Imunisasi DTP, Terus Panas, Itu Biasa

Saat ini usia dedek Diana 2,5 bulan, saatnya untuk imunisasi lagi. Jadwalnya dapat imunisasi DTP dan Polio 2. Berdasarkan yang saya baca, program imunisasi yang dibiayai oleh pemerintah antara lain adalah hepatitis B, polio oral, DTP, BCG dan Campak. Sedangkan imunisasi yang harus kita bayar sendiri adalah PCV, Hib, Rotavirus, HPV, Tifoid, Hepatitis A, MMR, Influenza dan IPV (polio suntik).

Dulu, seorang teman pernah curhat, kalau biaya imunisasi anaknya bisa mencapai hingga Rp. 500.000,- sekali treatment. Karena saat itu belum punya anak, ya cuma bilang, owh mahal juga ya, tanpa cari tahu tentang hal itu. Giliran sudah ada dedek Diana, baru deh gedubrak gedubruk cari informasi, kenapa imunisasi pada bayi bisa semahal itu. Rupanya, biaya mahal itu bisa terjadi karena adanya tarif konsultasi dokter spesialis anak (dsa) dan menggunakan vaksin dari produsen yang berbeda dari yang digunakan oleh proses imunisasi yang disubsidi pemerintah.

Imunisasi DTP, secara umum oleh masyarakat dikenal dengan istilah imunisasi dengan memakai panas, dan imunisasi tidak memakai panas. Dalam medis, panas itu disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

Setelah membaca artikel ini dan disebutkan:

Reaksi pada anak bisa bermacam-macam. Demam-tidaknya, ditentukan banyak faktor antara lain kondisi anak saat diimunisasi dan kondisi vaksin. Demam atau panas disebabkan suntikan P (Pertusis) yang merupakan kuman yang dilemahkan. Jika tubuh tak bereaksi terhadap kuman, berarti daya tahan tubuh kurang memadai. Jadi, dengan suntikan DPT memang diharapkan timbul reaksi panas/demam.

Bayi Tidur Tengkurap

Nah, justru “penanda” berhasil atau tidaknya imunisasi justru dengan hadirnya panas tersebut. Melihat rekam jejak dedek Diana yang lebih imun terhadap penyakit saat saya sebagai emaknya saja dua kali tumbang (baca: sakit), maka saya memutuskan untuk melanjutkan proses imunisasi di puskesmas saja. Tentu karena gratisan, ya imunisasi DTP dengan proses panas. Hanya perlu biaya daftar puskesmas Rp. 2.000,- ditambah sumbangan untuk PMI Rp. 1.000,- dan menebus paracetamol Rp. 5.000,-

Selesai imunisasi jam 10 pagi, proses memanasnya badan dedek Diana dimulai jam 13.00. Saya perbanyak pemberian asi, dan dedek Diana lebih banyak tidur. Jam 16.00 suhu tubuhnya tinggi (saya nggak punya termometer, jadi maaf nggak tahu berapa tepatnya), terpaksa saya berikan paracetamol setengah sendok teh. Awalnya saya mau tahan hanya diberi asi saja, tapi panasnya meninggi, meski tak disertai dengan rewel. Biasa-biasa saja, nggak nangis.

Malamnya, suhu badan tetap anget dan dedek Diana begadang sampai jam 01.00 dini hari. Keesokan harinya setelah mandi pagi, seluruh asi dalam perutnya keluar semua. Entah ini gumoh atau muntah namanya, setelah saya susui sedikit, kembali saya beri paracetamol setengah sendok teh karena badannya masih anget.

Saat ini, sambil memperhatikan perkembangan dedek Diana pasca imunisasi DTP dan polio oral, saya perhatikan hasil imunisasi sebelumnya, BCG. Dari bacaan yang sama, tertulis:

Dua bulan kemudian, di bekas suntikan tersebut terjadi luka kecil yang melendung dan kadang bernanah. Itu pertanda bahwa vaksin BCG-nya “jadi” dan luka itu nantinya akan mengering menjadi bentol kecil. Jadi, ciri imunisasi BCG yang berhasil ada dua, yaitu kulit yang melendung jika penyuntikan dilakukan dengan benar dan terjadinya luka kecil dua bulan kemudian jika vaksinnya mencapai sasaran.

Hore!! Imunisasi yang saya lakukan “hanya” di bidan, tanpa biaya mahal, ternyata berhasil juga. Lengan kanan dedek Diana sudah melendung dan bernanah. Saya beli rivanol dan saya kompres dengan kapas kecil. Sekarang sudah kering, tapi masih agak sedikit gembung di lengannya. Siplah, nggak perlu test Mantoux deh.

Hari ini, dedek Diana sudah nggak panas lagi. Asyik, satu imunisasi lagi telah terlampaui prosesnya.

Tulisan ini sudah 30,475 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *