Pok Tunggal Gunung Kidul, Pantai Pertama Diana

Dedek Diana Main ke Pantai Poktunggal Gunungkidul

Setelah lulus naik mobil selama hampir 18 jam perjalanan mudik (banyak istirahat sih) Jakarta-Klaten, saatnya mengajak Diana pertama kalinya jalan-jalan ke pantai. Pantai Pok Tunggal yang berada di Gunung Kidul, Jogjakarta jadi pilihan saya. Kenapa? Karena saya malas dengan kemacetan Klaten-Jogja dan Klaten-Solo saat libur Lebaran. Untuk menuju Pantai Pok Tunggal dari Klaten, bisa melewati jalur alternatif Cawas, tanpa harus bermacet-macet ria, cukup 1,5 hingga 2 jam sudah sampai lokasi, padahal mobilnya pelan-pelan.

Dengan dua buah mobil, saya, suami dan Diana beserta adik dan sepupu melaju santai menuju Pantai Pok Tunggal. Rambu penunjuk jalan sangat jelas mengarahkan kami, karena sebelumnya saya sudah mencari tahu bahwa untuk menuju Pok Tunggal, tinggal ikuti saja rambu ke Pantai Baron, Kukup dan Krakal. Saat ada rambu selanjutnya di pertigaan yang mengarahkan menuju ke Pantai Indrayanti, Sundak dan Siung, ikuti saja ke arah Pantai Indrayanti. Anehnya, kami tak perlu membayar tiket masuk ke Pantai Pok Tunggal ini, karena kami masuk dari jalur Klaten tanpa melewati pos penjagaan tiket. Jika dari Jogjakarta, akan ada loket untuk membayar tiket masuk ke area pantai-pantai di sepanjang jalur ini. Harganya nggak mahal juga sih, tiket masuk Rp 5.000 / orang.

Rambu menuju Pantai Pok Tunggal ini masih berupa spanduk kecil, berbeda dengan pantai lainnya yang sudah lebih dahulu terkenal yang memiliki papan petunjuk jalan yang besar. Jadi ya tetep harus pasang mata supaya nggak terlewat. Bertanya pada penduduk lokal lebih baik, karena merekapun juga sudah mengerti adanya pantai indah ini, meskipun Pantai Pok Tunggal tergolong baru dan masih relatif sepi jika dibandingkan dengan pantai Baron, Indrayanti, Sundak dan sebagainya. Pantai-pantai di Gunung Kidul ini indah semua ternyata.

Jalan akses masuk menuju Pantai Pok Tunggal memang belum sempurna, dari jalan raya dibangun jalan untuk kendaraan roda empat, meskipun belum selesai sampai di lokasi. Sebagian masih jalan tanah berbatu kapur, dan harus turun ke tanah jika dua buah mobil berpapasan. Tapi soal fasilitas lain seperti kamar mandi untuk cuci bilas sudah lumayan banyak, meskipun saat saya datang belum semuanya beroperasi, untuk tempat sholat juga ada, penginapan sederhana juga ada dan tampaknya juga sedang dibangun di beberapa titik. Pantai Pok Tunggal saya lihat memang sedang berbenah, karena diprediksikan pantai ini akan ramai pengunjung di tahun-tahun berikutnya.

Kenapa bakalan ramai? Karena INDAH!

BANGET.

Pasirnya putih. Bersih. Alami. Bibir pantainya lumayan panjang. Diapit dua bukit dimana pengunjung bisa naik ke atas dan menyaksikan panorama keindahan Pantai Pok Tunggal dari atas.

Tapi ya dengan catatan, penduduk lokal jangan “kebablasan” mengeksploitasi pantai ini sehingga hilang kealamiannya. Dan wisatawan juga membantu dengan tidak meninggalkan sampah sembarangan. Saya lihat ada dua botol minuman ringan mengapung di Pantai Pok Tunggal saat saya datang. Miris. Kalau banyak pengunjung melakukan hal serupa, keindahan Pantai Pok Tunggal nggak bakal bertahan lama, deh!

Saya dan rombongan datang sudah lumayan siang, sudah panas. Diana langsung diajak nyebur ke pantai. Senengnya minta ampun. Pantai Pok Tunggal jadi pantai pertama yang dikunjungi Diana, bayi saya yang baru berumur 1 tahun ini. Sayang sekali saya tidak bisa menyaksikan sunrise atau sunset di Pantai Pok Tunggal. Mengajak jalan-jalan bayi 1 tahun ya lumayan ribet juga kalau harus seharian full. Begitu bayi dirasa sudah capek, yang tua harus ngalah mengakhiri jalan-jalan meskipun belum puas mengeksplor semua sudut.

Seorang lokal berangkat menjala di Pantai Pok Tunggal saya tanyai, biasanya dapat apa. Dia jawab terkadang memperoleh lobster. Berapa dijual? Satu ons Rp. 20.000,- jawabnya. Sayapun memesan, jika nanti memperoleh lobster, saya beli ya.. Ditunggu sampai saya pulang, ternyata belum kembali. Ya sudah, belum jodoh, hehehehe.

Biaya parkir mobil Rp. 5.000 dikali dua, dengan isi 10 orang, jadinya liburan kali ini cuma habis Rp. 1.000 saja per orang, karena tiket masuknya gratis. Hahahahaha…

Di perjalanan pulang, mampir dulu beli belalang goreng, makanan khas dari Gunung Kidul selain gatot dan tiwul, yang saya suka.

Badan capek tapi hati riang. Nggak ada tiup lilin di ulang tahun Diana, yang ada jalan-jalan ke beberapa tempat wisata (tulisan lain menyusul). Tahun depan ke pantai mana lagi ya di Gunung Kidul?

Tulisan ini sudah 6,389 kali dibaca

5 thoughts on “Pok Tunggal Gunung Kidul, Pantai Pertama Diana

  1. betull mba.. pok tunggal ini kurang jalan masuknya aja yg diperbaiki dan berbenah di beberapa tempat terutama kebersihan..

    saya sudah beberapa kali kesana hehe

    dedek diana ni seneng banget main pasir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *