Main Ke Pantai Watulumbung, Pantai Yang Nggak Berpasir

Awalnya karena sakaw liburan ke pantai, kami memutuskan jalan ke Gunungkidul buat mantai. Seperti biasa, nggak pakai rencana, seketemunya aja nanti, eh nemunya Pantai Watulumbung. Sudah mbayangin kan, bakalan duduk manis di atas pasir kasar dengan ombak yang tenang, nggak taunya, zonk.

Zonk di sini dalam artian, bukan pemandangannya nggak indah, lhoh ya. Cuma nggak sesuai bayangan dan ekspektasi dalam menjalani liburannya saja. Tapi tetep sama serunya. Apalagi kalau buat Diana, Pantai Watulumbung yang aksesnya perlu trekking turun bukit ini, justru lebih asyik.

Yang manyun pertama justru suami sebenernya. Saya yang harus pinter-pinter ngatur mood supaya nggak ikut-ikutan ambyar. Akses jalan yang kami pilih bukan lewat jalan ke Pantai Wediombo seperti teman-teman blogger yang lain ya. Saya justru awalnya dari Tepus ngikutin plang jalan yang ke Pantai Nampu.

Karena arah Pantai Nampu terlihat lebih jauh daripada Pantai Watulumbung, suami pilih ke Pantai Watulumbung saja. Ternyata pilihan dia sendiri, bikin manyun-manyun sendiri setelah dijalani. LOL.

Baru bisa agak senyum dikit pas ada jalan bagus sedikit, ternyata juga cuma harapan palsu saja, baru 200 meteran, sudah balik lagi ke jalan berbatu. Aduh, saya yang gemes sendiri karena ngadepin supir yang hilang mood. HAHAHAHA.

Untung Diana bagaimanapun kondisinya, tetep aja yang namanya liburan ke pantai tetep bahagia. Dia udah langsung pengen nyebur aja. Padahal Pantai Watumbung ini isinya batu semua LOL.

Buat turun sampai bisa ke airnya saja perjuangan banget. Batu gede-gede semua ya Allah. Nggak ada pasirnya. Trus mau main airnya gimana? Haduh emaknya takut banget ini mau kasih Diana basah-basahan di sebelah mana.

Tapi teteplah ya, Diana bisa goler-goler di air aja udah senengnya ampun gitu. Saya yang deg-degan karena nggak mau basah, tapi ya nggak bisa juga anak dibiarin sendiri sedangkan ombak kecil aja udah bikin parno akibat di mana-mana berita tsunami Banten ini kan diulang-ulang aja, baik tipi, media online sampai Instagram aja isinya itu semua.

Untung mood suami segera bisa balik lagi ya, setelah ditinggalin sendirian di atas bukit, dia makan bekel yang dibawa sambil ‘maen hape‘.

Setelah Diana saya ajak balik dulu ke atas bukit sebentar, gantianlah dia trekking ke batu bolong di sebelah bukit yang ada di foto di atas itu sama suami. Setelah itu, ganti arah, jalan ke batu yang menjulang tinggi itu, yang biasanya dipakai buat mancing.

Seneng, akhirnya bisa main ke pantai selama liburan akhir tahun 2018 kemaren, dan ini jadi satu-satunya pantai yang kami datangi. Biasanya dalam satu waktu liburan akhir tahun kami bisa datang ke dua atau tiga pantai (liburannya panjang, 18 hari) tapi berhubung berita tsunami kemarin bikin takut juga hahahaha.

Terbukti juga kan, Pantai Watulumbung kemarin sepiiii banget. Selama kami di sana, cuma ada satu pasangan yang datang sebentar, foto-foto selfi-selfi trus naik pulang lagi. Dan saat kami naik, ada satu pasang lagi yang baru mau turun.

Kalau di atas sih di tempat foto-foto yang ada tulisan Pantai Watulumbung itu lumayanlah ada beberapa orang tapi ya mereka nggak turun ke pantainya. Turun ke pantainya itu mayan ngos-ngosan juga ya Allah, ketahuan banget lagi kurang olah raga akhir tahun kemarin, hehehe.

Oke, nanti lanjut lagi ya dengan tempat wisata lain yang kami datangi liburan lalu, masih banyaaakk!

Related Post

Tulisan ini sudah 363 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

10,516 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>