Mengatur Keuangan Saat Mudik

Dari dulu keluarga saya punya kebiasaan untuk mudik. Waktu masih single sih nggak ada masalah sama sekali, soalnya nebeng orang tua, tinggal duduk manis di dalam mobil. Makan jajan ya masih dibayarin semua. Mau jalan-jalan ya tinggal usul mana yang mau didatengin.

Jalan-jalan ke Pantai Ngrumput

Setelah berkeluarga sendiri, ya tetep kebiasaan mudik ini jalan terus. Positifnya, karena saya dan Wahyu berasal dari satu kabupaten yang sama, mudik jadi lebih praktis dan hemat karena setiap tahun tujuannya sama, tak perlu bergantian seperti pasangan yang berbeda asal daerahnya.

Pulang kampung tahun pertama masih bisa nebeng sama papa. Kebetulan adik saya bawa mobil sendiri, jadi mobil masih bisa longgar. Mulai tahun kedua sampai sekarang, kami mudik sendiri bertiga dengan Diana menggunakan transportasi umum. Pernah naik kereta api, pernah juga naik pesawat.

Sejak dua tahun lalu, sebenarnya simbah saya dan Wahyu sama-sama sudah nggak ada. Orang tua saya tinggal di Bekasi, jadi sebenernya sudah mulai bisa mudik deketan sih. Tapi berhubung mertua masih di Klaten, ya tetep saja setiap tahun harus mudik, biar Diana bisa ketemu sama simbahnya.

Gimana caranya kami mengatur keuangan untuk mudik? Apakah setelah mudik jadi duit habis?

Ya, memang mudik membutuhkan uang banyak. Apalagi THR hanya saya yang dapat, karena Wahyu kan kerjanya freelance. Besaran THR pun kadang tak cukup untuk menutupi semua pengeluaran mudik, apalagi jika mudiknya seperti tahun-tahun sebelumnya yang bisa 3 minggu. Belum lagi biaya untuk sekalian jalan-jalan saat liburan hari raya. Wah, bisa-bisa babak belur keuangannya kalau nggak pinter-pinter ngaturnya.

Saya juga nggak pinter sih ngatur keuangan, karena ngaturnya nggak pakai teori. Nggak yang membagi-bagi duit THR ke dalam pos-pos tertentu. Bukan pula yang menabung sekian besarnya setiap bulan disisihkan khusus untuk pos mudik. Hanya saja memang cara mengelola keuangan dengan gaya hidup sederhana setiap harinya, ternyata cukup ampuh membuat keuangan keluarga stabil kapanpun, meski pengeluaran terbesar saat mudik harus dikeluarkan.

Berusaha menghemat pengeluaran saat mudik yang biasa kami terapkan adalah sebagai berikut:

  • Karena waktu kerja yang lebih fleksibel, maka Wahyu dan Diana bisa mudik duluan sejak pertengahan bulan puasa. Mencari tiket kereta api ekonomi masih lebih mudah. Harganya bisa di bawah 100.000 per orang, jadi beli 3 seats untuk dipakai berdua (supaya Diana lebih nyaman tidurnya) nggak bikin kantong bolong. Saya sendiri tergantung kerjaan, kalau memang pas bisa ikut libur panjang, ya lebih bagus lagi, itu berarti saya tak perlu beli tiket pesawat untuk mudik yang harganya jutaan.
  • Meskipun di kampung ya banyak restoran fancy yang instagramable dan kekinian, kami tetap kulinerannya ya sebatas warung soto atau angkringan yang murah meriah. Lha makan angkringan aja udah enak di lidah dan kenyang di perut, je.
  • Sekarang udah nggak lagi nginep di hotel mihil kayak beberapa tahun lalu. Pulang ya tidur di rumah simbok aja, hahahaha. Jalan-jalan sih tetep ya, tapi sekarang yang deket rumah saja dulu, Jogja (terutama Gunungkidul) masih cukup luas untuk dijelajahi.
  • Oiya, mudik tahun ini sama sekali nggak ada pengeluaran buat beli baju baru. Semua pakai baju yang lama, termasuk Diana. Jadi pengeluaran mudik ya hanya tiket, jajan, jalan-jalan, angpau buat saudara, dan bagi buat orang tua. Ya nggak masalah juga sih seandainya THR habis (malah kurang) untuk biaya mudik. Tetep nggak ada cerita pulang dari mudik trus susah makan nunggu gajian, hehehehe. Semua balik lagi ke pengaturan keuangan harian. Kalau sudah terbiasa hidup hemat dan sederhana tiap hari, tabungan sih aman terkendali setiap saat.

Ya udah segitu aja sih ceritanya. Maaf kalau nggak bisa kasih solusi ke teman-teman yang setiap habis mudik harus puasa karena kondisi keuangan amburadul, soalnya nggak pernah ngalamin. 😉

Tulisan ini sudah 125 kali dibaca

One thought on “Mengatur Keuangan Saat Mudik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *