Hamil 34 Minggu, Berat Badan Naik 8 Kilogram

Tadi pagi jadwal saya ke dokter buat periksa kandungan. Tiga minggu yang lalu terakhir saya periksa, dan seharusnya sudah balik minggu lalu. Tapi berhubung tiap hari Selasa atau Jumat saya malah sibuk, mundur terus deh.

Sengaja pagi-pagi sebelum jam 9 saya ke dokternya. Setelah selesai sarapan pagi langsung ngibrit. Deg-degan juga sih bakalan naik drastis timbangan badannya karena kok rasanya makin hari makin berat saja. Jalan jadi mudah ngos-ngosan, meski naik turun tangga di rumah malah nggak ada masalah.

Pemeriksaan dimulai seperti biasa dengan mengecek berat badan dan tensi. Tiga minggu lalu, berat saya masih 54 kilogram. Tadi pagi sudah naik lagi 2,5 kilogram menjadi 56,5 kilogram. Jadi, kalau dihitung sejak awal kehamilan di mana berat saya 49 kilogram, berarti ada kenaikan hampir 8 kilogram selama 34 minggu. Tensi saya sama saja sejak awal 90/60. Disarankan sih minum penambah darah seperti Sangobion, tapi takutnya malah kebanyakan obat yang dimasukin ke badan. Toh, saya nggak pernah merasa pusing dengan tensi seperti itu. Biasa-biasa aja. ๐Ÿ˜€

Setelah itu dilakukan USG, dan hasilnya masih sama dengan keadaan pemeriksaan sebelumnya, melintang. Dedek bayi saya ini memang sedikit ngeyel kayak bapaknya, meski saya sudah rajin nungging dan bapaknya juga ngajak ngobrol tiap malem sampai jam 01.00 dini hari, tetep saja belum mau berubah posisinya, kepala masuk ke dalam pinggul. Disaranin buat makin sering dan makin lama nunggingnya, tadi. Secara umum sih, nggak ada keluhan seperti saat trimester kedua.

Sebagai ibu, saya sih tetep yakin nanti kepengennya dan menanamkan energi positif harus percaya bisa lahiran normal. Dedek bayinya aktif banget kok nendang-nendang. Bahkan terkadang saya sampai kewalahan kalau dia sudah nendang nggak berhenti-berhenti. Jadi, tinggal beberapa minggu lagi nih saya lahiran. HPL sih 7 Agustus 2012. Doakan semoga lancar ya.. ๐Ÿ˜‰

Akhirnya Belanja Kebutuhan Bayi!

Minggu lalu, saya dan suami akhirnya belanja perlengkapan bayi. Dasar nggak ada niat sebelumnya kalau hari itu akan beli perlengkapan bayi, jadinya ya nggak bawa daftar keperluan yang harus dibeli. Nurut-nurut aja deh apa kata penjualnya waktu ditawari ini itu. Untungnya, beli di grosiran, jadi harganya bisa nawar, meskipun saya nggak tahu juga itu udah dapet harga bagus, atau tetep juga masih kemahalan, hehehe..

Buat ibu-ibu yang juga sedang hamil dan mempersiapkan perlengkapan bayi sebelum lahiran, boleh lho ngikutin apa yang saya beli. Tapi resiko ditanggung sendiri ya. ๐Ÿ˜€ Saya belinya di sebuah toko di depan ITC Cipulir. Kalau dari Kebayoran Lama, yang ke arah Ciledug ya. Sengaja pilih yang deket dari rumah saja, biar nggak repot. Ada beberapa toko berderet yang bisa dipilih.

Bedong Bayi

Saat membeli, nggak kepikiran kalau ada pro dan kontra soal membedong bayi. Dari teman di twitter saya baru tahu jika ada beberapa dokter yang menyarankan untuk tidak membedong bayi. Saya pikir, sebaiknya memang bayi dibedong. Apalagi saat asyik browsing di online shop luar negeri, ada juga produk semacam bedong bayi, tapi instan. Bedong instan? Ya, karena bentuknya bukan kain yang memakaikannya harus ribet dililitin ke bayi, tapi bedongnya terbuat dari karet yang tinggal memasukkan bayi ke dalamnya. Praktis tanpa repot, tapi tentu saja ya harganya mahal. :mrgreen:

Bedong Bayi

Bedong bayi yang saya beli adalah harga grosir. Pedagang menawarkan Rp. 170.000,- per lusin, dan saya hanya berhasil menawarnya menjadi Rp. 168.000,- per lusin. Hahahaha, gagal ya. ๐Ÿ˜€

Bedong Bayi

Ini dia penampakan bedong bayinya. Saya baru beli setengah lusin, dengan motif yang sama tetapi berbeda warna. Maklum, belinya yang murah meriah, jadi ya nggak bisa pilah-pilih motif karena ambilnya harus satu paket itu.

Handuk Bayi

Handuk bayi bahannya berbeda dengan handuk dewasa. Lebih lembut jika diraba. Dan saya hanya beli 1 buah Rp. 35.000,- karena di toko itu motifnya cuma ada satu doang. Ntar aja beli lagi biar ada agak banyak dengan motif yang berbeda. *teuteup*

Handuk Bayi

Popok Bayi

Berdasarkan yang saya baca-baca, bayi baru lahir bakalan sering pipis. Jadi, kebutuhan popok ini pastilah boros. Kalau sejak lahir dipakein clodi ya kasihan juga kegedean. Biarpun capek musti bolak-balik nyuci popok, ya nggak papa, tetep harus ngerasain popok kain dulu kayaknya.

Popok Bayi

Satu lusin popok kain saya bawa pulang dengan harga Rp. 52.000,- Entah nanti masih kurang atau enggak, karena saya memang belum jadi membeli clodi yang saya idam-idamkan.

Popok Bayi

Penampakan popok bayinya kalau dibuka dan dikeluarkan dari plastik. Masih belum belajar juga sih gimana cara makeinnya nanti.. :mrgreen:

Popok Bayi

Kelemahan beli secara grosir ya begini ini, dalam 1 lusin, motifnya sama semua. Paling-paling hanya warnanya saja yang beda.

Sarung Tangan dan Kaos Kaki Bayi

Ini dipakainya kalau lagi nggak dibedong ya bayinya? Sarung tangan selain biar bayi tetep anget, juga biar kukunya nggak nyakar-nyakar kulitnya sendiri kalo udah agak panjang.

Sarung Tangan dan Kaos Kaki Bayi

Saya baru beli tiga pasang. Asumsinya, kalaupun tiap hari ganti, dan nyunyinya juga tiap hari, punya tiga pasang sudah cukup.

Gurita Bayi

Gurita Bayi

Ada dua pilihan sih kemarin. Yang ada motifnya malah lebih murah harganya. Jadinya saya beli yang polos saja. Rp. 28.000,- per lusin.

Gurita Bayi

Bersambung nih kayaknya di postingan selanjutnya hasil belanja perlengkapan bayi. Kepanjangan kalau ditulis di satu postingan. ๐Ÿ˜€

Sambungannya bisa dibaca DI SINI.

Persiapan Belanja Perlengkapan Bayi

Orang tua berdasarkan keyakinan yang diberikan secara turun-temurun menyarankan untuk berbelanja perlengkapan bayi setelah kandungan memasuki usia 7 bulan. Meski tak sepenuhnya percaya, nggak ada salahnya juga mengikuti anjuran tersebut. Buat saya, usia kandungan 7 bulan memang sudah tepat, karena jenis kelamin bayi sudah bisa diketahui dengan lebih jelas. Memang pada usia kehamilan 5 bulan saya telah melakukan USG 4 D [4 dimensi] dan dokter menyatakan jenis kelamin bayi saya perempuan, saya hanya ingin memastikan saja bahwa pada pemeriksaan selanjutnya sudah tidak ada lagi perubahan jenis kelamin bayi.

Dan berdasarkan hasil saya baca-baca beberapa situs, mereka juga menyarankan untuk persiapan berbelanja segala kebutuhan perlengkapan bayi hanya sampai usia 3 bulan saja.

Mengapa 3 bulan?

