Masih Nenen Dan Pakai Popok

Hampir 2,5 tahun masih belom disapih dan belom toilet training? Hehehe, untungnya pertanyaan itu saya sendiri yang nanyain. Yakalo orang lain yang nanyain juga paling diiyain aja sambil senyum.

Saya pengennya satu-satu dulu. Ini ngajarin ngomongnya juga masih dalam proses. Baru bisa satu kata. Palingan yang agak panjang sih “mama nana nenen” doang bisanya. Yang lainnya satu kata, atau dua kata. Nyebutin nama teman-temannya dan sodara seperti tante A, om B, udah lumayan lancar. Bener juga sih kalau dipikir-pikir keterlambatan bicara ini ada hubungannya sama bilingual. Soalnya saya kalau ngomong sama suami kan 100% pakai bahasa Jawa.

Nah, balik lagi soal kapan disapih dan kapan diajarin toilet training, ya sekarang sedang proses. Nenennya udah nggak sesering biasanya, tapi ya kalau minta nggak dikasih bisa nangis bombay, teriak-teriak. Kadang berhasil dialihkan, tapi seringnya masih gagal.

Kayaknya toilet training yang bakalan berhasil lebih dulu. Siang udah nggak pakai popok, tapi masih sering pipis duluan baru ngomong. Malam nggak pakai popok nggak ngompol sih, tapi begitu bangun langsung wes-ewes-ewes tanpa sempat dibawa ke kamar mandi.

Targetnya bulan depan sudah berhasil lepas sama sekali dari per-popok-an ini. Dengan catatan, emaknya konsisten dan nggak males-malesan ngajarin terus ya. Lha kadang hambatan terbesarnya justru dari orang tua sendiri-e yang cari praktis dan enaknya aja, hehehe…

Meskipun kalau yang dipakai ‘ukuran’ kemampuan anak-anak seumurannya Diana masih ada beberapa yang ketinggalan, tapi saya tetep bangga sama Diana, karena saya yakin masing-masing anak punya kemampuan yang berbeda. Misalnya, Diana jarang nangis, apalagi sampai tantrum. Makanya emak bapaknya enak kan bisa ngeblog dengan nyaman, sementara anaknya main sendiri. Misalnya lagi, Diana seneng diajak jalan-jalan, nggak ngerepotin, dan bisa jadi temen jalan yang asyik padahal naik angkutan umum. Jadi masih nenen dan pakai popok, nggak perlu malu lah yaw!

Selamat tahun baru, teman-teman!

Mamam Eskrim Di Magnum Cafe Bareng Diana

Diana di Magnum Cafe

Mungkin ada yang mikir, anak-anak kok diajak ngopi. Eits, jangan salah, meskipun namanya cafe, karena brand ini adalah brand eskrim, tentunya ya jual eskrim dong ya. Jadinya Diana seneng-seneng aja diajak nongkrong di sini.

Nasi Goreng Magnum Cafe

Berhubung anaknya belom dikasih makan dari pagi, jadinya selain dibeliin eskrim, dipesenin nasi goreng. Untung ya, ada masakan khas Indonesia yang bisa dipesan. Soalnya soto dan nasi kuning lagi kosong saat itu. Ya, yang penting Diana doyan. Nasi goreng juga enak, kok, meskipun lebih suka soto.

Spaghetti Magnum Cafe

Magnum Cafe

Kami nggak begitu lama di Magnum Cafe, soalnya Diana pengennya jalan terus muter-muter di dalam resto, nggak bisa diem. Ya nggak papa sih sebenernya. Tapi saya kok ya ngerasa nggak enak sama pengunjung lain yang mungkin bisa aja ngerasa terganggu. Begitu selesai makan langsung cabcus. Bayar pakek pocer, hahahaha.

Simbahnya Diana Yang Luar Biasa

Papa dan mama saya sama-sama punya keluarga besar. Masing-masing memiliki 7 saudara kandung dan juga beberapa saudara angkat, menjadikan simbahnya Diana kalau ditotal ada banyak bener. Dan beruntunglah saya, satu dari sekian banyak simbahnya Diana ini, paling berpengaruh dalam hidup saya. Gimana tidak? Simbahnya Diana ini begitu baik. Sesaat setelah saya lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Jakarta, saya langsung menumpang di rumahnya. “Daripada ngekost, Mbak.” begitu ucapnya. Mulailah saya tinggal di rumahnya, sampai saya…. menikah!

Trus, setelah menikah, gimana? Satu kebaikannya lagi, simbahnya Diana langsung menawari, “Udah, ngontrak di belakang aja, Mbak.” Yang dimaksudkan adalah rumahnya yang baru saja direnovasi, dan selanjutnya dikontrakkan kepada saya. Saya langsung setuju, dan jadilah setelah akad nikah, langsung saya tinggal di rumah baru.

Tak berapa lama, saya hamil dan mempunyai Diana. Awalnya, saya mau mencari pengasuh buat Diana. Saya tak mau merepotkan simbahnya Diana. Tapi lagi-lagi, kebaikan simbahnya Diana menolong saya lagi. “Udah, Diana sama saya aja, Mbak. Nggak tega kalau diasuh sama orang lain.

See?

Dari Senin sampai Jumat, saya meninggalkan rumah tanpa rasa was-was anak saya akan mendapat perlakuan buruk. Saya merasa aman. Dan Diana tumbuh jadi anak yang baik dan sehat. Alhamdulillah. Semua tak lepas dari didikan dan pengasuhan simbahnya.

Diana Disuapin

Diana Makan

Hanya hari Sabtu dan Minggu saja saya full ngurusin Diana. Kadangkala masih juga saya titipin di akhir pekan sih, kalau ada undangan acara yang tidak mengijinkan saya membawa anak. :mrgreen:

Pokoknya, simbahnya Diana ini sosok ibu yang TOPBGT dah! Dan sebentar lagi, simbahnya Diana mau punya cucu, adik sepupu saya sedang hamil 6 bulan. 😉

Simbahnya Diana
Selamat Hari Ibu, Bulik!

Tulisan ini dibuat dalam rangka merayakan Hari Ibu 2014 bareng Kumpulan Emak Blogger.