Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Bahari Gandaria Selatan

RPTRA Bahari Gandaria Jakarta Selatan
Sumber gambar dari sini.

Mengetahui bahwa Gubernur DKI Jakarta membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di beberapa tempat, saya tertarik mengajak Diana ke salah satunya. Yang cukup dekat dari rumah tentu saja yang ada di Jalan Bahari, Gandaria Selatan. Sore hari, bertiga kami ke sana. Sekitar jam 4 sore lewat sedikit, saya sampai. Ada banyak anak laki-laki sedang bermain bola. Wuih, emang keren nih yang namanya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), batin saya. Cuma memang sedikit agak kotor di aulanya saja saya lihat, karena memang sedang ada acara sepertinya. Wajar saja sih.

RPTRA Gandaria Selatan

Karena yang paling menarik buat anak seumuran Diana memang perosotan, ya saya langsung ajak maen perosotannya. Sedangkan suami saya minta ambil foto-foto lengkapnya, buat nulis postingan, seperti biasa. Bahkan sempat pula melongok sampai ke lantai dua, tetapi karena sedang tidak dalam jam buka perpustakaan, ya kami cuma mendapati satu kelompok yang sedang bermain musik saja di lantai dua.

Jam buka perpustakaannya pagi dan sore hari di hari kerja, sedangkan Sabtu dan Minggu tutup. Agak aneh, juga. Banyak juga kan ya, orangtua bekerja yang ingin mengakses fasilitas di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), tetapi hanya memiliki waktu di akhir pekan buat mengajak anaknya ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Kenapa hanya buka di hari kerja? Itu tanda tanya pertama.

RPTRA Gandaria Selatan

Tanya yang kedua muncul ketika tak lama kemudian, anak-anak yang sedang bermain bola, tiba-tiba hilang semua. Bersih tanpa anak di dalam Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Bahari, sodara-sodara!

Saya dan suami pun pandang-pandangan. Lalu membahasnya. Ke mana anak-anak tadi semua? Kenapa masih sore, jam 5 aja belom ada, mereka sudah pulang semua? Kami membandingkan dengan lapangan-lapangan bermain di sekitar tempat tinggal kami di sore hari, selalu penuh dengan anak kecil dan baru akan sepi ketika kumandang adzan Maghrib tiba. Sebelum itu? Jangan harap. Masih tetep tumplek blek semua di situ. Ada yang main bola, main layangan, naik odong-odong, hingga emak-emak yang cuma nyuapin anaknya makan sore, semua ada.

Nah, ini sebuah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang ada mainan perosotan, ayunan dan lapangan buat main bola (futsal kali ya lebih tepatnya?) kok bisa kosong melompong tanpa anak-anak?

Apa anak-anak di sekitar Jalan Bahari lebih suka bermain di dalam rumah? Berdua kami saling menyatakan keheranan.

Tak lama, muncul satu dua anak ingin bermain. Lalu menjauh lagi. Satu dua orang tua datang lagi. Lalu nggak jadi. Lho, kok?

Ternyata memang ‘disarankan‘ oleh seorang bapak yang sedang menyiram tanaman di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) untuk datang lagi bermain besok. Hari ini tutup, katanya. Tapi kepada kami, bapak tersebut tidak berkata apa-apa.  Kami makin bingung.

Akhirnya suami bertanya. Bapak tersebut mengaku namanya Pak Hendra. Dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Bahari katanya hari ini ditutup karena ada acara anak kuliah. Wogh!

Jadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) ini sebenernya dibangun buat anak-anak, atau anak kuliah sih?

Kami memang tidak ‘diusir‘ untuk meninggalkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), tetapi jadi nggak nyaman berada di situ. Padahal niatnya Pak Ahok bangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) kan biar bikin anak dan semua orang makin bahagia. Mau bahagia gimana, Pak, kalau mau main aja nggak nyaman perasaannya?

Pak Hendra sempat mengeluarkan pernyataan kalau setiap akhir pekan, sampah di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Bahari bisa menggunung hingga 2 karung. Ini memang sisi lain tempat umum sih, karena pada kenyataannya warga yang sadar kebersihan masih minim. Salah satu solusi yang bisa saya ajukan ke Pak Ahok ya dana buat perawatannya (dalam hal ini menggaji tenaga kebersihan) ditambah, sambil pelan-pelan edukasi ke masyarakat secara terus-menerus tentang kewajiban masyarakat menjaga fasilitas publik.

Bukan dengan membatasi anak yang masih mau bermain ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), kan, Pak?

Tulisan ini sudah 2,068 kali dibaca

3 thoughts on “Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Bahari Gandaria Selatan

  1. Karena setiap malam diberlakukan jam wajib belajar dimulai pukul 19.00 – 21.00 pada hari sekolah. Dan memang menjelang maghrib kita menyarankan anak-anak untuk pulang karena sudah maghrib dan kita arahkan mereka ke masjid untuk shalat maghrib berjamaah dan dilanjutkan untuk belajar dirumah. Jadi, lihat sisi positifnya. Bukan negatifnya. Trims 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *