Cerita Mudik Lebaran Tahun Ini

Mudik Lebaran tahun ini, kami naik kereta api ekonomi, baliknya ke Jakarta baru naik kereta bisnis. Karena udah biasa naik kereta api ekonomi, ya biasa-biasa aja sih, nggak ada kekhawatiran Diana bakal nggak nyaman. Terjauh naik kereta ekonomi itu waktu libur Lebaran tahun lalu, sebelum ke kampung mampir dulu ke Batu.

Libur tahun ini nggak bisa terlalu lama, cuma 12 hari, jadi kami nggak jalan-jalan dulu, langsung pulang kampung aja.

Berangkat dari rumah naik taksi dan sesampainya di Stasiun Senen, kaget karena bayarnya jauh lebih murah dari tahun lalu. Tahun lalu kalau nggak salah tarifnya sekitar seratus lima puluh ribu rupiah, padahal jalanan lancar. Tahun ini cuma habis sembilan puluh ribu rupiah aja, padahal sepanjang jalan macet. Kok aneh ya? Malah turun drastis ongkos taksinya?

Sepanjang jalan di dalam taksi Diana tidur, jadinya sesampainya di Stasiun Senen malah sedikit manyun dan rewel. Apalagi, keretanya masih lama. Untung sudah boleh masuk peron dan setengah jam kemudian kereta masuk. Nggak papa deh nunggu di atas kereta satu jam sebelum berangkat, yang penting sudah tenang ada di atas kereta.

Tidur di Kereta Api

Persiapan saya sebelum naik kereta api ekonomi sih sudah pasti ya, bawa koran buat alas tidur. Sebenernya bisa sih, kalau mau lebih nyaman, bertiga perginya, tapi beli tiket empat orang. Pilih dua baris berhadapan. Biar Diana bisa tidur selonjoran di dua tempat duduk, sedangkan kami tetep bisa duduk di kursi satunya lagi.

Tapi kan lumayan ya, dua ratus lima puluh ribu sendiri yang harus dibayar supaya Diana bisa tidur nyaman dan orang tuanya tetep duduk.

Jadi, biasanya saya pilih ikutan tidur di kolong tempat duduk. Meskipun lantai kereta sangatlah keras, tapi saya malah pilih tidur di bawah dari pada duduk sepanjang malam. Di kolong, bisa merem sambil selonjoran. Kalau di kursi, tidur sambil duduk itu pegelnya ampun.

Mudik Lebaran Tahun 2016

Selama perjalanan dengan kereta yang sudah kami lalui bertiga selama ini, hasilnya aman semua. Diana palingan rewel saat nunggu kereta jalan, sama kalau kereta berhenti pas dia bangun. Pasti pertanyaannya, “Ma udah sampai ya, Ma?” Tapi kalau kereta jalan sih, udah diem lagi.

Baru sesampainya di rumah, ribut minta baliknya ke Jakarta nanti naik pesawat aja. Halah, Nak. Tiket keretanya udah dibeli dari 3 bulan yang lalu. Kalau diubah lagi tiket kereta apinya, dibalikin duitnya rugi 25% dan rugi waktu begadang 2 malam berturut-turut nggak tidur demi rebutan nyari tiket.

Ntar aja lah, naik pesawatnya kapan-kapan aja kalau kita mau jalan-jalan entah ke mana. Hahaha. Belom ada rencana mau pergi-pergian, karena duitnya masih dikonsentrasiin ke suatu pos. Lumayan, THR kemaren juga cuma kepake dikit buat Lebaran, sisanya ditabung aja. 😉

Naik kereta sekarang ini udah jauh lebih nyamanlah dibandingin sepuluh duapuluh tahun lalu. Kalau sepuluh duapuluh tahun lalu aja udah lulus naik kereta Klaten Jakarta PP, ya berarti nggak ada masalah naik kereta sekarang-sekarang ini.

Paling yang nggak kuat dinginnya aja. Dinginnya ampun dah. Dan kemaren ini agak heran karena restorasinya cuma buka aja, tapi petugasnya pada nggak keliling nawarin makanan dan bantal. Hadeh. Jalan 6 gerbong buat sewa bantal. Makanan sih kemaren ini bawa dari rumah. Lagi waras, masak rajin.

Meski telat sedikit, tetep nyamanlah naik kereta api ekonomi dari Jakarta ini. Sampai Jakarta mulai nabung harusnya nih, biar tahun depan bisa mudik naik pesawat. Aamiin.

Tulisan ini sudah 731 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *