Mengasuh Anak Ala Nanny 911

Kira-kira 6 atau 7 tahun lalu saat saya belom menikah, saya lumayan rajin nonton tayangan Nanny 911 di Metro TV. Dulu suka geregetan gitu, kalau lihat tingkah polah anak yang muncul di tayangan Nanny 911. Nakal dan begajulan banget sih, batin saya. Sampai-sampai orang tuanya nggak tahu lagi harus berbuat apa supaya anaknya jadi ‘anak baik-baik’. Dipanggillah bala bantuan untuk mengasuh selama beberapa hari, menemukan akar masalah kenapa tingkah laku anak seperti itu hingga menemukan solusinya.

Tidak hanya satu dua episode yang saya tonton waktu itu.  Ada banyak banget. Kalau nggak salah tiap akhir pekan sore hari, Sabtu dan Minggu. Dan kini, sekian tahun kemudian, ada beberapa metode yang saya terapkan dalam mengasuh anak, menjadi ala Nanny 911. 

Saya mulai cerita dari latar belakang tindakan Diana terlebih dahulu ya. Meskipun masih batita, Diana sehari-hari bersosialisasi bersama banyak temannya. Rumah simbahnya Diana itu sudah mirip seperti PAUD, tempat anak-anak sekitar berkumpul dan bermain bersama. Dan umurnya bervariasi, mulai dari 2 hingga 5 tahun (ada sekitar 8 orang, lho). Dari sosialisasi tersebut, tentunya ada proses ‘transfer ilmu’ antar sesama anak. Mereka saling belajar satu dengan yang lainnya.

Sampai suatu saat, Diana marah dan meludah ke saya. Terkaget-kagetlah emaknya ini dibikinnya. Tapi saya lantas teringat sama Nanny 911 yang beberapa tahun lalu saya tonton. Ada untungnya juga saya nonton acara itu, jadi bisa menerapkan mengasuh anak ala Nanny 911.

Saya berlutut hingga mata sejajar dengan mata Diana. Dan menjelaskan bahwa meludah itu tidak baik, tidak boleh diulangi lagi. Kalau masih diulangi, Diana akan saya tempatkan di pojokan, sampai menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Tidak sekali jadi, sih. Perlu beberapa kali diterapkan, sampai akhirnya tidak mengulanginya lagi. Dan ‘hukuman’ duduk di pojokan tidak boleh ke mana-mana ini cukup ampuh buat Diana. Paling dalam satu menit dia sudah mengangguk-angguk tanda mengerti dan menyadari kalau dia salah, dan bakalan meminta maaf.

Saya biasanya langsung memeluknya dengan erat. Dan Diana-pun kembali ceria. Lupa akan kemarahannya.

Tantangan saya mungkin akan lebih berat lagi kalau Diana sudah lancar berbicara. Beberapa kata kasar mungkin akan dipelajarinya dari teman-teman sepermainan. Tinggal di lingkungan dengan rumah-rumah yang berhimpit sepanjang gang kecil, tentu tantangannya lain dengan yang anaknya lebih banyak bermain di balik pintu gerbang rumah yang selalu terkunci.

Mudah-mudahan saya bisa hadapi, ya. 😉

Related Post

Tulisan ini sudah 2,530 kali dibaca

2 comments on “Mengasuh Anak Ala Nanny 911

  1. same here. Nanny 911 membantu sekali. Hihihi.

  2. aku sampai beli bukunya loh mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

12,263 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>