Pengalaman Sukses Camping Bersama Anak

Senangnya, berhasil juga saya memenuhi keinginan untuk bisa camping bersama anak alias berkemah bersama anak. Meskipun baru dua kali, sudah bisa dibilang sukses-lah ya.

Latar belakang saya yang belum pernah camping di alam terbuka –selain kemah dulu lebih 25 tahun lalu sewaktu SD yang sudah lupa bagaimana rasanya–, jadi pengalaman kemarin menarik dan berbekas banget buat saya.

Persiapannya juga nggak terlalu ribet, kok. Saya banyak baca saja pengalaman teman-teman blogger lain yang sudah terlebih dahulu malang-melintang di dunia perkemahan, hehehe. Lihat peralatan apa saja yang mereka butuhkan. Lalu ya saya memutuskan untuk nyicil membelinya sendiri, karena bayangan saya kegiatan camping bersama anak ini bakal menarik dan bisa rutin dilakukan.

Camping di Pantai
Camping bersama anak di Pantai Sedahan

Oke, jadi apa saja persiapan peralatan yang saya beli untuk camping bersama anak kemarin ini? Karena saya pribadi nggak tahan dan nggak suka dingin, jadi sejak awal saya spesifik ya, kempingnya bakalan di tepi pantai, jadi hawanya tidak sedingin pegunungan. Berikut alat yang saya beli:

  • Tenda berukuran single alias satu orang doang. Ukurannya 140 cm x 200 cm kalau nggak salah. Merek Quechua, beli di Decathlon harganya Rp. 330.000,- saja. Ini bisa dipakai tidur berdua sama Diana. Bapaknya tidur di luar saja, hahaha.
  • Lampu tenda, beli di tempat yang sama. Harga tepatnya lupa, tapi nggak sampai seratus ribu lah pokoknya.
  • Matras ukuran 140 x 170 cm kalau nggak salah ingat harganya Rp. 120.000,- doang.
  • Sleeping bag beli dua buah ukuran dewasa masing-masing harganya Rp. 115.000,- aja. Yap, saya itu udah takut duluan yang namanya dingin. Jadi belinya harus dua. Satu dipakai suami tidur di luar, satu buat persiapan saya, tapi kemaren malah akhirnya dipakai buat bantal Diana karena di pantai mah nggak bakalan dingin kayak di gunung lah ya. Belinya masih di toko yang sama juga, pokoknya komplit deh di Decathlon.
  • Handuk microfiber. Kenapa mau camping beli handuk? Balik lagi, dari awal saya niatnya nenda itu di tepi pantai ya, bukan naik gunung. Jadi beli handuk yang ringkes penting juga, supaya bisa packing light.

Udah ternyata ya cuman itu doang.

Selanjutnya yang penting supaya aktivitas camping bersama anak ini bisa berjalan aman dan lancar adalah pemilihan lokasinya. Harus banyak riset dan cari tahu lebih dahulu, soalnya bawa anak. Jangan kayak saya, yang persiapan informasinya kurang matang. Tapi buat saya malah jadi seru karena berasa banget petualangannya.

Fisik anak juga sudah pasti harus jadi pertimbangan. Misalnya, untuk pemula yang baru pertama kali camping, ya mulai dari yang lumayan mudah dulu, jangan mendaki gunung yang tinggi dengan medan sulit.

Kalau Diana memang sudah terbiasa diajak jalan ke pantai-pantai yang ada di Gunungkidul, jadi perjalanan dua jam dengan sepeda motor itu nggak ada masalah. Pengalaman camping yang didahului dengan trekking sekitar 2,8 kilometer naik turun bukit kemarin memang jadi pengalaman pertama yang sangat seru buat kami.

Dengan suksesnya pengalaman camping bersama anak kemarin, saya jadi lebih percaya diri untuk mengajak anak berpetualang selanjutnya. Buat teman-teman yang baru berencana dan menimbang-nimbang akan mengajak anaknya berkemah, ayuk dimulai, ternyata kalau sudah dijalani nggak seribet yang dibayangkan, kok.

Selanjutnya rencana nenda ke mana? Dalam bayangan saya ada dua lokasi. Cari pantai di Kepulauan Seribu, atau ke Situgunung sekalian lihat jembatan baru ke Curug Sawer. Ada yang mau bareng?

Tulisan ini sudah 237 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *