Makanan Anak (Sudah) Cukup Gizi?

Kalau ditelusuri dan dibaca-baca ulang, kayaknya saya termasuk jarang ya, nulis soal makanan Diana selama ini. Tapi hari ini saya tergerak buat menulis soal makanan anak-anak, gara-gara tadi melihat tetangga memberi makan anaknya dengan sosis goreng saja. Yap. Sepiring nasi dan beberapa potong sosis goreng. Tanpa sayur.

Familiar dengan kondisi seperti itu? Ya mungkin nggak pakai sosis sih, tapi tempe doang. Atau ayam goreng doang. Atau tahu doang. Atau telur doang. Atau kadang, nasi doang. *hayoo, siapa yang suka kayak gini?*

Habis anaknya maunya begitu sih, kata mamanya beralasan. Atau, “Anak saya susah kalau disuruh makan sayur, maunya lauk kering thok.

Sampai di sini, saya musti banyak bersyukur, karena Diana tidak banyak meniru emaknya. Saya nggak suka sayur, tapi alhamdulillah, Diana doyan dan suka hampir semua jenis sayuran. Tetangga suka geleng-geleng kepala saat lihat Diana melahap tumis putren, atau saat Diana makan sayur buncis dengan serius sekali, sampai dipanggilpun nggak mau nengok.

Siapa lagi kalau bukan simbahnya yang mengenalkan berbagai rupa sayuran dan buah ke Diana. Bervariasinya jenis makanan yang masuk ke anak kita inilah, yang menjadikan memiliki jaminan kecukupan nutrisinya. Karena tak ada satupun manusia makanan yang sempurna zat gizinya.

Soal nutrisi untuk anak ini, jadi sedih kalau melihat penyebab gizi salah pada anaknya karena kemiskinan, juga kekurangan akses informasi dan pengetahuan tentang berbagai zat gizi yang diperlukan. Lagi-lagi, peran ibu yang biasanya dipertanyakan. Dampaknya tentu saja jadi mudah sakit karena tubuh nggak mampu melawan penyakit, metabolisme tubuh terhambat, hingga yang paling berat menjadikan perkembangan fisiknya terhambat.

Kembali lagi ya, hayuk, dicek, apakah makanan anak kita sudah cukup gizinya?

Makanan Diana selama ini makanan rumahan yang dimasak simbahnya. Nggak anti juga sih saya sama makanan instan, karena saya yakin sudah ada aturan untuk produsennya bahwa makanan bayi tersebut tidak memakai pengawet dan zat aditif yang berbahaya. Salah satu makanan instan yang lumayan sering saya berikan adalah Milna Toddler Biskuit dari Kalbe Nutritionals.

Milna Bayi Sehat

Kenapa memberikan makanan instan kepada bayi atau anak-anak? Buat saya sih, tentu yang paling utama segi kepraktisannya. Nggak perlu ubek terlalu lama di dapur, tapi tetep bisa ngasih makanan sehat ke anak. Kan makanannya juga sudah dipilih-pilih, bukan yang sembarangan. Yang kandungan zat gizi pentingnya sudah ditambahkan ke dalam makanan tersebut. Istilah kerennya makanan fortifikasi. 😉

Tapi tetep kok, makanan alaminya juga saya berikan, misalnya ngemil salak atau anggur. Biar anak juga nggak punya kecenderungan suka pada satu rasa saja, yang manis-manis misalnya berbagai minuman kemasan siap saji. Atau yang asin-asin dan banyak MSG-nya, misalnya. *toyor pala sendiri yang nggak bisa bilang enggak saat anaknya minta ciki-cikian*

Bayi Hebat Milna 2015

Nah, buibu yang punya anak usia 6 hingga 36 bulan dan hobi mengabadikan moment hebat si kecil, dengan tinggi dan berat badan sehat, ayok ikutan Kompetisi Bayi Hebat Milna 2015. Cek syarat dan ketentuannya di sini ya. Sttt, saya juga mau ikutan, lhoh. Ntar bantuin vote ya, kalau saya masuk 50 besar. *kepedean*

Tulisan ini sudah 1,885 kali dibaca

3 thoughts on “Makanan Anak (Sudah) Cukup Gizi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *