Makan Di Mana, Ma?

Meskipun saya nggak pernah masak, tetapi bisa dibilang juga sangat jarang makan di luar, apalagi wisata kuliner dan kemudian jadi bahan narsis di instagram. Tiap hari palingan beli di warteg A-B-C-D-E secara bergantian aja buat menyiasati kebosenan. Kalau masak mie instan dan makanan instan-instan lainnya sih, bukan masuk kategori memasak, kan? #ehgimana?

Sewaktu mudik yang lumayan lama kemarin, saya sering makan di luar. Bukan berarti nggak ada makanan di rumah, banyak malah, atau makanannya nggak enak, tapi emang dasar rakus aja. Tau-tau berat badan naek 3 kilo pas pulang ke rumah hahaha.

Makan di luar juga jangan dibayangin di restoran ya. Kota Kkaten palingan banyaknya ya soto, bakso, mie ayam, bebek bakar sama angkringan. Tapi enak-enak sih. Dan yang penting, murah. Jajan sampe perut kemlekeren bertiga, nggak habis lima puluh ribu rupiah. Hal yang sangat mustahil kalau dilakukan di Jakarta. 

Semangkuk soto seger dengan ayam kampung atau irisan daging sapi aja palingan dihargai lima ribu perak. Segelas es teh yang manisnya kayak juruh (hahaha) cuman dua ribu atau maksimal tiga ribu rupiah. Gorengan segede bagong seribu rupiah. (Iya, di Jakarta juga banyak gorengan seharga seribu perak, tapi ukuran miniatur gorengan dibanding di Klaten.)

Soto Sajianto Pedan

Ini salah satu warung soto yang sudah dua kali kami singgahi selama 3 minggu di Klaten. Warung soto ayam Sajianto, Pedan. Diana juga makan semangkuk sendiri. Eh, setengah, ding. Yang setengah lagi emaknya yang ngabisin, HAHAHAHA.

Warung lainnya yang berkali-kali kami kunjungi adalah lesehan ayam dan bebek Mbak Eny di Pasar Pedan. Enak, tapi lumayan ngantri karena laris banget.

Nah, setelah balik ke Jakarta, Diana ini nambah pinternya cepet banget. Minggu kemaren saya ajak makan di salah satu mall, seneng karena ada mini playground-nya, meski nggak bisa maksimal maen karena ‘kalah’ sama anak yang lebih dewasa. Diana milih melipir daripada didorong-dorong saat akan main seluncuran.

Hari berikutnya setelah makan di luar, saya bilang ke Diana, “Nak, makan, yuk!”

Jawabannya, “Makan di mana, Ma?”

Tulisan ini sudah 2,886 kali dibaca

4 thoughts on “Makan Di Mana, Ma?

  1. Udaaaah.. tinggal di Klaten aja #eh hahaha

    Sama deh kayak di Nganjuk sini, makanan serba murah makanya duitku gak habis habis hahaha…

    1. Hahahaha! Ntar kalau udah insyaf dari ‘blogger bayaran‘. Selama masih terima orderan, kayaknya bakalan menetap di Jakarta, nih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *