Setengah Hari di Terminal Pangandaran

Diana di Terminal Pangandaran

Cerita tentang jalan-jalan ke Pangandarannya udah pernah saya share di sini ya, ini cuma mau cerita tentang nungguin bus selama setengah hari di Terminal Pangandaran.

Seperti biasa, kalau mau jalan, kayaknya seksi repot itu saya deh. Yang cari info sana-sini di mesin pencari sampai berhari-hari itu saya. Tapi ya namanya browsing ya, kadang ada saja hal-hal yang terlupa, bisa jadi karena menganggap enteng informasi itu tidak dibutuhkan.

Kayak saya nih. Nggak cari tahu bus jurusan Pangandaran -Jakarta itu adanya jam berapa aja. Yang ada di otak saya itu ya namanya terminal pastilah rame, dan bus bisa berangkat jam berapapun. Ya mirip kayak Terminal Kampung Rambutan atau Lebak Bulus itulah ya. Ternyata salah besar sodara-sodara! Bus baru akan berangkat jam 19.00 sedangkan kami di terminal dari tengah hari bolong. Tuh, lihat foto Diana. Terminalnya kosong! Cuma ada 1 bus tujuan Bandung yang masih ngetem.

Selfie di depan rumah Bu Susi Menteri Perikanan

Saya mengajukan usul ke suami, gimana kalau kita naik bus ke Bandung aja. Saya nggak yakin sanggup membuat Diana anteng di tempat yang sama selama setengah hari, dengan cuaca yang panas plus badan udah lelah jalan-jalan 3 hari di Pangandaran. Kalau rewel, gawat ini. Di terminal, udah bukan di hotel lagi.

Tapi bapaknya Diana nggak mau jalan dulu ke Bandung, dengan alasan naik turun bus juga belum tentu badan nggak lebih capek. Apalagi di Bandung sampainya juga bisa jadi sudah malam. Lebih repot, katanya. Sudah, kita tunggu saja di sini, saran suami. Yoweslah, saya mengalah saja. Momong Diana setengah hari di terminal ceritanya.

Buat mengusir bosan, ya palingan saya ajak ke sana ke mari nggak jauh-jauh dari terminal. Sama bapaknya, Diana diajak selfi di depan rumah bu Susi yang jadi Menteri Kelautan. Sampai dilihatin tukang becak yang mangkal di depan rumah Bu Susi.

Dan untungnya juga, Susi Air ini lumayan sering melintas di angkasa. Jadi Diana sibuk nyari-nyari pesawat di mana. Saking panas dan silau sih pesawatnya nggak kelihatan.

Sore harinya saya mandiin Diana di Mesjid Agung Pangandaran. Kalau saya dan suami sih nggak mandi, hihihi. Tapi anak kan keringetnya ampun-ampunan, sampai baju basah, makanya saya mandiin dan gantiin baju.

Pakai selendang, mainan supaya nggak bosan

Pinternya, Diana nggak terlalu rewel. Ya sempet bosen, namanya juga setengah hari nggak ngapa-ngapain ya. Tapi masih dalam taraf wajarlah. Sore hari saya beliin jagung rebus, habis 1 buah digerogoti sendiri. Saya juga beli martabak manis seloyang buat bekel di jalan. Sama gorengan seplastik, hehehehe. Di jalan Diana nggak nangis sama sekali. Pinter tidur, beberapa kali bangun minta nenen, tapi lanjut tidur lagi. Bangun-bangun udah deket terminal, dan pulang ke rumah naik bus dari Kampung Rambutan dan dilanjut angkot masuk perumahan, lho. Bukan naksi seperti biasanya.

Senengnya saya sebagai emaknya. Mudah-mudahan makin gede juga makin gampang diajak jalan-jalannya. Tapi ada kekhawatiran juga sih, karena sekarang ini keinginannya udah makin banyak sejak ngomongnya makin lancar. Sampai kewalahan saya ndengerin ocehannya. Kalau ditanya mau nggak jalan-jalan ke pantai, jawabannya mau. Tapi ada lanjutannya, “Ma, ayok pantai, Ma, ayok pantai, Ma!” Sambil geret-geret tangan pertanda ke pantainya sekarang juga. Lhah!

Tulisan ini sudah 1,457 kali dibaca

2 thoughts on “Setengah Hari di Terminal Pangandaran

  1. Huahahhaa… santai mbak, anak Leo kayak Diana itu suka banget diajak jalan jalan dan jarang banget rewel soalnya gampang beradaptasi hahahaha…

    Btw, gak iso mbayangne selama itu ndik terminal tenguk2. Hahah. Wis gak mati gaya maneh, tapi mati gaya trus hidup gaya trus mati gaya lagi hahahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *