Drama Memerah Asi Pertama Kali

Sebagai konsekuensi dari keputusan saya dan suami untuk melahirkan secara sesar, maka impian saya memberikan asi eksklusif bagi Dedek Diana pupuslah sudah. Masa pemulihan pasca operasi yang saya jalani selama 1×24 jam, membuat saya harus dipisahkan dari Dedek Diana, dan mempercayakan pengasuhan kepada pihak Rumah Sakit dan memberikan persetujuan untuk diberikan susu formula ke Dedek Diana.

Hmmm, asi eksklusif itu memang sulit sekali ya, untuk diterapkan. Berdasarkan definisi yang pernah saya baca, pemberian asi ekslusif itu berarti murni bener-bener hanya asi selama 6 bulan pertama. Bahkan pemberian air putih saja bisa dianggap sebagai hal yang ‘membatalkan’ sebutan asi ekslusif.

Anyway, balik lagi ke soal asi buat Dedek Diana. Di hari pertamanya, Dedek Diana diberi susu formula. Bagusnya, Rumah Sakit tempat saya melahirkan tidak memberikannya dengan dot. Penggunaan dot dapat menyebabkan bingung puting pada bayi. Susu formula diberikan dengan sendok ke dalam mulut bayi.

Drama Memerah ASI untuk Pertama Kali

Hari ke dua, Dedek Diana saya bawa pulang. Dengan semangat 45, saya mencoba menyusuinya. Hasilnya, Dedek Diana sama sekali nggak mau minum asi langsung dari saya. Paniklah. Terpaksa memberikan susu formula lagi untuk menghentikan tangisannya yang amat kencang akibat kehausan.

Oke, kalau nggak mau minum langsung dari payudara, berarti saya harus memerah asi saat ini juga, pikir saya. Langsung saya bongkar Philips Avent manual breast pump saya. Saya praktek memerah, dan selama satu jam hanya mendapatkan 20 ml asi perah dari dua payudara. Puting padahal rasanya udah panas akibat dipompa terus menerus.

Selama beberapa kali saya ulang memerah asi, hasilnya sama saja, nggak nambah-nambah. Padahal selama ini saya baca-baca tulisan blogger lain, ketika memerah asi di kantor, hasilnya sekali perah bisa sampai 100 ml. Di bagian mana salah saya sehingga hasilnya sangat sedikit?

Hari ketiga, sama saja. Puting saya bahkan sudah menjadi sangat kering dan lecet-lecet. Makin lama payudara makin mengeras dan sakit luar biasa. Kata Mama, kalau asinya nggak bisa keluar, nanti bisa panas dingin. Waduh. Padahal usaha saya memerah buat ngeluarin asi saya pikir sudah maksimal.

Kata mama dan sepupu sih, asi yang sudah mengeras bisa ‘dicairkan’ dengan memakai lap dan air hangat sambil dipijit. Saya coba, kok nggak ngaruh ya. Saya lantas beli alat kompres panas, dan mengompres sambil memerah selama tiga jam berturut-turut untuk menghilangkan asi membatu tersebut.

Suami memberi semangat, demi Dedek Diana, harus mau berjuang ekstra keras. Saya bolak-balik kamar dan dapur, memanasi airnya kalau sudah sedikit dingin, dan mengompreskannya sambil memerah asi sampai akhirnya dapat 80 ml dari dua payudara. Horay!

Perjuangan belum berakhir, karena asi belum sepenuhnya melunak. Masih ada bagian-bagian yang keras. Tapi tiga jam berturut-turut memerah asi itu juga menguras tenaga. Dan yang pasti membosankan. Maka saya bertekad melanjutkannya keesokan harinya.Nah, mulai hari ke empat dan seterusnya, sudah nggak ada masalah lagi dengan asi perah yang saya hasilkan. Rata-rata sudah bisa menghasilkan 30-50 ml sekali perah, cukup untuk memberi minum Dedek Diana.Masalahnya, sampai kapan saya harus memerah susu? Ini pekerjaan tambahan banget, karena seharusnya bayi sudah bisa langsung sedot dari payudara ibunya. Memerah asi pada umumnya kan dilakukan kalau si Ibu sudah harus kembali bekerja. Lha ini ibunya kan masih ada di samping dedek bayinya…

Tugas lanjutan saya adalah mengajari Dedek Diana buat minum asi langsung dari tempatnya. Sehingga ‘pekerjaan’ memerah asi ini adalah untuk stok di masa depan, bukan buat minum hari per hari, sedangkan si ibu masih ada di sisinya.

Semangat! *kencangkan ikat kepala*

Tulisan ini sudah 19,752 kali dibaca

One thought on “Drama Memerah Asi Pertama Kali

  1. Ah…. tetap berjuang ya…
    Aku dulu juga begitu, sampai payudara bengkak dan demam karena setengah mati dipompa gak mau keluar.
    Lalu seminggu setelah di rumah baru saya sadar, ternyata saya yang salah posisi saat menyusui, sehingga bayi juga tak nyaman menetek. Sudah dipompa tak keluar2 juga, lecet, perih….

    Begitu posisinya benar, hap…! Langsung lahap. Dan payudara rasanya pun enak karena akhirnya keluar juga…. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *