Diana Ke Pantai Pangandaran, Yay!

Saya sudah memesan hotel Arnawa sekitar seminggu sebelumnya untuk hari Senin sampai dengan Rabu. Tapi ternyata, saya masih harus masuk kerja hari Senin dan Selasa, karena ada meeting penting antara bos dan temannya. Padahal jadwal bos sebelumnya adalah keluar kota. Jadwal bos yang berubah, makanya saya juga harus ngikutin.

Untungnya, staf hotel Arnawa ini baik dan sangat responsif. Hari Kamis atau Jumat (lupa) saya minta diubah pemesanan hotelnya via email, dan langsung dikonfirmasi bahwa saya diijinkan mundur menginapnya di hari Rabu hingga Jumat. Asyik! Urusan hotel beres, saya anggap semuanya ikut beres.

Hari Selasa pagi juga saya belom packing. Rencana memang cuma jalan-jalan santai, tanpa banyak itinerary dan target harus ngapain aja selama di Pangandaran. Musim hujan gini juga siapa yang bisa memprediksi gimana cuaca nanti di sana?

Pulang kerja jam 3 sore, saya langsung mampir beli ‘jajanan’ buat di perjalanan nanti, beli lauk makan malam dan memesan taksi buat jam 19.00. Diana yang sejak pagi badannya tiba2 anget, masih anget juga sore itu. Nenen sebentar, eh, tidur pules dia jam 16.00. Lumayanlah, saya bisa setrika baju sambil packing barang bawaan. Semua masuk dalam satu tas, Deuter 40L.

Jam 19.00 taksi datang, dan sepanjang perjalanan ke Kampung Rambutan macet total. Padahal lewat jalan tol itu, dan bukan hari Jumat. Jakarta makin nggak jelas ini jam macetnya bisa kapan aja. Perlu satu setengah jam buat menuju terminal Kampung Rambutan.

Di dalam taksi, Diana eek. Jadi sampai Kampung Rambutan, ganti diaper dulu. Setelah itu baru cari bis ke Pangandaran. Seseorang menunjukkan bisnya dan kamipun naik. Namanya Gapuraning Rahayu. Tarifnya Rp. 95.000,- per orang (Desember 2014).

Bis Gapuraning Rahayu Ke Pantai Pangandaran

Tip: Saya sarankan naik dan mencari bis di dalam terminal Kampung Rambutan saja. Cari petugas. Nggak usah diladeni kalau ditanya calo. Tarifnya standar kok. Bayar juga kalau bis sudah jalan. Dan pengalaman kemarin, bis langsung masuk tol tanpa mencari penumpang lain di sepanjang jalan. Saya bersyukur tidak mengikuti saran beberapa tulisan blogger lain yang menunggu di Jalan Baru. Selain jalanan penuh asep dan debu yang nggak baik, nunggu di jalan tentu berdiri. Nunggu di dalam bis AC di terminal, pastinya jauh lebih nyaman.

Jam 21.00 bis meninggalkan Kampung Rambutan, dan saya bersyukur Diana lumayan kooperatif selama 7 jam perjalanan sama sekali nggak rewel, padahal badannya masih panas. Cuma saya dan bapaknya Diana aja yang sama sekali nggak bisa merem, padahal ngantuk dan badan udah capek berat. Kenapa nggak bisa merem? Karena ada ibu-ibu di sebelah saya mabok darat selama sepanjang perjalanan dan mengeluarkan suara hoek-hoek yang cukup keras. Waduh, rasanya pengen nyelem ke dasar lautan, tapi ya kami cukup bisa memaklumi, karena jalur selepas Nagrek, Malangbong Garut, Tasikmalaya hingga Banjar itu bener-bener berkelak-kelok nanjak naik turun muter kayak uler keket kegatelan.

Bis yang saya tumpangi lumayan banyak membawa penumpang. Ada lebih 25 orang yang kesemuanya penduduk lokal yang pulang kampung. Tak satupun turis macam kami ini.

Sampai di Pangandaran jam 04.00 pagi dan kami turun di depan Masjid Raya Pangandaran. Mampir minimart dulu membeli obat turun panas buat Diana, takutnya nanti makin panas. Berbekal GPS, saya dan suami jalan kaki menuju hotel Arnawa untuk titip tas. Dindut ini bener-bener udah bikin orangtuanya encok seketika deh, kalau minta digendong terus-terusan.

Pantai Timur Pangandaran

Setelah dari hotel Arnawa, kami ke Pantai Pangandaran bagian timur buat ngelihat sunrise. Sayang pagi itu lumayan mendung, jadi foto-fotonya kurang begitu kece. Di Pantai Timur Pangandaran ini saya dan Diana sarapan bubur ayam. Trus lanjut ke Pantai Barat Pangandaran buat leyeh-leyeh sambil nunggu waktu check in hotel tiba.

suasana pagi pangandaram

Tiba di Pangandaran

Udah foto-foto, maen, wawancara tukang perahu, wawancara nelayan, beli ikan asin, cari-cari rental sepeda motor (yang ternyata susah di Pangandaran), nungguin Diana tidur lagi sebentar, trus brunch, eh, jam masih aja belom ada di angka 10.

Tiga jam lagi baru bisa check in, gimana ini? Langsung aja deh, ke Arnawa lagi  siapa tahu dibolehin early check in. Dan alhamdulillah bisa! Yippie! Langsung deh mandi dan tidur!

panorama arnawa

Berenang di The Arnawa

Jadwal hari itu cuma kami habiskan buat berenang di hotel dan melihat sunset di pantai Barat Pangandaran (yang sore itu gagal dilakukan karena mendung). Malam hari kami cari makan di luar hotel. Ada banyak warung yang menyediakan menu nasi rames ala-ala warteg gitu di Pangandaran, dengan harga wajar tempat wisata (sekitar Rp. 30.000,- sekali makan lengkap dengan minum teh manis anget). Kenapa jauh-jauh ke Pangandaran nggak makan sea food? Karena nggak terlalu suka. Hahaha.

Malam harinya saya memilih istirahat, tetapi bapaknya Diana masih tetep saja menjawab prospek kerjaan. Ya disyukurilah ya, di saat jalan-jalan perlu dana lumayan, tetep aja ada yang nawarin kerjaan. Bisa buat modal jalan-jalan selanjutnya.

Sarapan di Hotel Arnawa

Sarapan di Hotel Arnawa Pangandaran

Hari kedua, saya nggak ikutan lihat sunrise di Pantai Timur. Suami sendirian aja keliling-kelilingnya. Saya ‘nyiapin‘ Diana di kamar buat sarapan. Sarapan di The Arnawa Hotel ini lumayanlah, ada beberapa macem. Ada nasi goreng, kwetiau goreng, capcay, ayam, kentang goreng, salad, bubur ayam, roti bakar dengan berbagai selai, bisa pesen omelet, sereal dengan susu, buah, ada kopi, teh, jus dan air putih. Nggak sekomplit hotel bintang 5 sih (yaiyalah) tapi berbagai pilihan yang ada ini berguna banget buat ngasih makan anak seumuran Diana yang kadang suka susah makan. Kalau pagi-pagi perut udah kenyang terisi, minimal setengah hari kita udah nggak terlalu khawatir anak kelaperan.

pantai barat pangandaran

Setelah selesai sarapan, kami bertiga ke Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Harga tiket masuknya di hari biasa adalah Rp. 15.000,- per orang. Hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional Rp. 20.000,- per orang. Seorang guide mencoba menawarkan jasanya kepada kami, tetapi dengan halus kami menolaknya. Kami terus saja masuk. Saya membawa tas penuh dengan mainan pasir milik Diana (karena rencananya sehabis ini akan ke pantai), beberapa macam jajanan ringan dan roti, juga dua botol minuman. Di depan pintu kami sudah disambut oleh rusa-rusa yang sedang makan rumput. Belum ada seratus meter kami berjalan, saya dikejutkan oleh 3 orang pekerja di cagar alam yang berjalan ke arah kami, sambil melompat-lompat tepat di belakang saya. Rupanya, seekor ular hijau berbisa hendak melintas di jalanan, kurang dari 2 meter dari jalan yang sudah saya lewati. Dan Diana ada di belakang saya! Saya langsung meminta Diana berhenti. Dan ularpun digiring menuju pohon oleh para pekerja. Ular hijau ini habitatnya di atas pohon dan berbisa. Nggak kebayang kalau saya lewat pas dia lewat.

Kamipun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di pintu menuju goa Parat, kembali kami ditawari jasa oleh 3 orang guide, untuk menjelajahi gua. Kami menolaknya lagi, dan memilih untuk tetap jalan di atas rute paving block. Selang 50 meter sesudahnya, monyet-monyet mulai terlihat. Awalnya, saya dan suami sempat beberapa kali mengambil gambar. Yang lainpun mulai berdatangan. Kami senang. Tapi kok ada satu yang mulai maju mendekati saya? Saya yang membawa tas perbekalan. Saya mencoba menghalau. Kebetulan saya memegang tongkat kayu sepanjang kira-kira setengah meter juga. Monyetnya justru mengerang sambil menunjukkan taringnya yang tajam-tajam. Monyet lain berdatangan. Kami pun memilih pergi dari situ. Nggak lari sih, tapi mundur perlahan-lahan.

Bersama Rusa di Pangandaran

Kami akhirnya duduk di sebuah kursi yang dibuat dari batang pohon tumbang, sudah dekat dengan pintu masuk. Beristirahat di sana sambil membuka bekal dan mulai makan roti. Roti saya sudah habis. Roti suami baru sepotong yang dimakan, ketika seekor monyet tiba-tiba mendekat dan tahu-tahu sudah amat dekat dengan kami. Daripada ditubruk dan dicakar monyet, suami memilih melemparkan rotinya jauh-jauh supaya diambil oleh monyet. Kamipun kembali kabur ke depan gedung informasi. Ngobrol dengan petugas, yang menjelaskan bahwa perilaku monyet di cagar alam Pangandaran ini memang sudah berubah, akibat terlalu sering dikasih makan oleh pengunjung.

Diana dan Rusa Pangandaran

Untuk keamanan, sebaiknya tidak masuk ke dalam cagar alam Pangandaran dengan membawa tas, apalagi tas keresek berwarna hitam. Apapun yang ada di dalam tas keresek berwarna hitam, akan dikira makanan untuk monyet. Rupanya sudah banyak yang trauma dengan monyet-monyet di cagar alam Pangandaran ini (setelah saya googling).  Tetapi kok tidak ada petugas yang mengingatkan kami saat masuk ke objek wisata cagar alam Pangandaran ini ya? Seolah-olah tidak tahu, atau memang tidak peduli dengan keselamatan pengunjung? Atau, bersikap masa bodoh, karena tidak memakai jasa guide? Kenapa uang tiket masuk diminta, tetapi tidak peduli dengan keselamatan pengunjung? Kami mungkin memaklumi jika kunjungan di akhir pekan, dalih jumlah petugas yang mengawasi tidak sebanding dengan jumlah pengunjung. Tetapi ini pengunjungnya cuma kami bertiga. Dan saya lihat petugas mulai dari yang jaga pintu masuk, yang sekedar duduk-duduk, guide, dan yang di dalam kantor pusat informasi, ada lebih dari 10 orang totalnya. Tapi ya sudahlah. Kami juga ceroboh karena tidak banyak membaca informasi terlebih dahulu sebelum berkunjung.

rusa cagar alam pangandaran

Dari cagar alam Pangandaran, kami lalu makan siang di Mie Baso Acip Pangandaran. Rasanya enak, bumbunya chinese. Saya makan bihun baso (Rp. 22.000,-), dan suami mie ayam (Rp. 17.000,-). Memutuskan makan baso, karena saya lihat kebanyakan rumah makan menawarkan sea food di sisi Pantai Barat Pangandaran, dan kesulitan menemukan yang ala-ala warteg gitu. Kalaupun ada warteg, saya nyarinya juga yang ada sayur bayem atau sop-nya buat Diana. Kalau nggak ada, ya baso solusinya, hahaha.

Diana ke pantai pangandaran

Setelah makan, ya tentu saja maen ke pantai sampai sore. Rencananya sih sampai mau lihat sunset (yang kemarin gagal karena mendung), eh, hari kedua ini malah masih jam empatan udah mau gerimis aja. Balik lagi ke hotel, dan suami sama anak melanjutkan dengan berenang. Saya memilih mandi dan beres-beres baju kotor, biar besok nggak gedubrakan kalau mau packing sebelum check out. Oiya, sama satu lagi, twitteran! Wi-fi di The Arnawa Hotel ini kenceng abis! *acungin dua jempol*

Malam kedua kami di Pangandaran, hujan semalaman dan sangat deras. Cocok buat tidur nyenyak sampai pagi. *eh* Saat sarapanpun, masih gerimis mengundang gitu. Praktis, sehabis makan juga kami habiskan di dalam kamar saja sambil packing.

Kami check out sekitar jam 11.00, dan langsung menuju Masjid Raya Pangandaran. Perhitungan saya, akan pas gitu, setelah Jumatan, makan siang, dan kami akan naik bus jam satu siang. Entah data dari mana saya dapatkan, saya yakin saja akan ada bis menuju Jakarta jam 13.00. Ternyata oh ternyata, bis itu adanya jam 19.00! Ini perlu di-bolt, italic sekaligus underlinebis umum dari Pangandaran menuju Jakarta itu adanya dua kali saja: pagi hari dan malam hari! Dari 10 orang yang saya tanya, sepuluh-sepuluhnya pasti memberikan jawaban yang berbeda! Pagi itu sekitar jam 06.00 hingga jam 08.00 (lebih baik kepagian ada di terminal daripada ketinggalan bis sih, menurut saya) dan sore itu bis pertama yang saya lihat jalan itu menjelang maghrib. Dan bis Gapuraning Rahayu (non AC, harga Rp. 85.000,- per orang, Desember 2014) tiba di terminal Pangandaran ketika jam menunjukkan pukul 19.00. Saya memilih langsung naik, karena informasi yang simpang siur, menyebutkan bus AC akan datang jam 20.00 tetapi siapa yang akan menjamin akan datang? Kalau nggak ada, apakah saya akan menginap semalam lagi, setelah sesiangan gentayangan antara terminal dan Masjid Agung Pangandaran sambil bawa bayi? No way!

Bis non AC ini kata suami saya rutenya ‘asal’, nyari penumpang mblusuk-mblusuk, nggak kayak yang AC waktu saya berangkat. Saat berangkat, waktu tempuh yang kami butuhkan 7 jam, sedangkan pulangnya harus kami tempuh setidaknya 10 jam perjalanan. Yang patut disyukuri adalah Diana nggak rewel, dan kami bertiga menjadi lebih dekat lagi sebagai sebuah keluarga dengan beberapa pengalaman-pengalaman baru yang bisa didapat. Senangnya kalau jalan-jalan begini. Berjam-jam memangku dan menggendong anak seberat hampir 20 kilogram ini tetep aja rela dan malah pengen banget segera mengulanginya. Jadi, ke mana lagi kita?

Tulisan ini sudah 7,228 kali dibaca

14 thoughts on “Diana Ke Pantai Pangandaran, Yay!

  1. Panjan sekali postingannya, dan aku baca tuntas semuanya hahaha..

    Keseruan liburan tanpa ikut jasa travel itu enaknya begini ya, bisa diceritakan ples minesnya, bisa diceritakan keajaiban2 yg terjadi yg tak terduga..

    Tapi aku kok belum berani ya liburan sendirian tanpa travel haha.. Maklum diriku ini check in hotel aja gak ngerti caranya, sooooo.. mohon dimaklumi kakak hahahahaha

    1. Enak banget, Kak, jalan-jalan sendiri tanpa travel agent. Emang sih, jatoh di biayanya jadi lebih tinggi. Tapi kita bebas nentuin mau ke mana jam berapa, tanpa harus merasa terburu-buru.

    1. Hihihi, saya jalan-jalannya masih yang deket-deket aja, kok. Ayuk, ngebolang bareng yuk, kapan-kapan aku ke Surabaya.

  2. Sueneng banget liat keceriaan Diana si princess bisa melebur enjoy bareng ortunya- pecinta travelling 🙂 en tengkyu ya mak dapat informasi lengkap sputar trip Pangandaran secara eksklusive plus komplit. Two thumb 4 u.

  3. Baca tulisan Mak Isnu, jadi inget jalan-jalan kami ke Pangandaran jelang Tahun Baru 2013. Emang seru di sana. Lamanya perjalanan terobati begitu tiba di lokasi. Met liburan lagi, Mak !

    1. Iya nih, keren juga ternyata Diana. Cuma kalo mau muji-muji terlalu banyak, ntar ada yang nyinyir, “Namanya juga anak sendiri, pastilah dipuji.” Hahahaha.

  4. Idiiiiih Diana udah sampai Pangandaran, aku beluuum :(( Asik ini hotelnya krn ada kolam renangnya. Penting banget itu utk keluargaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *