Bayiku Sudah Bisa Tepuk Tangan Sendiri

“Selamat pagi,” sapa saya kepada Diana. Seperti biasa, dia langsung berusaha duduk ketika membuka kedua matanya.

Ngoceh-ngoceh sebentar, yang entah itu pakai bahasa apa. Tapi saya menanggapinya seolah-olah tahu betul apa yang dia katakan. “Iya, dedek boboknya nyenyak ya? Mimpi apa, Nak, tadi malam?” tanya saya.

Selanjutnya, pastilah langsung berusaha berdiri dengan bertopang pada kedua tangan saya. Kakinya sudah bisa menopang berat badannya sendiri dan berdiri tegak. Tetapi belum bisa terlalu lama. Merambat-rambat sebentar, lalu seperti menubruk saya, mencium-mencium, dan kembali terduduk. Rasanya bahagia sekali buat pagi saya.

Ngomongin soal ‘keahlian’ barunya, Diana sekarang ini sudah bisa bertepuk tangan sendiri. Saya nggak yakin, umur berapa bayi seharusnya bisa bertepuk tangan sendiri, karena bacaan antara satu dan lainnya berbeda. Mana yang bisa dijadikan patokan?

Plok-plok-plok, suaranya sudah lumayan keras, tandanya jari tangannya sudah tidak lagi melengkung ketika kedua tangannya bertemu. Pinternya, Diana!

Selanjutnya saya akan melatih motorik halusnya untuk bayi usia 9 bulan yang seharusnya sudah mampu mengambil barang-barang kecil seperti kismis atau kacang dengan tangannya. Saya coba dengan isi buah semangka, Diana bisa. Tapi saya lupa kalau biji semangka itu basah (bekas air buah masih ada) sehingga bisa jadi isi tersebut menempel secara otomatis di tangan Diana, bukan karena diambil.

Berhubung di rumah nggak ada kacang atau kismis, terpaksa deh sampai sekarang saya belum bisa memastikan Diana mampu menjumput benda-benda kecil itu atau belum. Ntar ah, lagian Diana juga belum 9 tahun, hehehe…

Oiya, cerita satu lagi adalah soal cium-mencium, sayang-sayangan. Selama ini saya selalu penasaran, kenapa kalau saya minta cium, bulannya mulut yang dimajuin buat ditempel di pipi saya, tapi malah kening Diana yang maju duluan.

Saya pikir, owh mungkin memang semua bayi bakalan begitu step-stepnya dalam mencium. Karena belum bisa memonyongkan bibirnya, ya jadilah ‘bathuk’ alias kening yang nyosor duluan. Sampai pada suatu sore ketika saya lagi nggak masuk kerja, simbahnya Diana yang biasa momong di siang hari becanda-becanda sama Diana minta dicium. Simbahnya juga memajukan kening saat mengucapkan ‘sayang-sayang’, hahahaha…

Owalaaah, ternyata memang begitu diajarinya. 😆

Pantesan sayang dan cium itu langsung disodorin dengan kening. Ya sudah, biar anaknya juga nggak bingung, saya yang menyesuaikan dengan tidak berharap mendapatkan bibir saat bilang sayang dan cium. Lagian, kalau bibirnya yang maju, seringkali ditambah bonus gigitan. :mrgreen:

Aaahh, senangnya dicium bayi sendiri. *tepuk tangan buat Diana*

Tulisan ini sudah 6,924 kali dibaca

One thought on “Bayiku Sudah Bisa Tepuk Tangan Sendiri

  1. pinter ya diana.. kalau arfa kayanya telat deh mba baru sekarang di usia setahunan pinternya keluar pinter ngoceh, sayang sayangan, tepuk tangan, dadah dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *