Mudik Tahun Ke-2 Buat Diana

Di umurnya yang baru 2 tahun, Diana juga sudah 2 kali ikut mudik Lebaran ke kampung halaman saya dan suami, Kabupaten Klaten. Tahun lalu, malah ikut macet-macetan karena pulang via jalur darat alias naik mobil pribadi.

Tahun ini, jauh hari saya sudah membayangkan bakal lebih repot membawa bayi 2 tahun menempuh perjalanan yang lamanya tidak bisa diprediksi, bisa 20 jam (kalau beruntung), bisa 24 jam, bahkan bisa juga 36 jam seperti pengalaman saya beberapa tahun lalu. Tidak sanggup membayangkannya, maka saya memesan tiket pesawat terbang saja.

Dua hari sebelum keberangkatan (seharusnya) mudik, ada sesuatu yang menahan kami. Dan tiket pesawat dengan harga promo itupun harus rela hangus. Duh.

Setelah mendapatkan kepastian bahwa kami tetap bisa mudik, saya pun kembali mencari tiket pesawat. Satu-satunya yang tersedia (dengan budget yang masuk akal) adalah tiket pesawat yang berangkat tanggal 20 Juli 2014 selepas Subuh. Padahal kami mencari pada tanggal 19 Juli sore hari. Pemesanan di bawah 48 jam dari keberangkatan, tidak bisa dibayar dengan kartu kredit dan ATM. Dyem! Dicoba dengan internet banking (satu-satunya jalan) selalu gagal.

Ya sudah. Harus cari jalan lain. Kereta api pilihannya. Cari di website dan bayar melalui transfer ATM, berhasil. Kereta Api ekonomi AC (tambahan khusus Lebaran) dengan jurusan Pasar Senen – Kutoarjo seharga RP. 260.000,- per orang pada tanggal 20 Juli 2014. Mau nggak mau beli, padahal Kutoarjo – Klaten itu ya masih lumayan jauh. Harus nyambung dengan kereta api Prameks dengan harga tiket Rp. 12.000,- Nggak papa deh, demi mudik.

Mudik Tahun ke-2 Buat Diana

Mudik Tahun Ke-2 Buat Diana

Diana naik kereta api ini bukan yang pertama kali, karena sebelumnya sudah pernah saya ajak 2 kali ke Bandung, pertama saat umur 5 bulan (yang ini mungkin belum begitu ngeh kalau diajak naik kereta api), dan kedua saat umur sekitar setahun setengah. Juga pernah naik kereta api ke Bogor. Tapi kereta api Jakarta – Bandung kan dalam jarak dekat (sekitar 3 hingga 4 jam saja), tentunya berbeda dengan kereta api jarak jauh.

Saya sudah agak-agak was-was, akankah Diana jadi ‘anak manis’ selama perjalanan mudik nanti?

Rupanya kekhawatiran saya tak beralasan. Diana nyaman-nyaman saja selama perjalanan. Satu-satunya yang sedikit menjadi masalah buat saya hanyalah Diana nggak mau ditidurin di atas kursi sendirian! Maunya terus dikekep dan dipangku. Kesemutan dan mati rasa deh kaki emaknya, dikasih beban 15 kilogram sepanjang malam. Hahahaha…

Di luar itu, nggak ada masalah sama sekali. *cium-cium Diana*

Selama di kampung halaman, tahun ini sedikit berbeda dengan tahun lalu yang lebih banyak kelayapannya. Saya dan suami lebih banyak di rumah bersama orang tua (bapak dan ibu mertua saya). Biar Diana juga deket sama simbahnya, karena paling hanya sekali setahun ketemunya. Mudah-mudahan tahun depan dikasih rejeki dan kesempatan buat berkunjung ke Padang (Sumatera Barat), menengok simbahnya Diana. Aamiin.

Kalau soal balik, tiket pesawat sudah berhasil kami pesan sebelumnya, dengan harga yang relatif murah.

Mudik tahun ke-2 bareng Diana ini nyenengin banget. Yang nggak seneng cuma di urusan dompet aja, sih. :mrgreen:

Tulisan ini sudah 3,709 kali dibaca

5 thoughts on “Mudik Tahun Ke-2 Buat Diana

  1. klatennya trucuk bukan sih? hihi aku lupa lupa inget.
    di pedan rame tuh. kmaren kamis pas wage pula. plus pasar malamnya jg rameee. maen maen ke pedan gak, dek diana nya?

    1. Hehehe, kalau pulang kampung pas Lebaran, enggak. Tapi kalau nggak pas Lebaran, kadang naik bus juga, kok, Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *