Ditinggal Bapak Ke Bengkulu Selama Seminggu

Seminggu lalu, saya dan Diana kelon-kelonan aja berdua di rumah. Nggak ada bapaknya, karena selama 8 hari bekerja jalan-jalan ke Bengkulu. Yap, 8 hari!

Kenapa saya dan Diana nggak ikutan?

Alasan utamanya, tentu saja karena saya harus ngantor. Nggak bisalah 8 hari berturut-turut kabur [lagi]. Libur Lebaran kemarin kan sudah 20 hari di kampung halaman. Bisa-bisa dipecat nantinya. 😆

Jadinya, Bapaknya berangkat sendirian ke Bengkulu. Jalan-jalan backpacking dengan daerah tujuan yang nggak mainstream. Jarang traveller yang ke Bengkulu, kalau saya lihat dari beberapa travel blogger yang blognya terkenal di Indonesia. Rata-rata ya Bali, Derawan, Karimunjawa, Lombok, Wakatobi, Ambon, Raja Ampat (kalau yang duitnya lumayan banyak).

Googling Bengkulu? Sedikit sekali hasilnya. Tapi ya sudahlah, justru karena nggak banyak yang jalan-jalan ke Bengkulu, bapaknya Diana mau membuktikan, ada apa di Bengkulu yang bisa dilihat dan dijelajahi.

Dan memang, tidak terlalu banyak yang didapatkan (obyek wisatanya), kalau dilihat waktu lamanya di Bengkulu adalah 8 hari. Mungkin termasuk pejalan pelan, kali ya… Nggak cuma datang, foto-foto, trus kabur. Kebanyakan kan begitu kan ya, cuma sekedar nunjukin “ini lho, aku sudah pernah ke sana”.

Tetapi kalau yang dihitung adalah pengalamannya, cerita yang didapat di balik tempat-tempat yang sudah dikunjungi, dan berhubungan langsung dengan orang-orang lokal, pastinya banyak banget yang didapat.

Seperti membuktikan sendiri bahwa beberapa orang lokal akan meminta rokok kepada kita, setelah tahu atau bertanya dari mana asal kita dan dijawab dengan “Jakarta”.

Juga mengetahui bahwa batik khas Bengkulu yang dijual di toko oleh-oleh bukan dibuat oleh pengrajin lokal, melainkan dibawa dari Klaten dan Solo (kampung halaman saya!). Informasi ini didapat setelah ngobrol dengan mas tukang bakso yang langsung “ditembak” diajak ngomong dengan bahasa Jawa.

Dan, karena niatnya dari awal memang baik, mau mengangkat pariwisata Bengkulu melalui tulisan yang akan kami bikin, bantuan itu datang tidak terduga. Suami diantarkan ke beberapa lokasi wisata oleh teman yang sama sekali sebelumnya belum pernah kenalan. Hanya memperoleh nomer handphone dari satu forum backpacker, eh, langsung menawarkan bantuan menjadi seorang guide.

Saya dan Diana setiap malam berdua saja, sepi di dalam kamar, sambil menunggu telpon dari Bengkulu. Diana, selama beberapa hari memang lagi mogok makan. Bukan karena ditinggal bapaknya sih, tetapi kemungkinan karena gigi geraham yang sebelah bawah mau numbuh. Jadi gusinya bengkak dan nggak nyaman. Tiga hari sama sekali nggak kemasukan nasi. Ya sudah, sedot terus nenen emaknya, sampai-sampai saya lemes, hehehe…

Pengennya sih ya bisa jalan-jalan bertiga terus, tapi ya terpaksa kalau nggak bisa, salah satu aja yang jalan. Ini kedua kalinya Diana ditinggal. Yang pertama saya pergi ke Bali 3 hari beberapa bulan lalu. Diana pinter, nggak rewel, kok.

Tulisan ini sudah 7,742 kali dibaca

4 comments on “Ditinggal Bapak Ke Bengkulu Selama Seminggu

  1. Kalau travelingnya kelamaan biaya hotel dan biaya hariannya malah jadi membengkak dong. Rencana travel backpaker yg mau menghemat malah nggak tercapai.

  2. isnuansa on said:

    Kemarin itu 8 hari di Bengkulu plus tiket pesawat PP cuma habis 1,5 juta lhooo.. Ntar mudah2an suami segera nulis ceritanya, ya Bu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

12,552 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>