Melahirkan Dedek Diana melalui Operasi Sesar

Saya nggak pernah membayangkan akan melahirkan secara sesar. Sejak awal dinyatakan hamil, saya percaya diri akan melahirkan bayi saya dengan normal. Apalagi kondisi kehamilan saya juga baik-baik saja, kelewat mulus bahkan karena dedek bayi di dalam perut nggak pernah rewel.

Saya ingat, awal kehamilan bulan pertama, saya naik ke Situ Gunung. Bulan kedua, saya bawa jalan-jalan ke Malang, menghadiri acara Blogger Ngalam. Bulan ketiga malah lebih jauh lagi, jalan-jalan ke Medan, Sumatera Utara. Setelah itu lanjut pulang kampung ke Klaten saat usia kandungan memasuki empat bulan karena Kakek saya meninggal dunia.

Baru, memasuki bulan ke lima, saya ‘jaga kandang’ di Jakarta saja. Tetapi bukan berarti tanpa kegiatan, karena saya justru sengaja lebih banyak beredar ke acara-acara blogger supaya lebih banyak bergerak. Bahkan sampai minggu ke 39 saya masih aktif dan terakhir mengikuti acara buka bersama bareng teman-teman blogger di Plaza Semanggi.

Bagusnya kondisi kesehatan dan aktif bergerak saja rupanya tak cukup. Karena ternyata, saya tetap nggak berhasil melahirkan secara normal. Tanggal 28 Juli 2012 hari Sabtu saya masih hahahihi dengan teman di Plaza Semanggi, buka bersama. Malam harinya, saya mulai merasakan perut saya mulas. Mungkin itu yang namanya kontraksi, saya pikir.

Saat sahur, saya sms adik di Cikarang untuk minta dijemput, supaya lebih dekat dengan orang tua saat melahirkan nanti. Jam 7 pagi jemputan tiba, lalu saya boyongan ke Cikarang. Siangnya saya ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan, sayangnya dr. Marthin Walean, SPOG tidak ada di Rumah Sakit. Oleh penggantinya, saya disarankan untuk sesar. Tapi saya masih ngeyel dan bertekad akan kontrol ke Rumah Sakit keesokan harinya untuk bertemu dengan dokter Marthin.

Keinginan saya nggak terwujud, karena malam harinya perut saya mulas tak tertahankan. Saya sama sekali nggak bisa memejamkan mata, karena setiap 10 menit terjadi kontraksi. Saat bangun sahur, saya tanya adik, apakah tanda kontraksi setiap 10 menit sekali berarti kelahiran bayi sudah dekat? Adik menjawab, ah, masih lama itu. Ntar aja ke Rumah Sakitnya kalau kontraksi sudah beberapa kali dalam 10 menit, katanya.

Baiklah, saya nurut. Jadinya saya jalan-jalan dituntun oleh suami, agar kontraksi menjadi semakin sering. Padahal saya baca, kalau sudah 5 menit sekali sudah bisa ke rumah sakit. Saya tunggu sampai jam 6 pagi, mulesnya sudah aduhai rasanya. Saya mandi dan segera minta diantar ke Rumah Sakit. Masuk IGD, dan dicek sudah pembukaan 2. Dicek darah dan urin, saya lantas boleh masuk kamar.

Saran perawat, banyak-banyak jalan saja, supaya pembukaannya lancar dan makin cepet. Dengan rasa yang cihuy, saya dituntun suami berkeliling Rumah Sakit, meski sudah nggak bisa digambarkan gimana rasanya perut saya. Sore hari, jam 15.00 dokter Marthin mengecek kondisinya, dan saya dinyatakan pembukaan 5. Cihuy! Berdasarkan yang saya baca, pembukaan 5 hingga 10 akan berlangsung lebih cepat dari pada menunggu pembukaan 1-5. Itu secara teori, lho ya.. Dokter Marthin juga memprediksikan malam nanti paling cepet jam 18.00 paling lambat jam 22 .00 bayinya sudah bisa lahir.

Nunggu jarum berputar dari jam 15.00 ke 18.00 itu kayak berabad-abad rasanya. *iya, ini lebay* Kontraksi rasanya menjadi berlipat-lipat cihuy-nya. Saya hanya bisa menahan, sambil berdoa semoga persalinan nanti lancar. Karena yang saya baca, kebanyakan teori akan hilang di ruang persalinan. Saya kan jadi sedikit ketar ketir juga. Sambil merasakan cihuy-nya kontraksi, saya mengatur nafas tarik dalam-dalam, buang pelan melalui mulut, untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kepanikan.

Jam 18.00 berlalu, saya merasa, kok belum ada tanda-tanda sudah mau lahiran? Penasaran, saya minta dicek lagi. Bidannya sampai bilang, jangan sering-sering dicek juga, karena kemungkinan bisa infeksi. Tapi saya tetep ngotot. Dan setelah dicek, hasilnya tetep baru bukaan 5. Disarankan, nanti jam 21.00 dicek lagi. Dan hasilnya tetep sama: bukaan 5!!

Dokter Marthin (melalui sambungan telpon) menyarankan untuk bedah sesar. Saya sendiri realistis. Dengan rasa yang cihuy seperti ini, nggak mungkin menunggu terus tanpa ada kepastian, apakah bukaan 5 masih bisa nambah atau tidak. Saya diskusi sebentar (lebih tepatnya meminta persetujuan) dengan suami, apakah boleh sesar. Suami mengangguk. Ya sudah, saya akhirnya harus mengubur impian untuk melahirkan secara normal.

Jam 23.20 wib, Senin 30 Juli 2012, lahirlah DIANA WAHYUDI, buah cinta saya dan suami. Saat saya masih dijahit dan Diana selesai dibersihkan, perawat membawanya ke samping kepala saya tak lebih dari 20 detik untuk dilihat. ‘Ibu, ini dedeknya perempuan, beratnya 3.200 g dan panjangnya 51 cm.’ Belum selesai saya memperhatikan detail dedek bayi saya sambil menyapa ‘Hallo, Dedek.. ‘ perawat sudah membawanya pergi lagi, entah ke mana..

Melahirkan Dedek Diana melalui Operasi Sesar

Ah, sudahlah, kan ada bapaknya di luar ruang operasi. Pasti juga semuanya nanti diurusin. Saya harus konsentrasi dengan kondisi kesehatan saya terlebih dahulu. Selama 6 jam saya diletakkan di ruang pemulihan, dan lebih dari 24 jam berikutnya saya habiskan dengan berbaring di kamar rumah sakit. Bekas bedah sesar menyebabkan saya belum mampu berjalan dan merawat bayi, sehingga dedek masih di tangan perawat Rumah Sakit.

Pertama kali melihat wajahnya dan belajar menyusui di ruangan bayi, rasa bahagia tak bisa saya ungkapkan. Meski sedih, akhirnya saya gagal melahirkan normal, tapi setidaknya saya sudah berusaha. Maafkan mama, ya, Nak..

Yang pasti, saya akan tetep berusaha memberikan yang terbaik buat Dedek Diana. Cerita soal per-asi-an, nanti disambung di tulisan yang lain ya.

Selamat datang, DIANA WAHYUDI. I love you! *uyel-uyel dedek bayi*

Tulisan ini sudah 20,164 kali dibaca

9 thoughts on “Melahirkan Dedek Diana melalui Operasi Sesar

  1. Kenapa gagal ASIX saat pertama Nik. Belum keluar ya?
    Wah aku di hari ketiga baru akhirnya gagal dan mengalah, karena setelah 3 hari, asi yang keluar hanya setetes-setetes sementara Vaya sudah puasa selama 3 hari dan bb nya turun karena tidak ada yang masuk kan. Sedih memang. Sama juga sih, selesai sesar hanya dikasih lihat 5 detik terus babynya dibawa pergi.

    Selamat yaaa…. alhamdulillah akhirnya sekarang jadi ibu :).

  2. Selamat datang dedek Diana, dan selamat ya mba Is, sudah menjadi Ibu. Gpp sesar, bagi saya tetap menyenangkan sekali baca postingan ini hihihihi

  3. Haii dede Diana, wah tante telat nengoknya nih maaf ya 🙂
    Moga jadi anak sholeha ya dan banggain mama papa.
    Mba Is selamat ya, walau melalui Caesar tapi selamat dan sehat.
    Soal ASI, dulu pun saya keluar pas sudah seminggu lahiran mba.

  4. Syukurlah mbak proses kelahirannya berjalan lancar walau melalui operasi sesar
    Semoga jadi anak yang berbakti dan bisa membanggakan orang tua 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *