Ke Curug Bayat Atau Curug Tegalrejo Gedangsari

Setiap kali pulang kampung, ada semacam kebiasaan untuk jalan-jalan. Apalagi sekarang ada Diana, jadi sekalian mengenalkan kampung halamannya, asal usul kedua orang tuanya. Curug Bayat atau yang lebih tepat disebut dengan Curug Tegalrejo, Gedangsari ini, berada tak jauh dari rumah bapaknya Diana. Hanya sekitar 10 kilometer saja jaraknya, dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit.

Meskipun saya dan bapaknya Diana sama-sama berasal dari Klaten, kami sebelumnya tidak mengenal objek wisata yang satu ini. Saya menemukannya dari sebuah blog traveling yang dimiliki oleh seorang pemuda dari Yogya. Baca-baca, kok sepertinya nggak bakalan jauh dari rumah. Saya nggak nyangka kalau ternyata hanya berjarak 10 kilometer saja.

Air terjun Tegalrejo Gedangsari ini posisinya masuk ke dalam wilayah administatif Kab. Gunung Kidul, Propinsi Yogyakarta, tetapi masyarakat sekitar banyak yang menyebutnya dengan Curug Bayat, karena jalan menuju curug ini memang mudah dicapai dari Kec. Bayat, Kab. Klaten.

Ke Curug Bayat Atau Curug Tegalrejo Gedangsari

Ke Curug Bayat Atau Curug Tegalrejo Gedangsari

Kalau mau ke Curug Bayat, lebih baik sih memang pakai kendaraan pribadi ya (bisa mobil, motor atau sepeda), karena kalau nungguin kendaraan umum, bisa tua di jalan, karena letaknya yang lumayan jauh dari kota. Bisa dibilang, ndeso lah ya. Tapi pemandangan dan suasananya, jangan salah! Mantap!

Dari yang saya baca, akses masuk ke Curug Tegalrejo Gedangsari ini dari kantor Kecamatan Bayat, yang di depannya adalah kantor Koramil. Masuk dari pertigaan itu. Lurus terus sampai menemukan Gapura perbatasan Jawa Tengah dan Yogjakarta.

Ke Curug Bayat Atau Curug Tegalrejo Gedangsari

 

Ke Curug Bayat Atau Curug Tegalrejo Gedangsari

Jalanan yang kami lalui menuju Curug Bayat ini relatif sepi, sehingga untuk bertanyapun harus menunggu orang lewat, atau mencari sampai ketemu orang yang ada di depan rumah. Kami juga tidak membayar retribusi tiket tanda masuk, karena memang tidak ada loketnya. Yang kami baca dari beberapa blog memang bervariasi, ada yang membayar ada pula yang tidak. Petugas mungkin tidak berjaga karena saya datang di hari kerja (bukan Sabtu atau Minggu), sehingga tidak ada wisatawan yang datang.

Untuk biaya parkir sepeda motor sendiri, sudah naik dari tarif tahun lalu yang saya baca di banyak blog. Kami membayar Rp. 3.000,- per sepeda motor, sedangkan tahun lalu masih Rp. 2.000,- saja per sepeda motor. Tempat parkirnya sendiri sudah lumayan bagus, dilengkapi dengan warung minuman berada di dekatnya.

Jalanan menuju air terjun belumlah bagus. Rumput-rumput liar setinggi dada masih mendominasi. Batu-batu kali yang besar jadi tempat pijakan. Memang agak susah sih, karena air terjun ini kan ada di aliran sungai, jadi ya tidak tepat juga kalau dibangun tangga sampai ke lokasinya. Debit air saat musim penghujan bisa jadi sangat bbesar dan bisa menyapu bangunan yang ada di sekitarnya.

Selama 10 menit kami berjalan, sampailah di Curug Bayat ini. Tiga buah air terjun dengan jarak yang berdekatan. Bukan air terjun utama yang paling atas seperti yang ada di beberapa blog yang saya baca. Tetapi sudah cukuplah, untuk bermain-main air bersama Diana. Untuk mencapai air terjun yang lebih tinggi, saya males mendaki sambil menggendong bocah 15 kilogram ini, hehehe…

Air terjun ini tidak terlalu tinggi. Mungkin hanya 4 meter saja. Di bawahnya ada kolam dengan kedalaman sekitar 3 meter. Hari itu saya cukup beruntung karena ada 3 orang pemuda lokal yang sedang bermain di air terjun. Mereka melompat dari atas dan berenang di kolam di bawah curug tersebut. Berkali-kali mereka melompat bergantian. Untuk naik ke atas air terjun, mereka mendaki bebatuan di samping air terjun.

Saat ini musim kemarau, debit air di Curug Tegalrejo Gedangsari ini sangatlah kecil. Meskipun kecil, tetapi air cukup bersih dan segar dingin. Cuma sedikit sayang, kondisi lingkungan di sekitar curug ini lumayan kotor. Masih kurang kesadaran penduduk dan wisatawan yang datang, sehingga terlihat beberapa sampah plastik yang tergenang.

Diana pengennya nyebur, tetapi setelah melihat pemuda lokal yang terjun dari ketinggian dan sepertinya mengerikan (dari pemikiran Diana), makanya pas saya bilang Diana nggak usah nyebur ya, langsung mengangguk dia.

Berbincang dengan pemuda lokal tadi kami jadi mendapat satu informasi. Bahwa lokasi ini setiap tahunnya ‘meminta korban’. Tetapi tahun ini belom ada, sehingga objek wisata ini lumayan sepi. Memang sih, percaya nggak percaya, cerita seperti ini beredar di banyak tempat.

Sekitar 2 jam kami berada di Curug Tegalrejo ini. Udara segar. Cuaca juga tidak terlalu panas. Tetapi Diana sudah mulai bosan berada di situ. Ya sudah, nggak bisa apa-apa lagi kalau Diana sudah mulai rewel.

Oiya, bulan Juli 2014 ini, jalanan dari rumah sampai ke Curug Bayat ini lumayan mulus. Jalan Raya Cawas Bayat, Kabupaten Klaten kan baru saja dibenerin.

Tulisan ini sudah 6,299 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *