Kalau Diana Main Ke Mall

Diana main ke Mall

Setiap kali ke mall, Diana pengennya melipir ke playland gitu, semacam Fun World, Timezone, Lollipop’s, Amazone, Dream Zone dan sebagainya. Namanya juga anak-anak, kan ya.. Tapi sampai saat ini emaknya masih ‘aman‘ karena anaknya sudah cukup puas dengan main-main boongan doang. Yang penting didudukin di kursinya, trus pencet-pencet doang. Satu-satunya yang dibutuhkan oleh orang tuanya hanyalah punya tenaga dan kesabaran buat nemenin keliling-keliling dan ngikutin kemauannya doang. Kalau nunjuk yang ini ya didudukin, kalau nunjuk itu ya dimasukin ke dalam mainannya, dan seterusnya. Cukup membosankan sih, buat saya, lha cuma ke sana ke mari ngikutin terus, hehehe. Continue reading “Kalau Diana Main Ke Mall”

Nongkrong Di Roti Bakar Eddy Cipulir

Roti Bakar Eddy

Karena lumayan suka sama roti bakar, sejak belom nikahpun, salah satu perabotan yang saya beli terlebih dahulu adalah pemanggang roti. Ya dibayangan saya sih, nantinya bakal jadi istri yang rajin dan pinter ngelayanin suami, gituuu.. Bangun tidur udah bikinin sarapan. Sarapannya bervariasi, dari mulai nasi goreng telur mata sapi, nasi goreng pakai telur dadar, trus berikutnya nasi goreng telurnya diaduk sama nasi, dan terakhir, roti bakar. Semuanya gampang cara buatnya, kan?

Roti Bakar Eddy Ciledug

Kenyataannya mah, palingan setahun dipakai dua kali tuh pemanggang rotinya. Sebelum dipanggang, seringnya roti udah habis duluan dikrikiti langsung mentah-mentah. Dan alasan lainnya sih, lebih sering beli roti yang ada isinya daripada lembaran roti tawar. Praktis, tinggal lheb.

Pas awal-awal menyusui Diana, roti isi keju itu udah jadi senjata andalan banget. Selalu siap sedia di samping tempat tidur. Kalo abis nyusuin, buru-buru ngunyah roti biar nggak kelaperan.

Roti Bakar Edi Cipulir

Nah, ceritanya kemarin ini bisa maen ke Roti Bakar Eddy yang ada di Cipulir karena pas lagi blogwalking, ada yang nulis tempat ini. Langsung pengen ke situ saat ini juga. Yang saya tahu sih yang di belakang Al Ahzar Blok M itu. Saya cari di Google, ternyata ada juga yang di Cipulir. Cuss deh ke sana. Padahal lagi gerimis, dan akhirnya bikin Diana panas besok paginya. (Hiks, maafin emakmu, ya, Nak.)

Di Roti Bakar Eddy, suami pesen roti bakar srikaya keju, sedangkan saya pesen pisang bakar es krim. Minumnya jus sirsak dan kapucino panas. Saya nggak nyobain roti bakarnya malahan, tapi kalo pisang bakarnya biasa aja. Apa mungkin juga karena keju yang dipakai bukan jenis yang bagus ya? Kok rasanya kurang nendang. Waktu makan yang di Blok M kayaknya lebih enak.

Pas saya nongkrong di Roti Bakar Eddy Cipulir ini, kedainya ruame pol. Parkirnya penuh. Tempat duduk pun tersisa sedikit yang masih kosong. Saya hanya sekitar satu jam di sana. Diana sempat main-main juga di pojokan, tersedia ayunan buat anak-anak.

Meski namanya Roti Bakar Eddy, di situ nggak cuma jualan roti bakar lho. Ada berbagai makanan seperti tape bakar, bubur ayam, nasi goreng seafood, mie ayam, bebek goreng, ayam lada hitam, chicken wings, sate ayam, ayam bakar sampai sapo tahu juga ada. Tapi karena lagi nggak lapar ya saya nggak pengen nyobain makan.

Soal harganya, lumayan terjangkau. Roti bakarnya Rp. 12.000,- pisang bakar eskrim Rp. 16.000,- minumannya Rp. 12.000,- (jus sirsak) dan Rp. 8.000,- (kapucino panas). Setelah ditambah pajak 10%, total yang harus dibayar hanya Rp. 52.000,- saja.

Ada yang mau coba?

Masih Nenen Dan Pakai Popok

Hampir 2,5 tahun masih belom disapih dan belom toilet training? Hehehe, untungnya pertanyaan itu saya sendiri yang nanyain. Yakalo orang lain yang nanyain juga paling diiyain aja sambil senyum.

Saya pengennya satu-satu dulu. Ini ngajarin ngomongnya juga masih dalam proses. Baru bisa satu kata. Palingan yang agak panjang sih “mama nana nenen” doang bisanya. Yang lainnya satu kata, atau dua kata. Nyebutin nama teman-temannya dan sodara seperti tante A, om B, udah lumayan lancar. Bener juga sih kalau dipikir-pikir keterlambatan bicara ini ada hubungannya sama bilingual. Soalnya saya kalau ngomong sama suami kan 100% pakai bahasa Jawa.

Nah, balik lagi soal kapan disapih dan kapan diajarin toilet training, ya sekarang sedang proses. Nenennya udah nggak sesering biasanya, tapi ya kalau minta nggak dikasih bisa nangis bombay, teriak-teriak. Kadang berhasil dialihkan, tapi seringnya masih gagal.

Kayaknya toilet training yang bakalan berhasil lebih dulu. Siang udah nggak pakai popok, tapi masih sering pipis duluan baru ngomong. Malam nggak pakai popok nggak ngompol sih, tapi begitu bangun langsung wes-ewes-ewes tanpa sempat dibawa ke kamar mandi.

Targetnya bulan depan sudah berhasil lepas sama sekali dari per-popok-an ini. Dengan catatan, emaknya konsisten dan nggak males-malesan ngajarin terus ya. Lha kadang hambatan terbesarnya justru dari orang tua sendiri-e yang cari praktis dan enaknya aja, hehehe…

Meskipun kalau yang dipakai ‘ukuran’ kemampuan anak-anak seumurannya Diana masih ada beberapa yang ketinggalan, tapi saya tetep bangga sama Diana, karena saya yakin masing-masing anak punya kemampuan yang berbeda. Misalnya, Diana jarang nangis, apalagi sampai tantrum. Makanya emak bapaknya enak kan bisa ngeblog dengan nyaman, sementara anaknya main sendiri. Misalnya lagi, Diana seneng diajak jalan-jalan, nggak ngerepotin, dan bisa jadi temen jalan yang asyik padahal naik angkutan umum. Jadi masih nenen dan pakai popok, nggak perlu malu lah yaw!

Selamat tahun baru, teman-teman!