Perlengkapan Bayi

Selama 3 bulan pertama setelah melahirkan, ibu bayi masih diharapkan merawat bayinya dengan perhatian ekstra. Kegiatan berbelanja ke luar rumah yang menyita waktu dan tenaga sebaiknya tidak dilakukan terlebih dahulu. Dan untuk waktu selanjutnya, perlengkapan bayi bisa kita beli secara bertahap, menyesuaikan dengan tingkat pertumbuhan bayi kita. Jangan sampai baju yang sudah kita stok sejak lama, ternyata ukurannya sudah tidak muat lagi ya digunakan pada bayi kita. ๐Ÿ˜‰

Apa saja persiapan perlengkapan bagi bayi yang baru lahir?

Ada banyak sekali item yang harus kita siapkan sebagai ibu yang akan segera memiliki bayi. Beberapa item mungkin sudah kita miliki karena ada barang “lungsuran” dari saudara atau keluarga. Tetapi, sebagian besarnya memang harus dibeli dan disiapkan sebelum bayi lahir.

Daftar perlengkapan yang dibutuhkan akan saya coba rinci sebagai berikut:

  1. Perlengkapan pakaian bayi. Item-item yang dibutuhkan seperti: satu set popok [mungkin perlu membeli beberapa lusin karena bayi pasti sering ngompol], baju bayi dan celana bayi [usahakan ada yang berupa lengan panjang, lengan pendek, tanpa lengan, celana panjang dan celana pendek], beberapa pasang kaos kaki dan kaos tangan bayi, beberapa pasang sepatu bayi, jaket, selimut, perlak, alas ompol, dan bedong bayi.
  2. Perlengkapan mandi bayi. Yang diperlukan oleh bayi untuk proses mandi diantaranya adalah: bak mandi, perlak, handuk bayi, 2 buah ember dengan tutupnya [sebagai tempat pakaian bayi yang kotor terkena ompol dan BAB], serta produk mandi seperti shampo bayi, sabun mandi bayi, baby oil, lotion, minyak kayu putih, minyak telon, bedak bayi, tissue basah dan lain sebagainya.
  3. Perlengkapan makan bayi. Biasanya untuk perlengkapan makan dijual dalam bentuk paket, tetapi bisa juga kita membelinya satu per satu. Ini bisa saja dibeli belakangan, karena jika kita memberikan ASI secara ekslusif pada bayi selama 6 bulan, maka perlengkapan makan ini tidak kita butuhkan selama 3 bulan pertama. Namun jika ASI bermasalah, dan bayi perlu untuk makan, maka perlu kita beli perlengkapan makan. Beberapa item yang akan kita butuhkan antara lain: mangkuk dan sendok kecil, slabber, serta blender untuk menghaluskan makanan.
  4. Perlengkapan tidur bayi. Kita akan membutuhkan boks bayi, kasur, bantal, seprei, perlak dan kelambu.

Di samping benda-benda yang telah saya sebutkan di atas, masih ada beberapa perlengkapan yang seharusnya kita miliki. Seperti termometer untuk mengecek suhu badan bayi. Kita memerlukannya karena bayi terkadang juga rentan sakit. Ada pula kereta bayi [stroller] yang mungkin kita butuhkan untuk membawa bayi jalan-jalan. Gendongan bayi juga vital karena saat ini sudah jarang yang menggendong bayinya menggunakan kain [jarik dalam bahasa Jawa]. Beberapa mainan bayi untuk usia 0-3 bulan juga perlu kita beli. Dan satu lagi, tas yang akan membawa semua perlengkapan yang kita butuhkan jika ke luar rumah.

Bagaimana soal harga? Berapa dana yang harus disiapkan untuk membeli perlengkapan bayi tersebut?

Nah, ini juga sebuah pertanyaan yang sulit. Karena biasanya ibu-ibu yang tengah mempersiapkan perlengkapan bayinya tidak membeli barang-barang tersebut sekaligus. Mencicilnya satu per satu hingga akhirnya tiba masa melahirkan. Dan tentu saja, harga barang-barang yang akan kita beli juga tergantung kualitasnya. Ada perlengkapan yang berharga mahal, ada juga yang murah. Sesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. Jika dana yang kita miliki terbatas, ya beli yang kualitasnya agak di bawah. Toh, penggunaan perlengkapan bayi tersebut tidak akan lama karena pertumbuhan bayi tentunya lebih cepat bila dibandingkan dengan orang dewasa.

Oke, saya akan cari-cari dulu ya perlengkapan buat bayi saya. Nanti ceritanya akan saya tulis di dalam artikel yang lain.