Pengalaman Naik Kereta Api Jakarta-Klaten PP Saat Hamil Muda

Meskipun kehamilan anak kedua ini lebih repot dari saat hamil Diana dulu, tapi secara umum saya merasa sehat. Benar, saya mengalami mual-mual yang amat sangat dan badan terasa lebih mudah lelah, tapi di luar itu semuanya baik-baik saja.

Makanya pada saat ada keperluan yang mengharuskan saya pulang kampung, saya memutuskan untuk naik kereta api saja sendirian. Oke, ini sebenarnya melanggar banyak aturan KAI, tapi saya sendiri baru tahu tentang aturan tersebut, makanya saya menulis ini, hehehe.

Karena hamil muda, saya membeli tiket kereta api eksekutif Senja Utama Solo (Pasar Senen-Klaten PP @370.000). Biasanya, saya cukup membeli yang kelas ekonomi seharga dua ratus ribuan, tetapi karena bangkunya kurang nyaman posisinya untuk ibu hamil, saya memutuskan membeli yang lebih nyaman di kelas eksekutif.

Kenyamanan kursi kereta api ini alasan utama saya, karena perjalanan yang harus ditempuh sekitar 10 jam, kalau duduk di bangku ekonomi, bisa hancur rasa punggung ini. Apalagi, saya benar-benar pulang pergi tanpa menginap di Klaten, jadi dua malam berturut-turut akan saya habiskan di atas kereta api.

Pelanggaran aturan yang pertama adalah soal usia kehamilan. Ibu hamil yang diperbolehkan naik kereta api jarak jauh adalah usia 14 hingga 28 minggu, sedangkan saya pergi saat usia kandungan baru 8 minggu. Seharusnya saya membawa surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa saya sehat untuk perjalanan jarak jauh.

Saya baru tahu aturan ini saat boarding di stasiun Klaten. Lha, ternyata sama seperti naik pesawat ya, saat terbang diminta surat keterangan dokter. Saya nggak tahu, jadi ya nggak minta ke dokter sebelum pergi.

Saya pergi sendirian. Ini pelanggaran aturan yang kedua. Aturannya, ibu hamil harus ditemani oleh paling tidak satu orang selama perjalanan. Ya gimana? Aturan pertama tadi saja saya nggak tahu, apalagi aturan soal teman perjalanan ini. Kemarin malah rencananya saya mau bawa Diana, tapi saya pikir malah lebih repot jadinya kalau bawa Diana. Soalnya tidak menginap, takutnya malah Diana kecapean, saya sendiri juga lebih capek lagi karena harus ngurus anak pula selama perjalanan. Maka saya putuskan pulang sendiri saja, biar Diana di rumah sama bapaknya.

Syukurlah, ternyata aman terkendali selama perjalanan naik kereta api Jakarta Klaten pulang pergi tanpa menginap. Ya wajarlah kalau ibu hamil muda pasti badan terasa capek, tetapi setelah istirahat tidur beberapa jam di rumah, sore harinya saya bisa langsung kembali ngantor lho! Tiba di Jakarta lagi kan subuh, sampai rumah tidur hingga siang, bangun sudah segar lagi dan jam 14.00 sudah bisa meluncur ke kantor. Lumayan, bisa ngerjain tugas setengah hari, pulang kantor agak malam. Yeah, bumil strong!

Emang nggak kecapean? Nggak sih. Capek ya capek, tapi masih biasalah. Soalnya tempat duduk bisa posisi sedikit slonjor, dan perjalanan selalu malam hari, jadi ya lebih banyak tidurnya, meskipun nggak bisa pulas. Memang susah tidur pulas kalau bukan di atas kasur sendiri, hehehe.

Oiya, ada satu nih yang sedikit menyebalkan soal makan di kereta. Pas berangkat, karena persiapan dari rumah relatif baik, jadi saya bawa makan dan camilan sendiri. Amanlah terkendali. Nah, pulangnya dari Klaten kan karena seharian banyak urusan, nggak sempat lagi persiapan bekal, hanya jajan camilan ringan di depan stasiun, laparlah ibu hamil ini. Pesan nasi daging lada hitam di atas kereta. Lumayan lama nunggu, lhadalah habis ternyata, sisa nasi goreng doang.

Mau nggak maulahya. Ternyata zonk buangets dong. Berasa dirampok, beneran over priced deh itu makanan. Nasi (yang kata temen koyok sego aking) goreng frozen yang dipanaskan di microwave, yang nggak ada isiannya apa-apa selain bakso 2 slices kuecil banget di dalamnya. Ditambah dengan 2 butir kuecil-kuecil bakso ayam, seharga 35K. Grrr. Sini saya tampol mulutnya yang rewel komentar, kalo nggak mau beli makanan agak mahal, ya bawa bekel sendiri aja. Pastilah, saya bakal bekel sendiri.

Mbokya minimal kayak nasi di atas pesawat ituloh Pak-Bapak pimpinan KAI. Porsi kecil tapi nikmat gitu kan penumpang syenang. Kalo makanan di atas kereta api ini beneran deh. Udah kapok, pok!

(Kapok sama makanannya ya, kalau keretanya sih 1000% udah jauh lebih bagus dibandingkan dari jaman dulu) Jadi inget dulu naik kereta ekonomi masuknya dilempar sama orang tua dari jendela, trus semalaman tidur di lantai di bawah bangku orang saking penuhnya dan nggak kebagian tempat duduk, trus kecoa seliweran di samping, sambil menghirup bau toilet yang semriwing beut sepanjang perjalanan. HAHAHAHAHA.

Segitu dulu ya cerita pengalaman saya naik kereta api saat hamil muda. Buat ibu-ibu hamil yang lain, jangan ditiru ya, pengalaman nekat seperti saya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

8,448 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>