Kontrol Pertama ke Dokter Spesialis Anak

Kemarin, Rabu 8 Agustus 2012, untuk pertama kalinya saya membawa Dedek Diana kontrol ke dokter spesialis anak. Dari jadwal yang diminta jam 08.00 pagi, saya sengaja molor menjadi jam 09.00 pagi. Dan saya bersyukur baru datang jam 09.00, karena dokternya baru ada setelah jam 10.00! 😐

Suasana rumah sakit saat itu menjadi ‘tak terkendali’ menurut saya. Antrian pasien anak yang akan berobat mengular. Saya hanya bisa merinding. Membawa anak saya yang baru berusia beberapa hari, ditengah banyak orang dengan kemungkinan berbagai penyakit yang dideritanya! Wew. Saya mondar-mandir saja tak tenang sambil menggedong Dedek Diana. Seorang Ibu dengan pandangan mata cekung dan sayu menggendong bayi laki-laki dengan bibir kering dan pecah-pecah menghampiri, dan bertanya: ‘sakit apa?’ Saya hanya menggeleng sambil menjawab, ‘nggak sakit, kontrol doang’…

Untunglah, sebelum keadaan menjadi lebih kacau, sang dokter datang. Dan baru kali ini pengalaman saya, ada dokter yang memanggil 3 orang pasiennya sekaligus untuk masuk ke dalam kamar! Tiga orang masuk, dan keluar. Tiga orang berikutnya lagi masuk, dan lalu keluar. Cepet!

Dedek Diana WahyudiGiliran saya tak harus menunggu waktu lama. Dari tiga orang yang diminta masuk berbarengan dengan Dedek Diana, pasien yang nomer dua ‘disemprot’ karena terlalu lama membaringkan anaknya di tempat tidur untuk diperiksa. “Ayo, buruan, ada jadwal operasi nih!’ Saya langsung memetik pelajaran: saya siapkan Dedek Diana sehingga nantinya tak perlu lagi mendapatkan teguran dokter ini.

Dedek Diana saya baringkan di tempat tidur, dan membongkar bedongnya saat dokter masih sibuk menuliskan resep untuk pasien ke dua. Saat bedong saya buka, dyaar! Ternyata Dedek Diana buang air besar. Langsung saya bongkar tas untuk mengambil popok dan tissue basah untuk membersihkan.

Giliran perawat yang ‘menegur’ saya dengan suara keras. “Ibu kenapa bayinya nggak dipakein pemp**s sih!?’ Saya tak menjawab. Saya bersihkan saja Dedek Diana, langsung saya ganti popoknya.

Saya bukan seorang yang anti menggunakan popok sekali pakai, dan kemungkinan memang akan menggunakannya sesekali waktu nanti, tetapi hingga Dedek Diana berusia satu minggu, saya memang belum kepikiran untuk menggunakan popok pakai buang itu. Saya masih menikmati memakaikan dan mengganti popok kain Dedek Diana yang basah atau kotor terkena pup dengan popok kain yang baru. Kemudian mencuci dan menjemurnya lagi hingga kering dan siap digunakan berkali-kali. Tak terlintas memang di pikiran saya akan merepotkan orang lain ketika harus mengganti popok saat diperiksa oleh dokter. Tapi apakah memang hampir setiap orang saat ini berpikiran praktis ya? Sehingga seorang perawat pun sampai-sampai harus menegur saya untuk menggunakan popok sekali pakai??

Beres mengganti popok, tak lebih dari semenit kok, saya cukup cekatan dalam hal ini, dokter langsung memasang stetoskop dan menekan-nekan dada Dedek Diana. Apa kira-kira hasilnya, entah. Karena dokternya juga nggak bilang apa-apa. Dokter hanya bertanya, ‘Ini bayi dimandiin nggak?’ Saya jawab, ‘Enggak, dokter. Hanya dilap saja. Kan takut pusernya basah, karena belum puput.’ ‘Dimandiin! Ini saya kasih bedak dan sabunnya ya.’ Saya diam saja. ‘Kalau pagi dijemur, nggak?’ ‘Dijemur, doker.’ ‘Berapa lama?’ ‘Antara setengah sampai satu jam.’ ‘Besok harus satu jam, jangan cuma setengah.’ Perawat lalu menyodorkan lembaran resep untuk dibawa ke apotik. Dan berakhirlah sudah sesi kontrol Dedek Diana ke dokter spesialis anak itu. Nggak sampai 5 menit sodara-sodara!

Saya nggak akan komentar banyak soal dokter dan perawat itu, serta proses kontrol singkat itu. Semua juga langsung saya komunikasikan dengan suami. Dan selanjutnya berpikir untuk mengakhiri hubungan sampai di sini. 😆

Sayang saja harus mengeluarkan biaya yang lumayan besar, pemeriksaannya mungkin nggak jauh lebih baik dari pada bidan tetangga rumah. Atau, kalau perlu sama tantenya saja, gratis. :mrgreen:

Tulisan ini sudah 7,319 kali dibaca

3 thoughts on “Kontrol Pertama ke Dokter Spesialis Anak

  1. Wkwkwkww….
    Memang begitu juga yang aku rasakan waktu dulu pertama kali kontrol. Sudah mengantri lama, disertai panik dan cemas, eh tahu-tahu dokternya hanya meriksa sebentar aja.

  2. waktu kontrol Java aku pilih datang ke rumah dokternya (dokternya buka praktek di rumah). pelayanannya lebih oke. beda banget sama pelayanan di RS. dokternya juga jadi lebih ramah dan bisa ditanya macem-macem 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *