Kenangan Masa Kecil (Yang Tak Semuanya Indah)

Kenangan Masa Kecil

Dari kecil saya sudah tidak tinggal bersama orang tua. Terpaksa harus dititipkan ke saudara dan kakek nenek karena keadaan ekonomi orang tua yang tidak bagus. 

Sejauh yang saya ingat sih, tinggal bersama itu hanya sampai kelas 1 SD. Kelas 2 SD sudah dititipkan di rumah Pakde di Piyungan. Lalu lanjut ikut lagi sama orangtua tinggal setahun di Gunungkidul, dan kembali ditipkan ke simbah di Klaten.

Lulus kuliah dari Bandung, baru saya tinggal ikut orang tua sekitar dua tahun. Bener-bener cuma itu saja sih yang full.

Hidup jauh dari orang tua yang pasti bisa mandiri. Mau nggak mau sih, karena waktu itu simbah sendiri juga masih punya tanggungan menyekolahkan anaknya yang paling kecil yang beda beberapa tahun doang dengan saya.

Jadi kayak nyuci baju sendiri, masak, nyari rumput buat makan sapi, ke sawah nanem dan panen padi, itu udah dari kecil saya lakuin. Salah satu kenangan yang tak terlupa itu adalah bahagianya bisa mandi di sungai yang aliran airnya bening setelah selesai mencari rumput. Juga saat dikejar pemilik sawah ketika saya dan teman-teman mencuri beberapa batang tebu, hehehe. (Diana suka kalau saya ceritain ini sebelum tidur)

Kalau ngomongin sedihnya ya pasti banyak ya. Bisa ketemu orang tua palingan setahun sekali atau setahun dua kali. Tapi ya balik lagi, hal tersebut bisa jadi pengalaman tersendiri yang nggak bakal bisa lupa. Seperti saya yang masih SD tapi udah bisa naik kereta api sendiri ke Jakarta buat ketemu orang tua. Kereta api ekonomi jaman tahun 1980an akhir awal 1990an, wow, nikmat banget deh, hahahaha. Bisa masuk ke dalam kereta dan tidur di kolong tempat duduk aja sudah bersyukur.

Makanya kalau saya bisa seperti hari ini sekarang, salah satunya karena tempaan kerasnya hidup waktu masih kecil. Sepertinya. Hahahaha.

Biasa hidup hemat dan sederhana tidak sombong dan rajin menabung. Biasa hidup susah, nggak punya keinginan bermewah-mewah, apalagi cuman buat sekedar terlihat kaya di sosial media.

Nggak bakalan lupalah dari mana berasal. Tapi ya karena bukan jenis orang yang ambisius banget, kelemahannya jadi agak cepat puas. Begini aja udah bersyukur, jadi gitu mikirnya. Trus, nggak ngoyo ngejar yang lebih tinggi dan tinggi lagi, gituuu..

Sekalian karena ngomongin masa kecil saya dulu, sambungin sama Diana ya, karena sekarang saya udah jadi emak-emak.

Dulu sewaktu masih gadis, saya pun punya keinginan pengen anak 4 juga. Tapi pas beneran udah punya anak, jadi mikir lagi, dan berubah keinginan jadi punya 1 anak saja.

Saya tahu, jalan hidup orang itu udah ada yang ngatur. Termasuk orang tua saya yang pada saat punya anak 1 (saya) berada di atas roda, tetapi langsung terjun ke bawah saat bertambah anak menjadi 2 hingga 4. Belum tentu juga saya dan keluarga akan mengalami hal serupa, tapi mungkin alam bawah sadar saya masih belum bisa melupakan kenangan masa kecil saya tersebut ya.

Ekstra berhitung banget, bagaimana caranya bisa memenuhi kebutuhan keluarga, sampai dengan cita-cita menyekolahkan Diana sebaik-baiknya.

Jadinya saat Diana berharap adik, emaknya nggak bisa penuhin deh. Udah dipikir bolak-balik ini ya. Kepret kalo ada yang ceramah ya. Kalau sama Allah dikasih lagi mah ya nggak perlu dibahas lagi, emangnya mau ditolak? Tapi ini kan rencana manusia, boleh kan saya berencana? *lhah, kok jadi esmosi, Sist? Santai aja, woy!*

Ya kalaupun skenario terburuk keluarga saya harus berputar rodanya ke bawah, orang tua saya dan adik-adik saya sih saat ini pasti dengan senang hati membantu, karena mereka dalam kondisi cukup prima ekonominya sekarang. (((PRIMA)))

Oiya, salah satu kenangan masa kecil juga yang nggak bisa dilupakan dan suka bikin senyum-senyum sendiri adalah nama pacar pertama waktu masih cinta monyet dulu, sama persis dengan nama pacar terakhir yang akhirnya jadi suami sekarang. Hahahaha.

Tulisan ini sudah 3,140 kali dibaca

2 thoughts on “Kenangan Masa Kecil (Yang Tak Semuanya Indah)

  1. Lha kok sama? Dulu juga jauh sebelum nikah, saya pengen banget punya 4 anak, eh ndilalah pas beneran punya anak, baru dua aja udah kibar bendera putih hahahaha……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *