Masih Menahan Diri Bepergian Jauh Membawa Bayi

Jalan-jalan dalam jarak dekat sudah pernah saya lakukan bersama bayi saya, dedek Diana. Mulai dari menghadiri acara di Pekan Raya Jakarta, acara di Parkir Timur Senayan, sampai naik angkutan umum ke rumah simbahnya di Cikarang. Dan alhamdulillah semuanya lancar, dedek Diana anteng, nggak rewel.

Rencana untuk mengajak jalan-jalan dedek Diana ke tujuan yang lebih jauh lagi bukannya nggak pernah terbayang. Saya dan suami malah sudah sering berdiskusi, berandai-andai bisa membawa dedek Diana ke daerah A, B dan C beserta kemungkinan resiko-resikonya. Dan semua berakhir hanya di batas rencana, karena kami memang belum yakin akan mampu membuat bayi yang baru berusia 3,5 bulan ini nyaman di dalam perjalanan jauh.

Mungkin yang pertama akan kami jadikan test perjalanan jauh adalah naik kereta api ke kampung halaman, Klaten. Atau, 6 jam naik bus damri ke pulau seberang, Lampung, seperti yang sudah lama kami rencanakan dan masih tertunda. Meski simbahnya dedek Diana sebulan sekali pulang ke Klaten membawa mobil pribadi, saya nggak tertarik buat nebeng, karena males beli car seat yang mahal itu. Lagipula, susah meminta simbahnya dedek Diana sering berhenti selama perjalanan, maunya wuzz sekali jalan sampai tujuan. :mrgreen:

Keinginan jalan-jalan ini sepertinya masih akan tertunda cukup lama, sebelum bayi saya benar-benar siap. Karena malas juga kalau habis bersenang-senang, pulangnya malah sakit. Ya emaknya yang bisa jadi kecapean, ya bayinya juga siapa tau masih belum kuat.

Membayangkan barang bawaan yang harus saya siapkan untuk bayi selama 2 atau 3 hari saja rasanya sudah malas. Harus bawa baju, popok, selimut, topi, perlak, peralatan mandi, gendongan dan jaket bayi, itu sudah bisa satu tas besar sendiri. Belum lagi baju saya dan suami. Masih menyusui begini kan baju saya nggak bisa kalau dipakai terus menerus dalam satu hari, karena bakalan “bau asi” kalo terkena rembesan. Jadi, menggendong bayi ditambah menenteng barang bawaan yang seabrek, memang menurunkan minat untuk membawa bayi bepergian jauh.

bayi dan mamanya

Ya sudahlah, untuk sementara memang lebih baik mendekap bayi saya di dalam kamar saja untuk beberapa bulan ke depan. Nanti pasti kita jalan-jalan bareng, Nak..

Yang Dimasukkan Tas Melahirkan

Jadi flashback deh saat-saat persiapan mau melahirkan dedek Diana 3 bulan yang lalu. Niat awalnya sih mau melahirkan secara normal ya, tapi akhirnya saya harus melahirkan secara caesar. Persiapannya udah mateng bener padahal, dan bertahan lama menunggu kelahiran bayi sampai pembukaan 5. Tapi berhubung nggak nambah-nambah pembukaannya 5 mulu hingga 8 jam, yasudahlah ya, caesar aja.

Yang saya masukkan ke dalam tas melahirkan nggak banyak. Sekali lagi, semua tergantung kebutuhan masing-masing ya. Seperti yang sudah pernah saya tulis, kan ada orang yang pada dasarnya suka rempong, dan ada juga yang praktis. Yuk mari, saya tulis satu per satu, mana barang yang akhirnya kepakai, dan mana yang bisa ditinggal saja di rumah.

Perlengkapan mandi dan baju ganti buat suami yang menunggu kita di rumah sakit itu wajib banget buat dibawa. Suami kan nggak mungkin kepikiran buat nyiapin keperluannya sendiri, jadi musti kita yang siap menghitung kira-kira berapa banyak celana panjang, kemeja atau kaos untuk dipakai selama dia di rumah sakit. Saya bawa 2 stel saja, karena hari pertama kan nggak perlu ganti baju, sebelum berangkat sudah mandi dan pakai baju bersih.

Charger juga penting. Jangan sampai mati gaya kehabisan batre. Dan saya menyesal kenapa saya nggak bawa ipod. Yap, supaya tenang, harusnya mendengarkan musik dan nggak mendengar suara duniawi lainnya. Saya lupa, jadinya nggak bisa konsentrasi full pas nunggu pembukaan bertambah karena masih bisa mendengar suara orang. Musik pasti bisa menenangkan, dan siapin playlist lagu-lagu kesukaan.

Perlengkapan bayi juga wajib bawa, setidaknya buat bawa bayi pulang. Baju bayi, bedong, selimut, topi, kaos kaki dan sarung tangan bayi. Diapers juga kalau mau bawa dari rumah boleh, beli di rumah sakit juga biasanya ada.

diana bayi lucu

Habis melahirkan kan kita bakalan menyusui bayi, jadi jangan lupa bawa bajunya yang berkancing depan, biar gampang bukanya. Kalau saya pilih daster yang ada restletingnya sampai ke puser itu, lebih praktis lagi pakainya karena nggak ribet harus buka tutup satu-satu kancing baju. Tinggal sret-sret kalau mau buka tutup. Beli aja online kalau mau, cari “daster malang” biasanya ada. BHnya beli yang BH menyusui ya, jangan BH yang biasa dipakai. Pembalut nifas saya pakai yang biasa dipakai saat menstruasi malam hari yang panjang itu lho.. :mrgreen:

Buat pulang dari rumah sakit, siapin saja baju satu stel. Saya bawa satu celana panjang dan kemeja kancing depan satu buah, siapa tau bayinya di jalan minta nenen.

Yang saya bawa dan akhirnya nggak kepakai adalah kain jarik, karena gendongnya cukup dibopong pakai selimut bayi aja yang ada penutup kepalanya itu. Kan cuma dari ruangan rumah sakit sampai parkiran. Trus, breast pump juga nggak kepakai, karena sehari setelah operasi caesar saya langsung pulang. Jadi proses memerah asi dilakukukan di rumah.

Itu doang sih sebenernya yang perlu buat saya. Kalau kebanyakan barang malah ribet bongkar muat tasnya. Oh iya, usahakan saat memasukkan, meletakkan barang-barangnya teratur, mana yang keperluan kita, mana barang untuk suami, dan mana barang-barang yang akan dipakai sama bayi. Jadi nanti tinggal ambil aja, nggak perlu ngaduk-ngaduk tas. Tas melahirkan juga harus dikomunikasikan sama suami, jadi nanti saat berangkat, siapa tahu kita sudah nggak sanggup bawa, tinggal bilang sama suami dia sudah ngerti dan nggak salah bawa tas.

Kalau teman-teman, apa saja yang menurutmu perlu dimasukkan ke dalam tas melahirkan?

Hamil 39 Minggu, Masih Belum Merasa Mau Melahirkan

Minggu ini, kehamilan saya memasuki minggu ke 39. Sampai sekarang masih belum merasakan tanda-tanda hendak terjadi persalinan. Seperti yang saya baca, saat usia kehamilan 39 minggu, janin sudah berada pada posisinya, di panggul dan siap untuk hadir di dunia. Ibu hamil akan mulai merasakan kontraksi, ditandai dengan mengencangnya perut, dan seringkali punggung bagian bawah menjadi terasa pegal-pegal.

Soal kontraksi, karena belum pernah merasakan sebelumnya, ya saya tidak tahu gimana rasanya. Kepikiran juga, jangan-jangan selama ini saya sudah pernah kontraksi, hanya saja memang nggak ngeh kalau itu adalah kontraksi.

Hamil 39 Minggu Masih Belum Merasa Mau Melahirkan

Yang saya lakukan, ya hanya banyak-banyak jalan kaki seperti nasihat dokter yang diberikan kepada saya. Mau ke warung buat beli sesuatu aja, kadang muter cari jalan yang jauh, sekalian olahraga. Dan juga, masih naik turun tangga beberapa kali sehari karena kamar berada di lantai atas (lantai 2). Lumayanlah, bikin kaki kadang pegel-pegel juga, hehe…

Satu yang agak menjadi masalah buat saya, adalah rasa gerah yang tiada habisnya. Kalau sudah di rumah, bawaannya ngadem aja di dalam kamar. Pendingin ruangan saya setel di angka 24 derajat Celcius, di mana suami sudah merasa kedinginan dengan kondisi seperti itu. Saya sendiri masih ngerasa gerah dan panas.

Hamil 39 Minggu

Soal makan, porsi nasi sudah mulai saya kurangi. Beberapa orang memang menyarankan seperti itu, supaya bayinya nggak kegedean nantinya. Saat usia kandungan saya 37 minggu, berat janin di dalam perut sudah mencapai 2.800 gram. Tulisan ini saya buat sesaat sebelum memeriksakan diri ke dokter saat usia kandungan 39 minggu, jadi belum tahu beratnya saat ini menjadi berapa gram. Mudah-mudahan jangan terlalu besar ya, karena saya sadar diri, dengan ukuran badan yang sangat kecil (baca: kurus) seperti ini, dengan panggul yang tak lebar, kalau ukuran dedek bayi-nya besar, bisa-bisa kesulitan mengeluarkannya.

Aktivitas di luar rumah juga sesekali masih saya lakukan. Ke kantor dalam seminggu masih saya lakukan dua hingga tiga kali *ngikik, bos saya baik ya*. Itu itungannya saya masih masuk kerja lho.. Di rumah, kalau nggak masuk kantor, ya tetep melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya. Maklum, belum sanggup bayar asisten rumah tangga. Kondisi rumah, ya tau sendirilah! Ditambah beberapa kantong belanjaan persiapan buat dedek bayi, kamar jadi makin penuh, dan makin berantakan kayak kapal pecah, hahaha