Saatnya Kerja, Meninggalkan Bayi Cantik 3 Bulan di Rumah

Foto Bayi Cantik

Lihatlah bayi cantik saya. Sedang lucu-lucunya dan menggemaskan, bukan? Usianya sudah 3 bulan. Itu tandanya, sudah waktunya saya harus kembali bekerja. Tanggal 1 November yang lalu seharusnya saya sudah masuk, karena terakhir masuk kerja sebelum melahirkan adalah tanggal 27 Juli. Tapi berhubung 1 November adalah hari Kamis, tanggung, bablas dikit lah ya, Senin 5 November kemarin saya baru mulai masuk kerja.

Meninggalkan bayi cantik berusia 3 bulan pergi bekerja itu rasanya campur aduk. Mendekati hari-hari saya harus bekerja, dedek Diana seperti sudah punya feeling bakalan ditinggal pergi. Bawaannya pengen nempel emaknya terus. Bahkan sampai saat tidurpun, suka geragapan dan tanggannya menggapai-gapai di sebelahnya. Kalau sudah merasakan nempel ke kulit saya, baru tidur lagi. Tapi kalau saya nggak ada di sampingnya, langsung deh nangis kenceng-kenceng.

Dua minggu terakhir sebelum saya kerja, jadi lebih sulit ditinggal. Terutama kalau lagi bangun. Biasanya anteng saja saya geletakin di atas matras di ruang tengah, sedangkan saya mencuci piring atau mandi, selama masih terdengar suara saya, dedek Diana anteng. Eh, sekarang, sudah nggak bisa begitu lagi. Harus nunggu dia bener-bener tidur pules kalau mau ditinggal mandi, makan, nyapu dan cuci piring. PR banget deh pokoknya.

Ninggalin dedek Diana bekerja, bukan yang pertama sih. Beberapa waktu lalu sempat dititipin lumayan lama (sekitar 6/7 jam) dan berhasil, dia nggak rewel dan asi perahnya cukup. Jadi saya juga nggak punya kekhawatiran yang berlebihan selama ninggalin bayi saya bekerja. Apalagi dia berada di tangan orang yang terpercaya, keluarga sendiri. Yap, saya senang sekali dedek Diana diasuh sama simbahnya (Bulik saya).

Tetap bekerja padahal memiliki seorang bayi adalah pilihan yang sulit. Jika boleh memilih, tentunya saya akan menjadi ibu rumah tangga saja di rumah. Apa daya, demi berlangsungnya kepulan dapur keluarga, saya masih harus bekerja dan meninggalkan bayi di rumah.

Hari-hari pertama masih terasa capeknya, tapi saya yakin nanti berangsur-angsur akan menyesuaikan diri kemampuan fisik saya mengerjakan semuanya. Untuk urusan memasak dan makan, saya nyerah deh kalau harus bikin sendiri. Full beli aja, udah nggak kepegang, kecuali nasi putih yang sesekali masih sempat memasak sendiri. Setrika baju juga kalau sempat, hahaha…

Semuanya memang masih harus dibagi waktunya dengan menulis. Menulis? Yap. Menulis ini harapan saya di masa depan soalnya. Supaya bisa bekerja dari rumah dan mengurus serta mendampingi anak. Jadi, menulis untuk sementara memang lebih jadi prioritas daripada memasak. 😉

Soal menyusui? Saya akan cerita di postingan khusus soal asi perah saya buat dedek Diana selama saya bekerja ya..

Tulisan ini sudah 11,245 kali dibaca

3 thoughts on “Saatnya Kerja, Meninggalkan Bayi Cantik 3 Bulan di Rumah

  1. IStri saya sebuan lagi juga sudah habis masa cutinya… Kini punya 65 botol @ 100ml, 80% dari semuanya terisi penuh botolnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *