnya. 

Nah, Diana membaca di sekolah diajarin pakai buku Bacalah. Sekarang ini baru sampai buku kedua, itupun masih sering kebanyakan salah dan ketuker-tukernya. Waktu sebelum sekolah, Diana memang sama sekali belum saya ajarin membaca. Dia baru saya kenalkan dengan huruf saja. Rupanya, metode membaca dari buku Bacalah ini tidak mengajarkan membaca huruf per huruf, melainkan langsung suku-suku kata sederhana.

 

Sekarang ini Diana sudah sampai buku yang kedua. Sama ibu gurunya sudah langsung lanjut-lanjut aja, padahal kalau saya ulang lagi belajarnya di rumah, masih banyak yang lupa dan ketuker membacanya.

Jadi tugas emaknya juga lumayan, jangan sampai kecepetan udah dianggap bisa, padahal seharusnya belum sanggup sampai situ. Diana sih terkadang cerita juga kalau temannya ada yang sudah ganti buku selanjutnya. Ada yang sudah sampai halaman akhir buku kedua. Saya yang menenangkan, nggak papa, nggak harus cepet-cepet.

Saya belum punya pengalaman sebelumnya ngajarin anak membaca, jadi ya nggak bisa membandingkan manakah metode baca yang lebih mudah, antara memahami huruf dan bunyinya terlebih dahulu, atau langsung dengan suku kata seperti yang ada pada buku Bacalah ini.

Contoh awal belajar membaca di buku Bacalah, anak dikenalkan dengan suku kata BA dan CA. Jadi langsung ini BA. Ini CA. Baca. Jadi anak tidak diajar b-a BA c-a CA, gitu. Awalnya agak bingung juga sih, kenapa begitu. Tapi karena Diana sudah kenal huruf sebelum diajarin membaca metode Bacalah, kalau dia kesulitan atau lupa mengenali suku kata saya ya tetep ajari per huruf, misal m-a MA.

Sekitar 3 bulan sekolah ya baru sampai pertengahan buku kedua sih Diana berhasil belajar membacanya.

Begitu sudah bisa membaca, semangatnya buat baca buku makin menggebu. Emaknya yang keteteran malahan, karena malam pengennya leyeh-leyeh istirahat sambil instagraman, Diana pengen dibacain buku muluk. Hiks. *emak macam apa ini?*

Tulisan ini sudah 371 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *