Lemari Pakaian Anak Yang Lebih Cepat Penuh

Lemari Pakaian Anak

Saya bukan orang yang (terlalu) senang berbelanja. Senang sih, tapi terkadang berpikir lebih baik uangnya disimpan buat biaya sekolah Diana nantinya. Tahu sendiri kan, biaya sekolah saat ini bukan ratusan ribu lagi tapi udah juta-jutaan, yang kalau dibayangin nanti sepuluh tahun yang akan datang, bisa bikin pening kepala.

Jadinya, kalau mau belanja, mikirnya juga berkali-kali. Itupun sering kebobolan juga kalau pas lagi window shoping dan tiba-tiba laper mata. Hahaha. Tau-tau, beberapa hari ke depan, pak pengantar paket datang ketok-ketok pintu nganterin belanjaan. Selesai dicuci dan diseterika, lemari udah penuh sesak aja. Mau ditutup kadang butuh usaha beberapa kali, karena mentok nyangkut baju di rak bawahnya. Hahaha. 

Lemari Pakaian Diana

Ini sih lemari baju Diana. Kondisinya sekarang udah nggak kayak gitu lagi, karena bajunya udah ada yang madep ke sono dan madep ke sini, miring-miring gitu, nyari space kosong buat nyempilin baju-baju. Kalau lemari baju emaknya isinya kebanyakan kaos dari gudibek doang, baju yang bisa dipakai ke luar rumah mah dikit doang.

Dulu milih lemari baju yang ukurannya lumayan kecil ini, dengan pertimbangan supaya Diana bisa mandiri memilih dan memakai bajunya sendiri. (Kalau mau tahu tempat saya membeli lemari baju anak ini, bisa baca artikel ini ya..)

Terbukti sih, Diana maunya pakai baju pilihannya sendiri, dan semuanya berjenis dress. Jarang banget mau dipakaiin celana. Apalagi jumpsuit lah ya, jenis baju itu punyanya yang ukuran bayi doang. Jadinya, baju yang dipakai itu-itu lagi, sedangkan baju lainnya banyak nganggur di lemari.

Kegemarannya pakai baju model dress ini kayaknya karena Diana keseringan nonton Frozen. Melihat Elza yang cantik jelita dengan rambut panjang dan dressnya yang cantik, jadi Diana kebayangnya kalau mau cantik ya pakai baju yang mirip dengan itu kali ya. Untung aja nggak minta warna yang sama. Yang penting dress. Tapi kan emaknya males kalau harus diburu-buru setrika baju, padahal belom waktunya. 😉

Mengorganisir Baju Anak

Terkadang berhasil saya akali dengan meletakkan baju bermodel dress di rak bagian bawah, yang biasanya paling akhir dibuka, atau malah nggak dibuka sama Diana. Tetapi kalau sedang semangat, bajunya bakal diperiksa satu per satu buat nyari yang model dress ada atau enggak. Haduh. Awut-awutan lagi deh lemarinya. Mamanya sakit pinggang lagi deh ngerapiinnya. Soalnya bajunya kan lumayan banyak.

Baju Diana yang bikin lemari cepat penuh ini karena banyak yang beliin dan kasih baju. Selain simbahnya Diana, ada tantenya yang rutin mensuplai baju-baju Diana. Belom lagi kakak sepupunya yang lungsuran bajunya bertumpuk-tumpuk. Dan Diana hapal lho, baju ini siapa yang beliin, baju itu siapa yang ngasih, semua dia tahu.

Tempat Menyimpan Baju Anak.

Sebenernya saya tahu sih, satu solusi jitu supaya lemari pakaian anak nggak kepenuhan lagi. Yap! Singkirkan yang sudah tak terpakai. Tapi naluri emak-emak suka susah ya, merelakan barang yang di matanya masih bagus, buat dibuang. Mikirnya karena masih muat, siapa tahu besok-besok anaknya masih mau pakai lagi. Padahal udah beberapa bulan cuma jadi pajangan doang.

Kegunaan dari menyortir pakaian anak yang sudah tak terpakai ini juga bisa dipakai sebagai alasan buat… menuhin lemari lagi!

Ayok belanja lagi yok! Hahahaha.

Tulisan ini sudah 1,287 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *