Diana Ke Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

Pertama mengetahui ada sebuah trip planner mengadakan open trip ke Gunung Padang, suami ngajakin saya jalan-jalan selanjutnya ke sana. Saya bilang, oke. Tapi sama bapaknya Diana, belum juga didaftarin secara resmi. Saya tahunya begitu mengajak adik saya buat ikutan, ternyata seat-nya udah abis. Lhaaah, batal deh jalan-jalan, pikir saya. Untungnya, ada berita gembira, karena mobil akan ditambah satu buah lagi, sehingga total didapatlah 25 orang (termasuk saya, suami dan adik saya).

Berangkat jam 06.00 pagi rencananya dari Plaza Semanggi, jadinya molor sampai 07.00, entah dengan alasan apa. Nggak malu ya sama bayi Diana yang sudah mandi jam 04.00 pagi demi bisa datang tepat waktu?

Perjalanan Plaza Semanggi – Stasiun Lampegan ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam di atas Elf. Diana nggak pernah nangis sama sekali, cuma ah-uh dikit doang, kira-kira seperempat jam sebelum tiba, karena bosan kali ya. Jadi dia minta dipindah-pindah antara pangkuan saya, suami dan adik. Lamanya perjalanan disebabkan sistem buka tutup di Puncak, sehingga perlu berhenti total selama kurang lebih setengah jam, dan begitu masuk Cianjur menuju ke arah Situs Megalitikum Gunung Padang sendiri kondisi jalannya hancur. Saya tidak menyarankan teman-teman buat bawa mobil sendiri apalagi yang berjenis sedan (kecualinya mobilnya prima dan jenis tinggi), kalau sopirnya nggak ahli, bisa-bisa nangis darah, hahaha

Jam 12 tiba di stasiun Lampegan, sebuah stasiun yang sudah mati. Jika stasiun ini beroperasi, maka mengunjungi situs megalitikum Gunung Padang akan menjadi mudah karena kita bisa naik kereta api, dari Sukabumi menuju Lampegan, atau bahkan dari arah Bandung menuju Lampegan. Dan kemudian dilanjutkan dengan naik ojeg sejauh kurang lebih 3 kilometer saja menuju Gunung Padang. Tetapi karena stasiun ini tidak beroperasi, ya seperti saya itulah, paling-paling ikutan trip planner biar bisa sampai atas sana dengan resiko yang bisa diperkecil.

Begitu turun dari kendaraan, Diana udah langsung cerah ceria aja. Tuh, dia yang pertama ke mulut terowongan, sebelum yang lainnya asyik foto-foto narsis. Sebenernya kalau buat emaknya, nggak begitu tertarik sama sebuah stasiun yang sudah mati. Secara sedari kecil kereta api itu udah ‘makanan sehari-hari‘. Saya nggak tahu tepatnya panjang terowongan Lampegan ini berapa ya, tetapi kok saya yakin masih lebih panjang terowongan yang harus saya lewati ketika naik kereta api dari Jakarta menuju Bandung, dari Jakarta menuju Klaten, ataupun dari Jakarta menuju Malang.

Diajak masuk terowongan yang gelap gulita, Diana juga berani, lho!

Sebagai ibu menyusui, perut saya sudah minta diisi lagi, padahal tadi ketika macet di Puncak sudah makan paket HokBen dan sepanjang perjalanan juga ngemil. Yang lain masih asyik foto-foto, saya pesan mie rebus dan kopi di warung yang ada persis di depan stasiun. Mie rebus dengan telur ini praktis, karena mienya bisa saya makan, sedang telurnya satu utuh buat makan Diana. Harga di warung ini bener-bener harga normal, secangkir kopi cuma 2.000 rupiah saja, dan mie rebus tambah sebutir telur hanya 6.000 rupiah.

Hallo dari Stasiun Lampegan!

Saat hujan mulai turun, dan seluruh peserta kumpul, barulah makan siang yang sebenarnya. Sekotak nasi dengan ayam goreng, sayur dan buah. Nyam! Diana juga masih mau saya kasih makan dengan nasi dan ayam. Bener-bener nggak ngerepotin kan bayi saya yang umurnya masih 15 bulan ini?

Tas kamera bapaknya jadi mainan.

Dari stasiun Lampegan, perjalanan dilanjutkan menuju Situs Megalitikum Gunung Padang. Karena kondisi hujan dan jalanan yang buruk menjadi semakin licin, sekitar setengah jam kemudian lah ya, baru bisa tiba di pintu gerbangnya. Begitu sampai di Gunung Padang, bagian bapaknya yang gendong Diana, dan saya yang pegang kamera.

Mari berpetualang, Nak. Katanya ada 378 anak tangga ke atas sana. Males juga kalau disuruh ngitung, kita buktiin aja ya, mampu atau enggak menggendongmu sampai di puncaknya. Dan YAY, kita berhasil!

Kalau nggak lagi hujan, dan jam juga sudah sore, pasti kamu akan lebih puas lagi berjalan ke sana ke mari di Gunung Padang ini, Nak. Sayangnya, selain gerimis yang tak henti-henti, kabut tebal juga menyapu puncak Gunung Padang. Rombongan memutuskan segera turun dan menuju Curug Cikondang. Saya, suami dan adik sih pengennya udah langsung pulang saja, tetapi kan ini ikut trip planner, dan yang lainnya masih mau ke Curug Cikondang. Ya sudah.

Jalanan buruk ditambah hujan deras itu perpaduan yang klop untuk membuat jantung berdegup kencang. Bagaimana tidak? Kondisi mobil ya tau sendiri kalau angkutan untuk umum di Indonesia. Kiri kanan jalanan, kalau lagi beruntung ya ada kebun tehnya, tapi nggak jarang juga ada kelokan yang di sampingnya jurang menganga. Jalan licin lho ya, dan hari juga mulai gelap. Penumpang di belakang, mulutnya tak berhenti mengeluarkan kata “aduh” dan “aduh“, membuat seisi mobil menjadi makin stress. Kalau dalam mobil itu anggota keluarga saya, pasti sudah disuruh turun. Hahahahaha… Ya begitulah, kalau nyali kecil tapi pengen disebut petualang. *ampun ya teman seperjalanan kalo baca tulisan ini*

Pada akhirnya, ya pulang juga, nggak mampir di Curug Cikondang, karena sudah gelap, mau lihat apa? Jalanan yang gelap, ditambah sopir mobil belum pernah ke Gunung Padang, jadi tanya-tanya arah deh tiap nemu belokan. 😆

Dari magrib sampai jam 12 malam perjalanan pulang Gunung Padang menuju Plaza Semanggi. Diana juga nggak sekalipun nangis, lho! Nangis pas kaget dibangunin buat digendong turun dari Elf, tapi langsung diem begitu tahu digendong sama emaknya. Saya dan suamipun melipir ke Kampus Atmajaya ngambil motor dan pulang ke rumah. APAAA? Bawa bayi naik motor? IYA! Makin takjub kan? 😆

Selama perjalanan Atmajaya – rumah, Diana malah melek, mungkin udah agak puas tidurnya selama perjalanan pulang dari Gunung Padang. Setelah sampai atas kasur, bayipun seperti punya pikiran “Aaahh, akhirnya sampai rumah juga…” karena langsung nyungsep di posisi favoritnya.

Trus, habis berapa ke Gunung Padang? Murah meriah kok. Biaya yang saya bayar ke trip planner 3 x 195.000 untuk saya, suami dan adik (harga ini sudah termasuk satu kali makan siang). Beli makanan dan minuman bekal perjalanan sekitar 100.000, sarapan paket HokBen 3 x 27.000, kopi 3 x 2.000, mie rebus 6.000, tiket masuk ke toilet (beberapa kali) anggaplah 10.000, bakso 3 x 10.000, parkir motor 20 jam di Atmajaya cuma 2.000 (karena tukang parkirnya sudah pulang! jadi satpamnya cuma minta 2.000 aja). Kalau ditotal-total, bertiga nggak habis 900.000,- Emang sih, kalau ngeteng (nggak bawa bayi) palingan seorang habis 100.000 doang. Tapi ini udah murah lah ya. 😀

Yang penting hati senang dan bayi riang. Bukan begitu? 😉

Related Post

Tulisan ini sudah 7,021 kali dibaca

9 comments on “Diana Ke Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

  1. Melly on said:

    Duh pengennya deh bisa ke gunung padang, itu dd Diana anteng bgt ya..hihi asik bgt jalannya klo kayak gitu mah

  2. waaah, diana sudah bisa berdiri. btw pemandnagannya bagus, ada rel keretanya juga…

  3. seruuu… tapi aku bukan tipe petualang mak, jadi kalau naik Elf licin kyknya istghfar mulu daah hahaha. Aku tipe kepo apalagi kalau berhubungan dengan sejarah konspirasi gini hihihi (yg katanya Atlantis di Indonesia ituuu). Tetep ah pengen kesana…

  4. hmmm….jadi pengen kesana bawa anak-anak. Naik kereta dari Jakarta ke Sukabumi dulu bisa kali ya

  5. dedek diana sudah belajar adaptasi kedua orang tuanya nih, ga rewel diajak kemana-mana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

11,250 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>