Habiskan Makananmu

Habiskan Makananmu

Nemu infografis di Twitter tentang negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia bikin bengong juga karena Indonesia ada di peringkat kedua setelah Saudi Arabia. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung, 300 kilogram per orang per tahun! Wow, ini negara dengan pesan kebiasaan orang tua “habiskan makananmu” lho.

Tapi ternyata dari infografis tersebut dijelaskan, bahwa di negara kaya, sampah makanan dihasilkan dari makanan sisa yang terbuang, sedangkan di negara berkembang, sampah makanan lebih banyak dihasilkan dari bahan yang sudah tidak bisa .digunakan lagi sebelum mencapai konsumen.

Agak masuk akal juga sih. Soalnya kalau limbah sisa makanan yang tidak dihabiskan dari atas meja makan dan piring saji, kok agak heran ya, kalau mencapai 1 kg per orang per hari. Kebiasaan baik habiskan makananmu ini kan familiar banget di budaya orang Indonesia. Bahkan ada yang pakai kalimat “nanti nasinya nangis kalau nggak dihabiskan” segala.

Belum lagi di beberapa daerah (meskipun skala kecil) masih ada juga yang hidup di garis kemiskinan yang buat makan sesuai dengan kebutuhan kesehatan badan saja sulit.

Yang mengkhawatirkan, dari limbah makanan tersebut akan menghasilkan methane yang 21 kali lebih berbahaya dari pada CO2. Padahal kalau ¼ saja dari seluruh limbah makanan yang dihasilkan oleh dunia itu bisa diselamatkan, makanan tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan makanan dari orang-orang yang kelaparan di dunia ini, huhuhu. Sayang sekali ya.

Ngomongin soal sisa atau limbah makanan yang dihasilkan, bener banget sih menurut infografis tersebut setidaknya kalau di keluarga kecil saya ini. Sebagian besar makanan yang terbuang adalah bahan yang sudah lama saya beli dan hanya menumpuk di dalam kulkas sampai akhirnya tidak layak lagi untuk dikonsumsi atau dimakan. Akhirnya berujung dibuang ke tong sampah. Semangat doang saat membelinya, Huh!

Terkadang yang kayak gitu jadi semakin bikin pembenaran saya untuk beli makanan mateng saja, jajan. Soalnya malah lebih bisa terkontrol jumlah makanan yang dibeli, nggak buang-buang makanan karena kalayu beli mahal ya, sayang dibuang, belinya pas sedikit saja sekali makan. HAHAHAHA. Kalau dihitung pengeluarannya memang jauh lebih boros, tapi setidaknya nggak menambah masalah sampah bagi dunia ini. Tsah.

Ke anak saya juga ngajarin untuk selalu habiskan makananmu. Saya cenderung ngambilin makan Diana dalam porsi kecil supaya nggak nyisa. Kalau masih lapar atau berasa kurang, boleh bilang nambah, tapi yang ada di piring selalu usahakan untuk habis. Jangan dibuang. Bahkan kalau terpaksa nggak habispun, emaknya selalu siap jadi tong sampah kan ya? Itulah sebab kita agak sulit untuk punya body yang proporsional yes?

Sampah makanan selain dari makanan yang tidak sempat diolah namun sudah terlalu lama disimpan, di keluarga saya juga seringkali berasal dari hasil masakan yang porsinya kebanyakan. Namanya juga masak sendiri, kalau sedikit kan sayang juga tenaganya. Maunya sekali masak bisa untuk dua tiga kali makan. Tapi itu cuma teori, karena kalau sudah makan sekali, yang ada malas untuk makan dengan lauk yang sama.

Tapi ya kebiasaan buruk itu harus mulai dikurangi lah ya. Kalau masak secukupnya saja. Belanja bahan makanan juga nggak perlu kalap. Nggak usahlah terpengaruh sama selebgram yang foto food prep di dalam kulkasnya. Anggota keluarga cuma 3 orang yang nggak terlalu hobi makan itu, kebutuhan bahan makanannya nggak sebanyak selebgram itu. Sama satu lagi, kalau makan di luar juga order secukupnya aja, jangan sampai makanan cuma dicolek doang buat difoto. HAHAHAHA.

Gimana pengalaman teman-teman agar makanannya nggak kebuang sia-sia jadi sampah?

Tulisan ini sudah 140 kali dibaca

4 thoughts on “Habiskan Makananmu

  1. bener tuh mbak, saya juga ngalamin kalau kadang beli bahan makanan, semangat belinya doang tapi lupa masaknya sampai pas mo belanja bulanan baru inget pas ngecek apa-apa aja yang mau dibeli.

    jadi lebih baik nggak beli dulu, kalau emang pengen masak baru deh beli di mini market. kalau gak ada ya udah gak usah masak yang itu.

    1. Tuh, kan, bener kan? Kalap belanja itu bukan cuma saat lihat diskonan baju, tas dan sepatu ya? Urusan belanja buat perut juga seringnya kalap dan berakhir sia-sia. Hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *