Bayiku Sudah Sampai Puncak Gunung Padang

Saya ini terlalu banyak baca blog. Blog perjalanan teman-teman blogger terutama. Dan kalau sudah berhasil menemukan tempat yang menarik, saya akan menggali lebih dalam lagi tentang objek wisata tersebut, dengan cara membaca puluhan (bahkan bisa ratusan) blog lainnya.

Termasuk, Situs Megalitikum Gunung Padang. Yang katanya berasal dari tahun (hingga) 25.000 SM (sebelum masehi!) Peradapan di Mesopotamia Mesir saja itu di tahun 4.000 SM dan Candi Prambanan dibangun sekitar tahun 800 Masehi. Kebayang kan betapa tuanya Situs Gunung Padang?

Meski lapisan di Gunung Padang diperkirakan berasal dari tahun yang berbeda, paling atas 600 SM, lalu di bawahnya 4.900 SM, di bawahnya lagi 11.500 SM dan yang paling bawah 25.000 SM, mulut saya menganga aja baca tulisan demi tulisan yang ada, sambil terkadang juga nggak percaya begitu saja. Biasalah, kadang banyak hoax juga di sekitar kita yang kita telen mentah-mentah. Iya nggak sik? Dan menariknya juga, saya mengikuti perdebatan dari orang-orang yang merasa berkepentingan terhadap situs ini. Para ahli, pimpinan negara, beberapa website terpercaya menulis juga tentang Gunung Padang, yang perkembangan terbaru hari ini sudah ada 2 buah Peraturan Gubernur Jawa Barat diterbitkan tentangnya.

Begitu diajakin sama suami buat ke sana, saya langsung setuju saja. Deket ini dari Jakarta, pikir saya. Cuma di Cianjur doang. Pas membaca lebih detail catatan blogger lain, baru saya sadar, medannya sangatlah berat. Sangat-sangat berat. Jalannya ancur-ancuran. Saya sedikit bimbang, apakah Diana sanggup jika diajak ke naik ke Gunung Padang. Tetapi karena duit terlanjut ditransfer, dan sebagai emak pelit irit saya merasa sayang kalau duitnya hangus, ya sudahlah ya, berangkat saja.

Sengaja, saya mengikuti sebuah travel agency, karena kalau ngeteng, dipastikan menderita bo‘. Berapa lama buat jalan-jalan ke Gunung Padang yang ada di Cianjur ini? Judulnya sih one day traveling yang biasanya orang berangkat pagi pulang sore, tapi pada kenyataannya, saya keluar rumah jam 04.30 dan kembali masuk ke rumah jam 12.30 tengah malam!

Gimana dengan Diana? WOW, sebagai emaknya, saya sangat bangga dan mengacungkan 2 jempol padanya. Tak sekalipun dia nangis di dalam perjalanan. 25 orang peserta trip lainnya (yang masih pada single) bisa jadi saksi, dan mungkin mereka akan memberikan 4 jempol miliknya ketika mereka sudah memiliki anak nantinya dan mengingat perjalanan mereka bersama Diana. Hahahahaha, sesekali jadi emak-emak sombong boleh lah ya…

Ketik sajalah di Google tentang Gunung Padang, dan rata-rata traveler menceritakan bagaimana beratnya buat mencapai puncaknya. Itu, mereka masih muda dan sendiri pula! Bagaimana bawa bayi semontok Diana supaya bisa nangkring di atas, dan anaknya dengan ceria difotoin seperti itu?

Wah, puasnya nggak terkiralah! Pegal di pundak dan kaku di betis tiba-tiba ilang begitu saya lihat fotonya dan nulis tulisan ini.

Berarti nanti Diana sudah bisa diajak naik sampai puncak Gunung Api Purba Nglanggeran nih!

Tulisan ini sudah 5,736 kali dibaca

14 thoughts on “Bayiku Sudah Sampai Puncak Gunung Padang

  1. Gunung Padang baguuuuus 🙂 dan saya tau ga gampang bawa anak kesana dengan medan kayak begitu, naik ratusan anak tangga 😀 hebat nih mba, saluut 🙂

  2. ya ampuuun, keren amat anaknya si emak jalan sendiri ampe atas gunung… *pake bantuan batman kali ye,… btw, saluut mak, bawa anak ke gunung…gimna persiapannya ya..can’t imagine…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *