Persiapan Liburan Ke Batu Malang Bawa Balita

Terinspirasi dari tulisan tahun lalu saat persiapan mau liburan ke Bali, tahun ini saya pun pengen nulisin persiapan liburan ke Batu, Malang. (Eh, yang liburan ke Bali seminggu laporannya malah sama sekali belum ditulis di blog ini. Udah ada sebagian sih di blog sebelah.) Batu, Malang adalah kota tujuan liburan kami tahun ini. Saat hamil Diana dulu, saya sudah pernah ajak jalan-jalan ke Malang. Tahun ini, di usia Diana 3 tahun, kembali saya memilih Malang untuk liburan bareng balita ini. Karena Malang udaranya nyaman kayak di Puncak. Nggak panas. Meskipun pengennya sih ke pantai, tapi sekali ini libur dulu deh pantainya. Ada sih pantai di Malang, tapi lumayan jauh dari kotanya, sekitar 65 km. Agak males, hehe.

Menuju Malang dengan kereta ekonomi

Lho, kok, malah naik kereta ekonomi padahal bawa balita? Tenang. Saya udah pengalaman berpuluh-puluh kali naik kereta sejak puluhan tahun lalu. Udah ngerasain tidur di bawah kolong tempat duduk, sudah pula naik yang eksekutif. Dibandingkan puluhan tahun lalu, kereta ekonomi jaman sekarang udah jauh beda. Udah lumayan nyaman lah. Jadi saya udah ngukur kemampuan badan untuk menyesuaikan dengan kondisi kereta ekonomi. Diana juga saya pikir bakalan nyaman-nyaman aja. Kalau mau naik yang eksekutif ada Gajayana, sama seperti waktu saat saya hamil Diana dan jalan-jalan ke Malang. Sekarang, udah cukup kereta yang murah meriah sahaja.

Hotel selama di Batu

Balita Liburan di Bali
Waktu liburan di Bali dan nginep di hotel di Pulau Lembongan.

Ini bagian yang paling bikin galau. Sewaktu di Bali, memang sih saya semalam juga ngerasain nginep di hotel yang lumayan. Sisanya di hotel yang murah meriah. Nah, ini di Batu saya galau. Pengen seharian ngabisin jalan-jalan ke tempat wisata yang hits banget, tapi sayang juga ya kalau ngabisin duit banyak tapi dipakainya buat tidur doang. Dan hotel ini kalau pilihan jadi jatuh ke Singhasari Resort (bintang 5), bakalan jadi satu-satunya komponen yang paling mahal dalam liburan kali ini. Padahal nginepnya cuma 2 malam doang, dan bukan di week end. Kolam renang juga saya nggak begitu yakin bakalan kepake, karena udara di Batu yang sejuk cenderung dingin, mungkin juga bakalan jadi kendala. Ada keinginan nyebur itu kan biar seger. Lha kalau udah kedinginan tanpa nyebur, apa iya masih mau berenang? Palingan yang bisa dinikmati secara maksimal adalah tempat tidur dan sarapannya. Kasur di hotel bintang 5 itu pastinya jauh lah dibandingin sama kelas di bawahnya. Dan sarapannya biasanya komplit-plit-plit. Oiya, sama pemandangan sekitarnya yang bikin saya ngiler. Udah ngintip foto-foto di beberapa blog, dan sukses bikin saya ngeces. 😆

Itinerary Batu Trip

Itinerary Batu Trip Apa saja yang akan dikunjungi selama di Batu Malang? Itinerary di atas kayaknya udah nggak akan banyak berubah. Tetep saja yang pengen saya datangi cuma objek wisata seperti Batu Night Spectacular, Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo dan Museum Satwa) plus Museum Angkut kalau sempat dan badan masih mampu (menyesuaikan kondisi balita). Kalau jelajah kota kan sudah pernah ya, jadi nggak usah diulang deh. 😆 Transportasi selama di Batu juga naik motor saja kayaknya. Yang ini belum pesen sih, tapi nanti belakangan kayaknya gampang. Udah nggak sabar pengen jalan-jalan, padahal masih lama. Hahaha. Kalau teman-teman, apa saja yang dipersiapkan kalau mau jalan-jalan liburan bawa balita?

Berapa Lama Mandimu?

Mandi itu jadi kegiatannya Diana yang paling disukain. Ya hampir semua bocah kayaknya juga gitu ya. Maenan air itu bikin hati bahagia. Nggak peduli daya tahan tubuh lagi nggak bagus, pokoknya pengen berlama-lama di kamar mandi, padahal kalau kelamaan maen di aer bisa bikin masup angin. 😆

Sebagai emak-emak, saya juga lebih seneng nemenin anak main di kamar mandi, daripada main boneka atau masak-masakan. Entah kenapa. Kamar mandi itu adem aja bawaannya, kali ya?

Nggak heran juga makanya kalau dari hasil survei di Indonesia menyatakan bahwa 96% orang tua memahami waktu mandi sebagai waktu untuk bonding. Saat mandi adalah saat yang spesial. Dan mandi adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan bersama anak.

Saya suka kegiatan mandi ini, karena saat mandi adalah saat terbebas dari teknologi. Hanya ada aku dan dia Diana.

Sebagai blogger nan ngehitz yang harus apdet blog dan sosmed selalu, kan waktu saya lumayan tersita juga di depan komputer. Kalau nggak di depan komputer ya ngecek mention-an twitter di handphone. Pokoknya, kalau kegiatan selain mandi, masih belum bisa menghilangkan 100% kebiasaan nengok gadget deh. Pasti ada kalanya perhatian ke anak itu jadi terganggu.

Apa yang paling saya suka saat memandikan anak? Baunya setelah mandi! Harumnya bikin pengen terus nyium-nyiumin. Wangi bayi itu kan khas baunya ya. Pokoknya semaksimal mungkin saya yang memandikan Diana. Pagi hari itu harus. Kalau sore, mandinya di rumah simbahnya. Tapi ya kadang saya juga yang mandiin, kalau kebetulan sore hari sudah pulang.

Berapa lama waktunya mandiin anak?

Kalau saya bisa setengah jam. Kok lama? Iya. Diana maennya pasti lama. Belum lagi keramas. Belom lagi mandiin teman-teman mainnya seperti bebek dan kura-kura plastiknya. Paling cepet 15 menit, kalau lagi nggak pakai acara maen-maen dulu.

Kenapa mandiin bayi harus lama?

Karena buat saya, mandiin bayi itu nggak sekedar mbersihin kotoran dari badannya aja. Karena saat mandi, ada banyak sentuhan dan pijatan ke tubuh bayi. Itulah saatnya bonding ibu dan anak, juga ada stimulasi sensori.

Penelitian menunjukkan, sentuhan dan pijatan rutin bisa membantu mengembangkan kepercayaan diri anak dan meningkatkan kemampuan untuk berempati dengan orang lain. Selain itu juga bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur anak.

Stimulasi sensori pada saat mandi terjadi ketika beberapa indera, seperti bau dan sentuhan, dirangsang. Aroma menyenangkan, ketika digabungkan dengan interaksi kasih sayang orangtua, bisa jadi kenangan yang tersimpan seumur hidup.

Apa lagi yang bisa dilakukan saat mandi selain menghilangkan kotoran dan memijat bayi?

Saya suka main bubbles. Nggak heran kalau sabun mandi Diana itu paling cepet habis. Kalau nuang anaknya suka nggak kira-kira. Emaknya mana bisa marah? *pencitraan inih*

Nyanyi bareng juga bisa saat mandi. Tapi saya belum pernah sih sambil nyetelin musik. Palingan ya nyanyi bareng doang. Nyanyi saat mandi itu bisa menstimulasi bagian otak yang berhubungan sama memori.

Selain nyanyi, ngajak anak ngobrol dan bercerita juga bisa. Ngobrol ini tentunya buat melatih kemampuan berbahasanya ya.

Kalau anaknya masih bayi, mungkin main tepuk-tepuk permukaan air bakalan nyenengin juga. Kalau Diana sekarang pengennya maen semprot-semprot pakai selang ke segala arah.

Senangnya nyobain shampo baru!

Johnsons Baby Shampoo Active Fresh Biru :)

Uyey! Saya bisa lancar nulis soal mandi ini juga karna baru dapet ilmu dari Johnson’s yang ngadain blogger gathering sih. Dari acara itu, pulangnya saya nenteng gudibek seabrek-abrek. Salah satunya adalah bisa nyobain shampo terbarunya mereka yang belom diloncing. Keren, kan?

Diana seneng sama shamponya. Busanya banyak, dan yang paling penting wanginya tahan lama banget. Ini pas bener sama Diana yang memang lagi aktif-aktifnya di usia 3 tahun ini. Maennya udah banyak kan ya, lari-larian di bawah matahari paling dia suka. Kalau udah gitu, keringetan dan biasanya bau acem. Pakai shampo ini, wanginya bisa tahan sampai sore, sampai saatnya mandi lagi.

Penasaran sama shampo ini? Samak! Saya juga masih nunggu undangan berikutnya dari Johnson’s. Baru nanti setelah loncing yak, bisa ketahuan shampo apaan ini. Tunggu  tulisan berikutnya di blog ini ya teman-teman. 😉

Makanan Anak (Sudah) Cukup Gizi?

Kalau ditelusuri dan dibaca-baca ulang, kayaknya saya termasuk jarang ya, nulis soal makanan Diana selama ini. Tapi hari ini saya tergerak buat menulis soal makanan anak-anak, gara-gara tadi melihat tetangga memberi makan anaknya dengan sosis goreng saja. Yap. Sepiring nasi dan beberapa potong sosis goreng. Tanpa sayur.

Familiar dengan kondisi seperti itu? Ya mungkin nggak pakai sosis sih, tapi tempe doang. Atau ayam goreng doang. Atau tahu doang. Atau telur doang. Atau kadang, nasi doang. *hayoo, siapa yang suka kayak gini?*

Habis anaknya maunya begitu sih, kata mamanya beralasan. Atau, “Anak saya susah kalau disuruh makan sayur, maunya lauk kering thok.

Sampai di sini, saya musti banyak bersyukur, karena Diana tidak banyak meniru emaknya. Saya nggak suka sayur, tapi alhamdulillah, Diana doyan dan suka hampir semua jenis sayuran. Tetangga suka geleng-geleng kepala saat lihat Diana melahap tumis putren, atau saat Diana makan sayur buncis dengan serius sekali, sampai dipanggilpun nggak mau nengok.

Siapa lagi kalau bukan simbahnya yang mengenalkan berbagai rupa sayuran dan buah ke Diana. Bervariasinya jenis makanan yang masuk ke anak kita inilah, yang menjadikan memiliki jaminan kecukupan nutrisinya. Karena tak ada satupun manusia makanan yang sempurna zat gizinya.

Soal nutrisi untuk anak ini, jadi sedih kalau melihat penyebab gizi salah pada anaknya karena kemiskinan, juga kekurangan akses informasi dan pengetahuan tentang berbagai zat gizi yang diperlukan. Lagi-lagi, peran ibu yang biasanya dipertanyakan. Dampaknya tentu saja jadi mudah sakit karena tubuh nggak mampu melawan penyakit, metabolisme tubuh terhambat, hingga yang paling berat menjadikan perkembangan fisiknya terhambat.

Kembali lagi ya, hayuk, dicek, apakah makanan anak kita sudah cukup gizinya?

Makanan Diana selama ini makanan rumahan yang dimasak simbahnya. Nggak anti juga sih saya sama makanan instan, karena saya yakin sudah ada aturan untuk produsennya bahwa makanan bayi tersebut tidak memakai pengawet dan zat aditif yang berbahaya. Salah satu makanan instan yang lumayan sering saya berikan adalah Milna Toddler Biskuit dari Kalbe Nutritionals.

Milna Bayi Sehat

Kenapa memberikan makanan instan kepada bayi atau anak-anak? Buat saya sih, tentu yang paling utama segi kepraktisannya. Nggak perlu ubek terlalu lama di dapur, tapi tetep bisa ngasih makanan sehat ke anak. Kan makanannya juga sudah dipilih-pilih, bukan yang sembarangan. Yang kandungan zat gizi pentingnya sudah ditambahkan ke dalam makanan tersebut. Istilah kerennya makanan fortifikasi. 😉

Tapi tetep kok, makanan alaminya juga saya berikan, misalnya ngemil salak atau anggur. Biar anak juga nggak punya kecenderungan suka pada satu rasa saja, yang manis-manis misalnya berbagai minuman kemasan siap saji. Atau yang asin-asin dan banyak MSG-nya, misalnya. *toyor pala sendiri yang nggak bisa bilang enggak saat anaknya minta ciki-cikian*

Bayi Hebat Milna 2015

Nah, buibu yang punya anak usia 6 hingga 36 bulan dan hobi mengabadikan moment hebat si kecil, dengan tinggi dan berat badan sehat, ayok ikutan Kompetisi Bayi Hebat Milna 2015. Cek syarat dan ketentuannya di sini ya. Sttt, saya juga mau ikutan, lhoh. Ntar bantuin vote ya, kalau saya masuk 50 besar. *kepedean*