Harus Bertanggung Jawab Atas Janji

Moment menjelang Lebaran tahun ini, punya cerita tersendiri tentang janji. Saat akan membeli baju Lebaran (iya, sebelum pertengahan puasa, kami sudah belanja untuk Lebaran, hahaha) saya dan suami juga sepakat untuk membelikan Diana sebuah sendal baru, karena sendalnya yang lama sudah kesempitan. Jari kakinya sudah mbrojol, melebihi ukuran sendalnya. Jadilah kami pergi ke mall bertiga.

Sendal kesempitan
Ini kondisi sendal tahun lalu. Jadi kebayang kan gimana majunya itu jari Diana tahun ini pakai sendal yang sama?

Yang dibeli tentunya kebutuhan buat emak dan bapaknya terlebih dahulu. Karena perlu cari yang cocok, jadi harus nyobain beberapa tempat. Sedangkan sandal Diana sudah pasti toko yang akan dituju (Kidz Station) karena ada voucher MAP yang bisa dipakai. Nah, pada saat mencari kebutuhan orangtuanya, lewatlah kami di area display mainan anak. Merengeklah Diana meminta ke sana.

Sebenernya kalau kami mau menuruti dan menyediakan waktu, akan sangat mudah ‘mengatasi’ rengekan Diana. Asal sabar menemaninya melihat-lihat semua jenis mainan yang ada, dengan mudah akan kami bilang ke Diana, “Nak, mainannya harganya mahal. Harus pakai duit yang banyak. Sekarang mama belom punya duitnya. Nanti mama sama bapak kerja dulu ya, ngumpulin uang, kalau sudah cukup, baru kita beli.”

Biasanya Diana akan ngerti. Cukup kami temani dengan sabar saja, berkeliling melihat satu per satu sampai dia puas. Sayangnya, kami tidak cukup sabar hari itu, karena sudah lumayan menguras tenaga dan masih punya satu agenda lagi, mencari sendal Diana di mall yang lain. Jadi, ada satu kesalahan yang terucap, membuat janji untuk membeli mainan di tempat kami akan membeli sendal nanti. Diana akhirnya mau. Jadi nanti beli sendal dan mainan, katanya.

Sesampainya di Kidz Station, yang mana itu emang tempatnya jualan baju, sepatu, sendal, tas dan mainan buat anak, Diana langsung menagih janji. Sendal sudah dibeli dan dibayar, Diana mengajak bapaknya berkeliling toko. Walah. Semua mainan di situ kan harganya mahal (buat ukuran kantong kami ya). Bingunglah kami. Mana yang ditunjuk yang harganya di atas 300 ribu! Duh.

Saat kami bilang, hari ini belinya sandal aja ya, Nak, Diana protes menolak. “Bapak tadi sudah bilang. Belinya sandal sama mainan!”

Aaaahhh. Kami salah karena tidak menepati janji. Saya langsung meminta maaf kepada Diana. “Nak, mama minta maaf ya. Ternyata hari ini duitnya nggak cukup kalau buat beli sendal dan mainan. Maaf ya. Mainannya diganti sama telur, boleh?”

Akhirnya Diana mengangguk. Tetep sambil manyun karena kami nggak jadi membelikan mainan buat dia. Tapi kami langsung menepati janji membelikan dia telur kesukaannya. Kinder surprise egg. Meskipun saat pulang Diana dalam keadaan tidur, saya langsung bangunkan saat sampai di mini market dekat rumah untuk membeli telur itu, meskipun saya bisa membawanya sampai rumah dalam keadaan tetap tidur. Belajar, bahwa bertanggung jawab dan menepati janji itu tidak hanya dilakukan kepada yang sudah dewasa saja, tetapi juga kepada anak-anak.

Tulisan ini sudah 3,214 kali dibaca

4 thoughts on “Harus Bertanggung Jawab Atas Janji

  1. Java juga sering aku ajak nego kalo minta mainan mahal.
    Jadinya sekarang kalau diajak ke toko mainan dan disuruh pilih sendiri, Java pasti nanya “ini mahal gak, ma? ” , “yang ini boleh?” 😀

  2. Wow, mainan kayak apa ya harganya sampe di atas 300 ribu. :O

    Btw, kok kolom komentarnya ini hurufnya keciiil banget ya kak?

    1. Mainan LEGO dan Play Doh, Kak. Harganya emang segituan rata-rata.

      Aku balikin lagi ini theme-nya ke theme yang lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *