Kecil-kecil Kok Galak?

Kecil Tapi Galak

Saya dan suami hobi banget ngajak Diana main ke taman. Bisa dibilang, kalau sempat, sore hari meskipun cuma sebentar, kami akan berputar di taman, melihat kereta api lewat. Apalagi, setelah Jokowi jadi gubernur, taman di dekat rumah langsung disulap menjadi tempat bermain yang nyaman buat anak-anak.

Ada ayunan, ada jogging track yang selalu digunakan untuk berolah raga oleh yang lebih ‘sepuh’, ada tempat duduk-duduk buat orang tua yang lagi nunggu anaknya bermain, dan ada pula lapangan bolanya.

Setiap kali ke taman ini, Diana jadi ‘anak manis’. Mungkin karena ada beberapa alternatif permainan, jadi dia ngerti kalau saya bilang harus gantian naik ayunannya. Saya ajak dulu ke tempat besi-besi yang bisa dipanjat. Dipegangin sama bapaknya, Diana bisa naik sampai ke tingkat ke tiga. Kalau bosen, dia sudah bisa tertawa-tawa walaupun cuma bisa sekedar keluar masuk lingkaran besinya.

Sempat juga Diana meminjam bola milik kakak-kakak yang sedang beristirahat sehabis bermain. Ditendangnya bola kesana-kemari, dan saat saya minta bolanya dikembalikan, Diana membawanya ke kakak-kakak itu dan menyerahkan bolanya.

Tetapi, ada kalanya juga kami tidak bisa membawanya ke taman. Biasalah, terkadang harus berbagi tugas, ada tugas yang harus kami kerjakan. Solusinya, paling mengajak Diana bermain ke lapangan di dekat rumah. Lapangan ini adalah lapangan multi fungsi. Lokasinya ada di dekat kantor RW. Kalau sore, penuh dengan bapak-bapak yang bermain voli, ibu-ibu yang memberi makan anak-anaknya, hinga anak-anak yang bermain layangan.

Diana juga suka saya ajak ke lapangan ini. Meski tidak ada ayunan, ada satu besi yang bisa dinaiki, sama kayak yang ada di taman. Karena tak banyak yang bisa dilakukan oleh balita di lapangan ini, begitu saya turunkan dari stroller, Diana langsung menuju ke tangga besi. Ada seorang anak yang saya tebak lebih tua dari Diana, meskipun ukuran badannya lebih kecil, langsung didorong.

Duh, saya langsung deg-degan. Parah nih, kalau sempat jatuh, tanggung jawab pula saya. Diana, ndak boleh, Nak, kalau mainan bareng-bareng sama kakaknya ya, saya bilang. Walah, kecil-kecil kok galak juga nih anak, batin saya.

Saya langsung inget protesnya teman main Diana. Anak tetangga yang usianya mendekati TK berkata, “Sama mbak Wawa, menang Diana, sama mbak Maya, menang Diana, sama mbak Dita, menang Diana!” PR banget nih buat saya, biar Diana bisa bermain dengan temannya tanpa harus selalu diistimewakan, meskipun usianya lebih kecil.

Tulisan ini sudah 2,793 kali dibaca

3 thoughts on “Kecil-kecil Kok Galak?

  1. Sama kayak thifa nih mak, dulu sering kayak gitu kalo mainan, temen yang di depannya di dorong. Tapi sekarang udah agak mendingan sih, tiap saat saya bilangin, mainnya sama-sama, harus mau gantian, bla-bla-bla gituu deh

  2. HAHAHHAHAHAA.. Aku kok ngakak yaaa.. Mbayangin adegan Diana mendorong temannya itu hahaha..

    Udah kelihatan tuh mbak, mau diarahkan ke mana nantinya si Diana… kalau nggak Polwan yaaaa… diikutkan pencak silat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *