Diana Lagi Fase Separation Anxiety

Aahh, saya pikir ngasuh Diana bakalan mulus kayak paha jalan tol. Ternyata, ya banyak gronjalannya sepanjang jalan. Nggronjal tapi asyik. Jadi jangan dianggap ini ngeluh ya… Fase yang sekarang saya hadapi adalah separation anxiety.

Kaget juga sih ngalamin separation anxiety setelah Diana berumur 2 tahun. Padahal kalau baca-baca, biasanya antara anak umur 7 atau 8 bulan, hingga sekitar 1,5 tahun (18 bulan). Lha, ini kan sudah lewat masanya? Kenapa Diana baru kena ini fase separation anxiety?

Separation anxiety ini intinya anak takut pisah atau ditinggal orang tuanya. Jadi, pas pagi hari saya harus berangkat kerja, Diana nangisnya kejer. Pengennya sama saya terus, nggak mau sama simbahnya. Dari rumah udah nggak mau digendong keluar rumah menuju rumah simbahnya. Njempling-njempling, mbalikin badannya ke belakang (padahal sedang digendong), sambil kepalanya mobat-mabit ke samping (pernah kena lingir pintu). Duh.

Baru dua mingguan ini sih. Saya menduga ini karena kelamaan nempel ke saya Diananya selama 24 jam penuh, padahal biasanya sama simbahnya saat siang hari, paling tidak 6 jam. Sejak awal puasa sampai seminggu setelah Lebaran, praktis saya banyak liburnya daripada kerjanya. Liburan seminggu ke Bali, mudik seminggu ke Klaten, dan baru mulai saya tinggal kerja lagi sekitar dua minggu lalu.

Diana sepertinya #gagalmoveon. Semakin besar, semakin ngerti kalau saya adalah emaknya yang diharapkan bisa menjaganya 24 jam. Bukan orang lain (meskipun itu adalah simbahnya sendiri).

Biasanya, setiap kali saya tinggal kerja, Diana baik-baik saja, nggak pakai acara nangis-nangis. Saya selalu pamit, salim, dadah-dadah dan kiss bye. Lha kok sekarang kena separation anxiety dan harus melalui drama nangis-nangis kejer. Ya tetep saya tinggalin sih. Untungnya nggak terlalu lama juga nangisnya kata simbahnya. Kalau sudah diajak main, sebentar juga sudah lupa.

Tugas saya sepanjang malam sekarang ini bertambah. Kasih pengertian ke Diana, bahwa emaknya harus bekerja, cari uang, buat beli keperluannya. Dan anaknya paham sih. Berulang-ulang saya beri pemahaman, dan Diana akan jawab dengan cepat kalau ditanya, “Siapa yang nangis tadi waktu ditinggal kerja?” Diana, jawabnya sambil nunjuk diri sendiri. Saya melanjutkan dengan, “Diana pinter ya, kerja itu buat cari duit, buat beli apa?” Apa coba jawabannya? “Es krim, sendal, baju dan celana.” Hahahaha… Eh, sekarang nambah satu lagi yang lebih spesifik, dua buah baju bergambar Rapunzel si rambut panjang.

Meski sudah ratusan kali diulang kasih penjelasan, dalam satu dua hari ini masih aja susah diajak keluar rumah menuju rumah simbahnya. Tapi sudah ada kemajuan sih, pas ditinggal, sudah nggak nangis kejer lagi. Ini juga masih tanda tanya sih, apakah memang sudah hilang separation anxietynya, atau hanya pas kebetulan saja, mainan dan teman saat saya tinggal lebih menarik hatinya sehingga anteng saja Diana main sama temannya.

Mudah-mudahan, kalau sudah terbiasa lagi sama simbahnya, Diana perlahan hilang separation anxietynya. Kalau teman-teman gimana? Pernah ngalamin anaknya separation anxiety juga?

Tulisan ini sudah 4,173 kali dibaca

4 thoughts on “Diana Lagi Fase Separation Anxiety

  1. ya, karena saya di rumah, anak-anak nempel terus. Malah ada masanya yang bener2 nempel sampe ke WC juga ngikut. Tapi, sekarang udah lewat masanya 🙂

  2. Baca komen atasku, wah kalau ke wese sampe ikut, udah agak bahaya ya hahaha..

    Ternyata ibu2 jaman sekarang ini pinter2 ya. Coba kalau tanya ibukku, apa itu Separation Ansaiyeti, pasti nggak ngerti.

    Hahahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *