Tantangan Bekal Sekolah Anak SD

Huhuhu, baru dua minggu anak mulai sekolah SD, sudah terasa banget ada tantangannya soal bekal sekolahnya. Dulu sewaktu TK terasa mulus banget soal dunia perbekalan ini lho. Lha kok sekarang bisa beda gini ya?

Ada dua tantangannya yang paling utama: bekal tidak dimakan dan waktu menyiapkan bekal yang terlalu pagi mengubah jam tidur saya.

Kita bahas soal waktu dulu ya. Saat sekolah TK, jam masuknya agak siang, masuk setengah delapan, anak bisa berangkat jam 7 lewat. Jadi saya masak bekalnya juga agak santai, tidak harus bangun pagi jam empat atau jam 5.

Nah sekarang, jam masuk SD-nya dimulai pukul 06.30 dan anaknya sudah jalan dari rumah maksimal pukul 06.00 pagi. Jadi saya harus bangun gedubrakan nyiapin bekal sekolahnya itu maksimal jam 05.00 pagi (kalau bekalnya tinggal cemplang-cemplung doang). Kalau harus masak mulai persiapan itu bisa jam 04.00 pagi!

Bayangkan harus bagun jam segitu, padahal saya bukan tipe orang yang morning person. Tidur aja biasa banget lewat tengah malam baru bisa merem. Lha jam 04.00 harus bangun, masuk dapur, nyiapin anak sekolah, terus lanjut kerja kantoran. Hadeuh.

Untung, saat anak berangkat sekolah, saya terkadang bisa balik tidur lagi selama 1 hingga 2 jam (kalau lagi beruntung bisa lelap) sebelum ngantor. Tapi ini juga nggak bisa tiap hari, karena kadang ya harus pagi juga jalan ke kantornya.

Nggak papa juga sih, ini nanti juga pada akhirnya pelan-pelan pasti akan lebih teratur. Karena masa penyesuaian yang masih baru ini aja mungkin terasa berat.

Nah, tantangan kedua dan ini berat buat saya, adalah bekalnya sering nggak dihabiskan, atau malah terkadang nggak dimakan. Ada dua sebabnya. Pertama, sekarang ini anak sekolah di SD negeri (setidaknya dari 2 SD di dekat rumah yang saya ketahui) setiap hari mendapatkan makanan dan minuman di sekolah. Kadang berupa snack, susu, terkadang juga buah. Kedua, teman-temannya kebanyakan tidak membawa bekal tetapi jajan di sekolah, jadi Diana ikutan minta uang jajan juga.

Saat TK, Diana bisa tertib lho, tidak tertarik untuk jajan di sekolah, meskipun ditawari oleh mama temannya untuk dibelikan makanan di tukang jualan. Soalnya pernah sekali jajan, besoknya langsung sakit, jadi mungkin anaknya juga trauma.

Di SD, mulai kebiasaan jajan, padahal bekal yang saya siapkan pun sebagian juga berupa “jajanan” lho, alias makanan kemasan yang saya beli di minimarket. Hanya saja saya masukkan ke dalam tempat bekal dan dibuang dulu bungkusnya, seperti kokokrunch dan biskuit.

Kalau teman-teman lihat foto bekal di Instagram saya, bekal ke sekolah anak saya itu nggak berat-berat amat, kok. Kalaupun nasi ya cuma sedikit banget. Paslah itu buat ngemil di jam 09 pagi sewaktu anak istirahat, soalnya kan pagi sebelum berangkat memang nggak sarapan dulu.

Satu-satunya jalan ya memang sih harus lebih ketat lagi soal uang jajan ini. Dulu pas TK saya benar-benar nggak pernah kasih uang jajan serupiahpun ke Diana. SD ini memang saya kasih uang buat ke sekolah. Jadinya, dengan alasan sudah jajan, terkadang bekalnya cuma ‘dicolek‘ doang. HUH.

Doakan saya segera ‘tega’ menyetop sama sekali uang jajan buat Diana ya, sehingga nggak ada tantangan lagi buat saya soal bekal sekolah anak ini. Kalau bekalnya dimakan dan dihabiskan kan lebih senang, karena dijamin kebersihannya, saya sendiri yang menyiapkan.

Tulisan ini sudah 5,256 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

12,071 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>